ADA CINTA.

ADA CINTA.
Bab 11


__ADS_3

Pagi yang cerah, dimana matahari mulai menyapa penduduk bumi. Karena hari ini senin, Windy harus kembali menjalani aktivitas sekolahnya.


"Dek, uda belum sarapannya?" Windy yang sudah mengenakan seragam sekolah serta tas ransel, berjalan ke tempat dimana selatunya diletakkan.


"Uda, buru-buru banget sih kakak." Lita bangkit dari kursi, berjalan menghampiri Windy.


Windy membuka pintu rumah lalu menoleh ke arah Lita. "Kalau gak buru-buru nanti telat! Emang kamu mau kalau telat, trus di hukum?"


"Iya ... iya ... gamau kak." Tangan Lita masoh sibuk mengikat tali sepatunya.


Reza menelan salivanya, saat Ia berjumpa dengan Windy di depan rumah. Sekarang Windy berdiri tepat di hadapan Reza.


"Eh Kak Reza! Oh kak Windy buru-buru, karena di tungguin Kak Reza!?" ledek Lita, saat ia keluar dan melihat kedua orang itu hanya berdiri diam.


"Hah?" Reza menatap Windy dan mengakat satu alisnya bingung.


"Ngak Dek! Ngasal aja kalau ngomong," bantah Windy sembari mencubit hidung adiknya pelan.


Reza yang tadinya hanya berdiam diri, kini mulai berjalan meninggalkan Lita dan Windy.


Lita melihat Reza berjalan pergi meninggalkan ia dan Windy, langsung berteriak "Kak Reza! Bareng dong, berangkatnya!"


Reza menghentikan langkah kakinya, saat mendengar suara teriakan Lita. Ia menoleh ke belakang menatap datar ke arah Lita dan Windy.


"Dek, ngapain sih teriak-teriak," tegur Windy.


"Ayo jalan Kak! Katanya takut telat," Lita berlari menyusul Reza yang masih berdiri diam.


"Jangan lari-lari Dek! " Windy berjalan cepat untuk mengejar adiknya itu.


Windy, Reza, dan Lita. Ketiganya berjalan bersama menuju sekolah. Dimana Windy dan Lita berjalan tepat di belakang Reza.


"Kak, kok tadi pagi-pagi bunda gak ada? " tanya Lita penasaran.


"Bunda pagi-pagi uda ke toko kue, buat tambahin stok kue," balas Lita.


"Oh ya, Kak Reza! Nanti kapan-kapan coba mampir ke toko kue bunda deh, kue buatan Bunda enak-enak lohh!" Lita tersenyum saat Reza menatap dirinya dengan raut datar.


"Oh mama kamu, buka toko kue?" tutur Reza.


"Iya Kak, mampir ya kak! kapan-kapan," ucap Lita.


"Iya, kapan-kapan Kakak mampir," ujar Reza dengan senyum tipis.


✺ ✺ ✺ ✺


Sekitar 15 menit berlalu, Windy, Lita dan Reza tiba di sekolah. Lita sudah berpisah dengan Reza dan Windy. Sekarang Reza berjalan menuju gedung SMA diikuti Windy di belakangnya.


"Reza!" panggil Windy


"What?" Reza menghentikan langkhanya, lalu menoleh ke belakang.


"Nanti, kamu mau bolos lagi, di jam pelajaran pertama?" tanya Windy takut-takut.


"Iya," balas Reza singkat.


Windy menarik nafas berat. "Rez ... bentar lagi uda mau ujian, terus kamu tetap mau bolos?"


"Itu urusan gw Win. Uda gw bilang,jangan suka ikut campur." Reza menatap jengkel Windy, ia berjalan kembali meninggalkan Windy dibelakang.


Windy menatap punggu Reza yang mulai menjauh, Ia hanya bisa terdiam dan melanjutakan langkahnya menuju kelas. Hingga Ia tiba di depan kelas, tanganya membuka pintu kelas lalu masuk. Seperti biasa kelas sudah ramai diisi oleh murid-murid.


Windy terus melangkah hingga ia berhenti di depan tempat duduknya. Ia melepaskan tas yang Ia gendong, lalu Ia letakkan tas tersebut ke atas meja.

__ADS_1


"Pagi, Win,"sapa Angela senyum.


"Pagi Ngel. Gimana mama mu, uda sembuh sekarang?" tutur Windy sembari menduduki diri.


"Uda lewat dua minggu lebih, jadi mamaku uda bisa beraktivitas seperti biasa sekarang," ucap Angela.


"Syukur deh." Windy tersenyum senang.


"Win, kan bentar lagi uda mau ujian, mau belajar bareng gak sama aku dan Rendy?" tanya Angela.


"Boleh. Eh bentar deh, tadi kamu bilang Rendy? sejak kapan kalian berdua jadi deket?" Windy menatap Angela curiga.


Saat Windy menanti jawaban Angela bel masuk langsung berbunyi, beberapa detik setelahnya Pak Samat si guru killer masuk ke kelas. Terpaksa Windy harus menahan rasa penasarannya sampai jam Istirahat tiba, karena hari ini Pak Samat mengajar kelasnya sampai jam istirahat.


"Siap berdiri, beri salam!" seru Felix, saat pak samat sudah berdiri di depan kelas.


"SELAMAT PAGI PAK!" Serentak seru semua murid di kelas dengan suara lantang, bukan karena mereka semangat untuk belajar melaikan guru yang berdiri di hadapan mereka ada pak samat si guru killer


"Selamat pagi, karena sebentar lagi ujian, jadi hari ini saya akan memberikan kisi-kisi terlebih dahulu. Nanti setelah selesai kisi-kisi saya akan mengadakan kuis." Pak Samat bergerak menulis di papan tulis.


Lima belas menit, setelah Pak Samat selesai menulis di papan tulis. Ia memandang bangku kosong di sebelah Windy.


"Windy!" seru pak samat, membuat semua murid melirik ke arah Windy.


"Iya, Pak" Windy menatap Pak Samat.


"Kamu gak lupa kan sama hukuman yang saya berikan berikan. Saya tidak pernah membahasnya memang, tapi tetap saya tunggu!" tegas Pak Samat serius.


"Iya Pak, saya inget. Saya sedang berusaha pak," ujar Windy.


"Saya tunggu, sampai minggu depan ya!" Pak Samat tersenyum, bukan terlihat ramah namu terlihat menakutkan.


"Baik, Pak." balas Windy diiringin anggukan.


✺ ✺ ✺ ✺


Bel yang paling di tunggu-tunggu oleh semua murid pun bebunyi. Mereka yang tadinya tegang, tidak bersuara. Saat berada di ruangan yang sama dengan Pak Samat, akhirnya dapat bernafas lega.


"Oke, kalian boleh istirahat!" Pak Samat bangkit berdiri dari kursi, lalu berjalan meninggalkan kelas.


Saat melihat Pak Samat menghilang dari kelas, murid-murid langsung menjadi brutal. Ada yang menghampiri doi, nyanyi di kelas, dan keluar kelas untuk pergi ke kantin kantin.


"Ayo Win! ke kantin," ajak Angela, dengan posisi yang masih terduduk di bangku.


Windy menahan tangan Angela dan menatap serius. "Pertanyaan ku, belum kamj jawab."


"Pertanyaan yang mana ya, Win?" Angela bukan pura-pura lupa, tapi dia benar-benar lupa.


"Yang tentang Rendy," tutur Windy serius.


"Oh itu, waktu minggu kemarin si Rendy anterin aku ke rumah sakit. Dia nemenin aku sampai semalaman terus dia juga hibur aku biar tenang. Karena sikapnya yang perhatian, aku jadi baper deh," terang Windy pajang lebar.


"Terus sekarang, kalian uda jadian?" tanya Windy penasaran.


"Belum, tapi kita lagi masa pendeketan mungkin ... daan bentar lagi uda mau Ujian. Aku mau focus ke Study dulu," ungkap Angela yakin.


"Ku doain yang terbaik aja, buat kamu Ngel," Windy menepok pundak Angela pelan, memberi gadis itu dukungan.


"Iya, makasih Win. Ayoo ke kantin!" Angela bangkit dari kursi.


"Iya." Windy ikut berdiri.


Windy dan Angela melangkah keluar kelas, menuju kantin. Sesampai mereka di kantin yang ramai dan berisik bagaikan pasar. terlihat Rendy dari kejauhan yang menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Eh Ngel, aku mau beli roti dulu ya. Terus nanti aku balik duluan, soalnya mau samperin Reza. " ucap Windy, lalu pergi meninggalkan Angela.


"Eh, Win!" Angela menatap Windy yang berjalan menjauh.


"Hai! Ngel," sapa Rendy.


"Eh, hai Ren." Angela tersenyum kikuk.


"Ngel, tadi aku liat lu bareng Windy. Kok sekarang sendiri?" Rendy melirik sekeliling kantin.


"Windy uda pergi beli roti," ujar Angela.


"Lu gak mau makan? Mau berdiri disini tetrus?"


Rendy menaikkan satu alis, menatap Angela.


"Ini mau pesan nasi goreng kok," ungkap Angela senyym.


"Emang enak nasi goreng di kantin?" tanya Rendy heran. Pasalnya Ia pernah memesan nasi goreng di kantin, dan rasanya aneh.


✺ ✺ ✺ ✺


Windy menghentikan langkahnya, tepat di belakang sekolah. Mata gadis itu menangkap sosok Reza yang sedang duduk menyender pada tembok. Segera Windy berjalan menghampiri Reza. Gadis itu menduduki diri di atas ubin, tepat di samping kanan cowok berparas buke itum


"Nih buat kamu." Windy menyodorkan sebungkus roti ambon kepada Reza.


"Apaan nih? Lu mau racunin gw?" Reza menatap bingung Windy, namu tangannya bergerak menerima roti tersebut.


"Ngapain juga aku ngeracunin kamu. Itu tuh sebagai pemintaan maaf, buat semua kesalahan yang pernah ku buat. " celetuk Windy.


"Owh tau salah juga lu?" Reza membuka dan melahap roti ambon itum


" Yauda kalau gamau, sini balikin!" Windy menjulukan telapak tangan kepada Reza.


"Nih! gw balikin" Reza meletakkan plastik roti ke telapak tangan Windy.


kemudian Windy berdiri dan membuang plastik roti itu ke dalam tong sampah. Setelah kantong plastik roti ituterbuang, Windy menduduku diri kembali. "Jorok tahu gak!"


"Gak tahu! Gak mau tahu!" Reza terkekeh.


"Reza, kamu mau ikut belajar bareng gak? Buat persiapan ujian minggu depan, bareng Angela dan rendy," tanya Windy tiba-tiba.


Sambil melahap potongan roti terakhir, Reza menjawab, "Liat entar."


"Nanti kalau kamu ikut, aku bawain kue dari toko kue bundaku deh" tutur Windy senyum.


"Gausah lu bawain, gw juga bisa beli sendiri buat," celetuk Reza datar.


"Kalau aku yang bawain kan gratisss ... sss .... " Windy berucap, sampai-sampai salivanya keluar dari mulut dan mengenai wajah tampan Reza.


"Ishh ... muncrat! Nah sekarang siapa yang jorok?! " Reza berdiri untuk membersihkan wajahnya.


"Maaf, gak sengaja," cetus Windy sembari berdiri dan tertawa terbahak-bahak.


Kring ... kring .... bel masuk.


" Ethh, dah bel masuk. Bye aku ke kelas duluan!" Windy berjalan cepat meninggalkan Reza di belakang.


"Woi! Windy! Uda muncrat sekarang malah pergi" seru Reza seraya berlari mengejar Windy.


Windy yang mendengar teriakan Reza, langsung berlari agar Reza tidak dapat menangkap dirnya.


Bersambung ➳➳➳➳

__ADS_1


__ADS_2