
Pagi yang cerah, dimana matahari sudah terlihat menerangi bumi. Mendakan aktivitas manusia, harus kembali berjalan seperti biasa. Seperti aktivitas sekolah yang selalu di jalankan oleh gadis berambut panjang bernama Windy.
Windy sudah mengenakan seragam sekolah lengkap dengan atribut, serta tas ransel sudah tergendong di punggungnya. Tidak lupa rambut panjangnya dibiarkan terulai membuat menampilan gadis itu semakin terlihat sempurna.
"Bun ... Lita mana? Windy uda mau berangkat nih." Windy terduduk di kursi teras, tangannya sibuk mengikat tali sepatu.
"Lita uda berangkat duluan, tadi da di jemput temannya naik sepeda." Ana berdiri tepat di ambang pintu, dengan kedua tangan terlipat di bawah dada.
Windy bangkit dari kursi dan bergerak menyalimi tangan Ana_ibundanya. "Yauda Windy berangkat dulu ya bun."
"Iya hati-hati." Saat melihat putrinya melangkah mendekati pagar, Ana pun masuk kedalam rumah lalu menutup pintu rumahnya itu.
Windy berhenti tepat di depan pagar coklat, tanganya membuka sibuk membuka pagar. pagar terbuka Windy keluar dan berdiri di depan rumahnya untuk menutup kembali pintu pagar tersebut. Windy melirik ke kiri menyadari kehadiran Reza disebelahnya yang juga sedang melakukan aktivitas yang sema dengan dirinya.
"Reza!" Reza menghiraukan Windy.
Seusai pintu pagarnya berhasil tertutup, dengan cepat Reza berjalan meninggalkan Windy. Entalah, cowok berparas bule itu merasa jengkel saat berdekatan dengan gadis bernama Windy Anastasya itu.
"Reza! Reza! Tunggu bentar!" Reza mempercepat langkahnya, saat tahu Windy mengejar dirinya.
"Mau apa sih ... tuh cewek," gerutu Reza dalam hati.
"Cepat banget sih jalannya, uda kayak robot aja," gumam Windy.
"Reza ku salah apa sih sama kau?" tanya Windy yang berhasil mengejar Reza dan sekarang ia sudah berjalan di samping Reza.
"Pikir sendiri!" Reza sendiri juga bingung dimana letak kesalahan Windy, sehingga ia selalu merasa jengkel bila gadis ity berada di dekatnya.
Windy beracak kesal. "Aku mana tau! Oke, aku minta maaf kalau aku bikin kamu tersinggung."
"Bacot," celetuk Reza, datar.
"Aku harus apa, biar kamu gak cuekin aku lagi?" Windy tidak putus asa dan tidak sakit hati dengan respon yang diberikan Reza. Namanya juga Windy, gadis yang pantang menyerah.
"Pergi!" tagas Reza.
"Aku nanya baik-baik loh." Sekarang Windy menunjukkan senyum tercantiknya, berharap cowok di sampingnya akan luluh dengan senyumnya itu.
"Gw uda bilang ke lu berapa kali, jangan deketin gw lagi!" Sekarang dimata orang-orang yang berlalu lalang di sekitar Reza dan Windy, mengira bahwa Reza sedang menolak cinta Windy.
"Reza Wagner! Yang gantengnya kelewat batas ... gw harus apa!? " Windy merasa geli dengan ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.
Reza berdecak kesal. "Lu lompat dulu sana dari gedung sekolah!? Baru gw mau ngomong sama lu." Reza berjalan semakin cepat meninggalkan Windy di belakang.
"Oke! Kalau itu mau kamu!" Windy tidak lagi mengejar Reza yang sudah jaih didepannya. Sekarang Windy benar-benar terlihat seperti seorang gadis yang berjuang untuk mendapatkan cinta dari Reza.
✺ ✺ ✺ ✺
__ADS_1
"Reza! kamu mau kemana? Kelas di sini!" Itu suara Windy. Ia yang baru tiba di sekolah, melihat Reza berjalan melewati kelasnya.
"Berisik! Kangan suka ikut campur! Urusin hidup lu sendiri" Suara bentakan Reza membuat murid-murid yang ada di sana, melirik heran Windy dan Reza.
"Reza! Reza! Reza!" teriakan Windy dihiraukan oleh pemilik si nama.
Angela tiba-tiba keluar kelas karena mendengar suara teriakan Windy. "Kenapa win?"
"Gapapa Ngel, ayo masuk!" Windy berjalan masuk ke dalam kelas, melewatu tubuh Angela yang berdiri di ambang pintu.
"Gapapa gimana? Suara teriakan kamu aja sampai ke dalam kelas tadi," ujar Angela, khawatir.
"Serius gapapa Angela," tutur Windy sembari menduduki diri.
"Ini pasti gara-gara Reza kan?" Sebenarnya bukan hanya suara Windy saya yang terdengar sampai ke dalam kelas, tetapi suara Reza juga.
"Iya ... gara-gara Reza," ucap Windy, pasrah.
"Kenapa si Reza, Win?" Angela langsung duduk di kursinya cepat.
"Tadi pagi ku berpapasan sama Reza, trus aku tanya 'kenapa dia selalu cuekin aku terus, tiap kali aku ngomong sama dia' dan dia malah suruh aku mikir sendiri." Beberapa murid kelas melirik ke arah Windy dan Angela.
"Eh, terus kamu tau kenapa dia begitu?" tanya Angela, bingung.
"Ya gaklah ... dia nyuruh aku loncat dari gedung sekolah dulu, baru dia gak bersikap acuh lagi ke aku," jelas Windy, tidak bersemangat.
"Iya. Nanti waktu istirahat aku bakal ke atas gedung sekolah dan bilang ke semua murid kalau aku mau loncat ke bawah, biar Reza mau maafin kesalahan yang gak pernah aku tau itu," ucap Windy lirih.
"Kamu serius mau loncat? Emang kamu gak mikirin bunda kamu Win?" bisik Angela, khawatir.
"Gak Ngel. Aku cuma mau ancam Reza doang, lagian aku percaya kalau dia gam bakal biarin aku loncat kok," ujar Windy, yakin.
"Ia bener sih Win ... tapi kan nanti kamu bakal jadi bahan gosip murid-murid di sekolah ini," balas Angela.
"Biarin aja, aku gak peduli Ngel," tukas Windy, senyum.
"Yauda deh Win, aku percaya sama keputusan yang kamu ambil. Good luck Win!" Angela menepok-nepok pelan bahu Windy, memberikan semangatkepada temannya itu.
"Makasih Ngel," tutur Windy, senyum.
Windy melirik jam dingding yang melekat di dingding. Jam menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit. Itu sudah lewat jam masuk sekolah, tapi kenapa belum ada guru yang masuk ke kelas dan bel masuk juga tidak dibunyikan sejak tadi.
"Bentar deh Ngel. Dari tadi kita ngobrol lama banget, kok gurunya belum dateng-dateng ya?" tanya Windy, penasaran.
"Oh iya, lupa kasi tau kamu kalau
guru-guru lagi rapat buat acara retreat. Jadi semua kelas free time deh," jawab Angela seraya tertaawa kecil.
__ADS_1
"Retreat? Dulu di sekolah lama aku gak pernah asa tuh namanya acara retreat," ujar Windy.
"Nah! Untung kamu sekolah disini, jadi bisa ngerasain keseruan retreat. Terus pas pulang retreat pasti ada banyak pasangan baru,
siapa tau nanti kamu juga dapat cowk Win," balas Angela, terkekeh.
Windy ikut terkekeh. "Buset ... emang retreatnya kapan Ngel?"
"Sekitar satu bulan lagi," celetuk Angela, antusias.
"Yaelahh ... masih lama." Windy menarik kursinya agar mendekat ke meja.
"Terus Win, sebelum Retreat kita ada UTS!" pekik Angela.
Murid-murid lain yang berada di kelas itu, mendengar kata UTS yang keluar dari mulut Angela daan kata tersebut berhasil membuat mereka frustasi dalam waktu sekejap.
✺ ✺ ✺ ✺
"Mau ke kantin?" tanya Angela pada Windy.
" Maaf ngel, aku mau ke atas gedung sekolah." Windy kemudian berdiri dan berjalan pergi.
"Wah ... kamu mau ngelakuin rencananya sekarang?" Angela mengikuti Windy dari belakang.
"Iya. Duluan ya ngel, bye." Windy berlari meninggalkan Angela.
" Windy! tungg!"Angela berlari mengejar Windy.
"Kok kamu ikut Ngel?" Windy berhenti berlari saat mendengar suara Angela.
"Ya ... iyalah Win. Masa kamu mau melakukan sesuatu yang gila, terus aku nontonin doang." Angela mengikuti Windy untuk menaiki anak tangga.
Windy menoleh ke belakang dan tersenyum. "Ahh Angela ... makasihh, padahal kita baru kenal beberapa bulan tapi kamu uda baik banget sama aku."
Angela membalas senyum yang di lontarkan Windy. "Kamunya juga baik, gimana aku gak baik."
Windy memegang kedua pundak Angela. "Ngel aku mau minta tolong, boleh?"
Angela mengangguk. "Iya Win, boleh."
Windy menatap serius wajah Angela. "Aku mau minta tolong kamu sebarin ke murid-murid lain, kalau aku mau lompat dari atas gedung sekolah karena Reza, jadi biar si Reza dengar berita ini."
"Okee win." Angela beranjak pergi lalu menurunin anak tangga.
"Makasihh banyak Ngel!" seru Windy.
"Iya!" Angela mengancungkan jempol, walau tak terlihat oleh Windy.
__ADS_1
Bersambung → → → → → →