
Windy Anastasya yang sejak tadi menduduki diri di atas kursi. Kursi hitam yang terletak di depan jendela kamar. Kedua matanya menatap langit gelap, yang hanya di hiasi Bulan dan Bintang. Windy terhanyut dalam pikiran. Lita yang merebahkan diri di atas kasur, menatap bingung Windy.
" Kak Windy "
" Kak windy ! "
" Kak "
Windy menolah ke asal suara. " Apa sih " Windy menatap Lita kesal
" Kakak kesambet? " Lita mengertukan pelipis bingung
Windy berdecak kesal " kamu kali kesambet "
" Dih. Kak Windy ga sadar yaa, dari tadi uda duduk di situ, uda kek orang kesurapan"
Windy tidak memperdulikan ucapan Lita. Ia berdiri dari kursi, lalu melangkah ke arah kasur dan membaringkan diri ke atas kasur. Lagi - lagi Windy tenggelam dalam pikirannya. Lita melambaikan tangan ke depan wajah Windy, lalu menggoyangkan tangan Windy.
" Apaa lagi sih dek " Windy berdecak kesal
" Kaka punya hobby baru? " Tanya Lita dengan raut wajah polos
" Hobby baru ? "
" Iya hobby baru kakak.melamun "
" Lahh, kamu hobby nya rebahan mulu. Mentang -mentang uda libur sekolah, kerjaan nya di kasur mulu. Trus kalau keluar kamar cuma buat makan sama mandi "
" Kakak liat deh itu apa " Lita menunjukswbuah benda persegi panjang, yang terletak di atas meja
Windy melirik ke arah yang di tunjuk Lita. " Kaca " Ucap Windy bingung
" Nahh kakak ke situ, coba " Lita terkekeh
Windy menatap Lita bingung, pelisi nya mengerut
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
__ADS_1
" Astaga, punya adek satu. Kok kerjaan nya bikin naik darah " Nada Bicara windy meninggi. Lita semakin terkekeh
🌚🌚🌚🌚
Seperti biasa, Setiap libur sekolah. Rendy selalu menghabiskan waktunya di rumah Reza. Walau Rendy dan Reza sudah tau, bahwa mereka menyukai gadis yang sama, Hal itu tidak akan membuat perteman mereka rusak.
Sebelum kehadiran Windy, Mereka berdua memang sudah pernah berjanji. Bila suatu hari mereka jatuh cinta dengn gadis yang sama, mereka harus bersaing secara sehat. Yang artinya, mereka sama - sama berjuang untuk mendapatkan gadis tersebut, lalu sisanya biar Gadis itu yang memilih salah satu dari mereka.
Rendy menghentikan motornya di depan rumah Reza. Ia turun dari motor, lalu berjalan untuk membunyikan bel. Tak lama bel berbuyi, seorang perempuan paru baya pun keluar dari ruma, lalu membukakan pintu pagar.
" Eh den Rendy. Ayoo masuk " Ucap Bibi. Ia membuka pintu pagar lebar -lebar, agar rendy berserta motornya dapat melewati pintu pagar tersebut
Rendy mengangguk dan tersenyum. Ia menyalakan kembali motor miliknya lalu membawa masuk motor tersebut ke dalam teras rumah Reza.
Setelah motor tersebut sudah berhasil terpakir di teras rumah Reza. Rendy langsung mematikan mesin motor, dan turun dari motor tersebut.
" Reza di kamar kan bi ? " Rendy menoleh ke arah bibi, yang sedang sibuk menutup kembali pintu pagar.
" Iyaa, Den Reza di kamar. Langsung naik aja ke lantai dua " Seru Bibi. Kedua tangan nya masih sibuk mengunci pintu Pagar
" Iyaa, Makasihh bi " Ucap Rendy senyum. Segera Rendy berjalan masuk ke rumah Reza, lalu manaiki anak tangga. Sedang kan bibi, kembali ke dapur, Untuk menyiapkan makan malam untuk Reza.
Rendy sampai di depan pintu kamar Reza. Rendy membuka pintu coklat tersebut. Saat pintu kamar Reza berhasil terbuka, Rendy mendapati Reza yang sedang sibuk mengelus Si Putih. Si putih, kucing kesayangan milik Reza, yang selalu menemani Reza saat Ia kesepian.
" Ketok dulu kali, main masuk aja " Dumel Reza. Ia berbaring di kasur bersama Si Putih.
Reza berdecak kesal. " makanya ketok, biar ga biasaan "
" Gw datang buat main, bukan buat dengerin ocehan lu kali "
" Yauda sana tuh main sendiri, gw lagi ga mood " Reza menunjuk PS yang berada di bawah Television.
" Ga mood? Kek cewe lu " Rendy terkekeh
" Bacot " Reza meraih bantal yang terletak di samping nya, lalu di lemparlah bantak tersebut ke arah Rendy. Bantal yang di lempar Reza, tepat mengenain wajah tampan milik Rendy
" Fix. lu lagi PMS " Lagi - lagi Rendy terkekeh
" Minta di usir ? " Reza menaiki satu alisnya
" Ampunn bang " Rendy menaiki kedua jari miliknya, sehingga membuntu huruf V. Dan Rendy tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya itu.
" Uda tuh sana main, sendiri "
" Ogah, di kira gw apaan "
__ADS_1
" terserah " Tangan Reza meraih ponsel di nakas, lalu Reza maminkan ponsel tersebut
" Rez "
" Hmm "
" Lu sejak kapan, tau kalau gw ada perasaan ke Windy ? " Kedua bola mata Rendy, menatap Reza serius.
Reza meletakkan ponsel di miliknya di atas kasur " Sejak lu pura - pura sakit di tempat Retreat "
" Kok lu bisa tau ? " Rendy mengerutkan pelipis bingung
" Lu kira gw ga ngeliat. Pas mata lu selalu natap dian trus beberapa kali gw ngeliat lu ngestalk IG dia "
" Dan lu terima aja kalau Gw sama lu, suka cewe yang sama ? "
Reza yang tadinya terbaring di kasur, kini mengangkat tubuhnya, sehingga terduduk di atas kasur. Reza menghelai nafas dalam " Jangam lupa Ren, Kita uda pernah janji. Jangan cuma gara - gara satu cewe, pertemanan kita jadi hancur. Dan gw yakin Lu ga lupa, kalau kita udah pernah bahas ini "
Rendy terdiam sejenak, Ia mencerna baik -baik ucapan Reza. " Rez, maaf "
Reza menatap bingung Rendy " Maaf buat ? "
Rendy menghelai nafas berat " Maaf, karena awalnya gw mau bikin lu sama Windy dekat. Dan sekarang malah gw yang terjebak sama perasaan gw sendiri "
Reza tersenyum tipis " Kalau gw suruh lu, buat suka sama Angela bisa ga? "
" Ga lah Ogeb. "
" Nah itu lu tau sendiri "
Rendy mengacak - acak rambutnya " Kenapa hati manusia rumit banget sih "
" Tenang ren, lu ga usah merasa bersalah. karena gw uda yakin, gw bisa dapetin Windy " Reza tersenyum licik
Rendy yang mendengar kata -kata Reza, Ingin sekaling memberi satu pukulan kepada Reza. Rendy saat heran, bagaiman bisa teman baiknya ini, memiliki kepercayaan diri yang sangt tinggi.
" Lu Ka__ " Ucapan Rendy terpontong, karena suara ketokan pintu.
" Masuk " seru Reza
Pintu kamar terbuka, terlihat sosok perempuan paruh baya yang memakai daster, sedang melontarkan senyum " Den makanan nya uda siap, Ayo turun. Makan dulu "
Reza mengangguk paham dan membalas senyum kepada perempuan paruh baya itu, sebelum ia menghilang dari hadapan Reza.
" Turun Ren. makan " Reza melompat turun dari kasur, lalu keluar kamar dan berjalan menuju dapur, diikuti Rendy di belakangnya
__ADS_1
PS : Anoh, saya mau kasi bocoran. enam atau delapan chapter lagi, novel ini tamat. Ia sengaja saya percepat alurnya. Entalah saya lelah menulis, pengen break beberapa bulan, tapi ga tega ngegantungin leaders yang uda selalu nunggu, kasi comment, like, bangan selalu kasi semangat. Jadi say percepat tamatnya dan habis tamat, Baru saya bisa menghilang hihihi.
Saya ga pernah bosan buat bilang MAKASIHH, yapp makasihh buat leaders yaa selalu mau buang - buang waktu baca gaje ini, makasih buat setiap comment yang sellau buat saya semangat, makasihh buat likeny, dan makasihh buat ranting yang uda kalian berikan.