
Kelakuan kok, sama sekali nggak mencermin kan rupa. Wajah imut, mulut amsyong.
***
Hari ini, memang layak Bias cap, sebagai hari ter-sial untuk nya, terlebih saat ia beranjak masuk ke dalam kelas, menangkap sosok yang sama, sosok laki-laki super menyebalkan, yang sebelumnya sempat ia temui pada saat di koridor. Wajah nya seketika bertambah kesal, tahu, jika harus belajar satu ruangan dengan nya, ruangan yang sama mungkin sampai dua tahun ke depan, meski Bias harap, ia tidak akan satu kelas lagi dengan nya di tahun yang akan datang. Membayangkan nya saja ia sudah tidak sudi, apa lagi harus menjalaninya.
Rasa nya saat ini juga, ingin sekali Bias pindah kelas, namun apa daya, Tarisa terus melarang nya, membuatnya seketika tidak tega. Hingga akhirnya, bell istirahat, baru saja terdengar nyaring, memasuki kedua telinga nya, Bias seketika terlihat bangkit, beranjak dari tempat duduk nya. Langkah nya terhenti, saat seseorang tiba-tiba menyenggol tubuh nya, terkejut dengan tindakan nya, membuat gadis itu mendongak, menatap tajam sosok nya.
"Maksud lo apa? Ngajak ribut!" Ucap Bias, terlihat kesal, laki-laki itu terlihat mengabaikan nya, seolah tak melihat keberadaan nya. Tidak terima melihat respon nya, membuat darah nya seketika mendidih. "Woy! Crocodile!!" Teriak Bias tiba-tiba, seketika penghuni kelas terlihat mengalihkan pandangan nya, merasa tertarik dengan suara ribut dari salah satu teman nya, terkejut dengan tindakan Bias, membuat laki-laki itu seketika menatap ke arah nya.
"Sialan! Bener-bener, lo ya" Alvaro terlihat tidak terima, terus menatap Bias dengan tatapan tajam, sang gadis merasa tertantang, berbalik menatapnya tak kalah tajam. "Apa? Ngajak ribut!" Tanya Bias, seketika Alvaro menghela nafas berat, seperti nya akan sia-sia jika berdebat dengan gadis aneh dihadapan nya.
"Untung, lo cewek, kalo bukan,,"
"Kenapa kalo gue cewek? Lo takut!" Potong Bias dengan suara lantang, Alvaro benar-benar merasa kesal, bahkan seketika ingin sekali menjambak rambut panjangnya.
__ADS_1
"UHHHH!!" Celetuk teman-temannya kompak, merasa antusias, dan terpancing, menyaksikan kedua teman nya yang terus berselisih. Seperti nya mereka menganggap hal ini, adalah tontonan gratis, yang sangat menyenangkan.
"B-I-A-S,," Sang empunya nama terlihat menoleh, menatap ke arahnya. "Lo, nggak mau buat masalah lagi, kan" Sambung Tarisa, menatap nya tajam.
"Halah! Perseran sama masalah" Ucap Bias santai, sedangkan Alvaro terlihat beranjak dari tempat nya, di ikuti kedua teman nya. Seketika kedua laki-laki itu berbalik, mengacungkan jempol ke arah Bias yang kini menatap nya.
"Mantap, mba-bro" Ucap mereka bersamaan, Bias hanya memutar bola mata malas, tak ingin perduli.
🐊
Hingga tanpa sadar, suara seseorang terdengar menyapa nya, mendekat ke arah nya, membuat laki-laki itu seketika mendongak, penasaran dengan siapa yang baru saja berbicara dengan nya. "Alvaro, kan?" Ucap nya lagi, saat gadis itu tanpa izin terlihat mendudukkan diri di samping nya.
"Mauren Efanya Talita" Ucapnya lagi, dengan tangan yang kini terulur ke arah nya, berniat untuk memperkenalkan diri sekaligus berjabat tangan dengan nya, dengan senang hati Alvaro menerima uluran tangan nya, seraya tersenyum menatap nya.
"Secepat itu, gue terkenal, sampe cewek secantik lo aja, tau nama gue" Ucap Alvaro percaya diri, membuat gadis dihadapan nya seketika tersipu malu. "Siapa sih, yang nggak kenal, cowok seganteng lo" Balas Mauren, tak lagi malu, bahkan kini terlihat seolah sudah lama mengenal nya.
__ADS_1
"Btw, lo sendirian, disini?" Mauren terlihat memperhatikan sekeliling nya. "Temen gue lagi ke kantin" Ucap Alvaro, laki-laki itu terlihat biasa saja, saat menanggapi gadis yang baru saja ia kenal, entah mengapa ada rasa tidak tertarik saat melihat nya.
"Boleh, gue minta whatsapp lo?" Alvaro seketika terkejut, mendengar gadis itu dengan cepat meminta whatsapp milik nya, agresif, pikir Alvaro. Meskipun hari ini entah sudah berapa kali, seorang gadis datang meminta hal yang sama pada nya, membuat laki-laki itu terlihat menghela nafas bosan, padahal ia baru saja hari ini pindah ke sekolah, namun secepat itu sudah terkenal dikalangan para gadis.
"Sorry, gue nggak bisa" Sehalus mungkin, Alvaro berusaha untuk menolak nya, sama seperti biasa nya.
Alvaro memang playboy, tapi ia tipikal orang pemilih, hanya yang diinginkan, baru ia akan berusaha mendapatkan. Satu hal yang perlu di ingat, laki-laki itu tidak pernah memberikan nomor, atau whatsapp nya pada gadis mana pun. Alvaro sangat terkenal, di sekolah sebelum nya, di cap sebagai laki-laki yang terlalu sering berganti pasangan. Tak hanya di lingkungan sekolah, melainkan di luaran pun ia tak kalah terkenal. Tetap saja, sampai saat ini, satupun tak ada gadis yang bisa menarik perhatian nya, meluluhkan hati, dan membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Pandangan nya tetap sama, perihal wanita, ia anggap mereka hanya permainan, barbie cantik menyenangkan, meski laki-laki tak pernah memainkan sebuah boneka barbie. Itu semua, bukan sepenuhnya keinginan Alvaro, hanya saja mereka yang terlalu murahan, karena lebih dulu mengejarnya. Membuat nya terkadang berbelas kasih, melihat mereka dengan bodoh nya rela, melakukan segala cara hanya untuk dekat dengan nya. Bahkan tidak jarang, ia selalu mendengar mereka bertengkar, perihal diri nya, benar-benar sangat kekanak-kanak kan.
"Kenapa, kok nggak bisa?" Mauren terlihat sangat kecewa, seraya menggenggam erat ponsel ditangan nya. "Gue kurang cantik, gue jelek ya" Gadis itu terlihat menatapnya, penuh harap, membuat laki-laki itu hanya memutar bola mata bosan.
"Gue sih, welcome, kalo lo mau berteman, atau suka sama gue. Tapi gue nggak bisa, kasih whatsapp, atau nomor ponsel" Ucap Alvaro, laki-laki itu masih berusaha bersikap baik, meskipun ada sedikit rasa kesal pada nya.
Baru saja gadis itu, akan segera membuka suara, namun kedua teman Alvaro tiba-tiba saja datang menghampiri nya, dengan tatapan yang kini sulit di artikan, membuat laki-laki itu merasa, sebentar lagi akan segera terjadi sesuatu yang mungkin menyebalkan.
__ADS_1