
Untuk pertama kali, selama hidupnya. Alvaro melihat seorang gadis bergelimbang harta, jauh dari kekurangan. Namun tetap perduli dengan sesama. Perduli dengan orang yang jauh lebih membutuhkan. Hingga membuat laki-laki itu seketika tersadar. Selama ini ia tidak pernah bersyukur, tidak pernah memikirkan orang lain, bahkan hanya menghambur-hamburkan uang untuk sekedar bermain-main bersama seorang wanita.
Akhirnya Alvaro tahu, ada sisi berbeda dari seorang gadis dengan tingkat menyebalkan yang membuat siapapun bergidik bahkan menggelengkan kepala. Bukan sisi manja, atau sisi lemah lembut layaknya gadis diluaran sana. Melainkan sisi perduli, dan jiwa sosial yang tinggi. Membuat Alvaro tanpa sadar, mengulas senyum diwajahnya.
"Woy! ngapain lo senyum-senyum! bukannya bantuin" teriak Bias tiba-tiba. Membuat Alvaro kembali sadar, hingga rasa kagum yang sempat singgah, menguap dalam sekejap mata. Melihat sifat menyebalkan gadis itu kembali seperti semula.
"Santai dong mba-nya" ujar Alvaro, yang terlihat beranjak menghampiri Bias yang kini tengah mengangkat kardus besar, yang terlihat menutupi wajahnya. Tentu saja Alvaro segera mengambil alih kardus ditangannya, membuat gadis itu terdiam, bungkam menatapnya.
"Nggak usah sok kuat! badan kaya anak ayam sok-sokan angkat barang segeda gaban" ucap Alvaro dengan mulut santainya, dan terlihat beranjak masuk kedalam. Meninggalkan Bias yang masih mencerna perkataannya.
"Eh lo ngomong apa barusan!" teriak Bias yang baru saja tersadar, bahkan tidak terima. Karena secara tidak langsung Alvaro lagi-lagi menghinanya. Sedangkan Alvaro, seperti tidak punya dosa, terlihat hanya mengabaikan dan menggedikkan bahu acuh.
"Lo sering dateng kesini?" Alvaro buka suara, saat keduanya terlihat duduk bangku panjang yang ada dipekarangan rumah. Selepas mereka menyelesaikan pekerjaannya. Bias hanya diam, terlihat sibuk menyeruput minuman ditangannya. Membuat Alvaro seketika menghela nafas berat, menyesal sudah berbicara lebih lembut padanya.
__ADS_1
"Woy! Pokemon! lo budek ya!" teriak Alvaro tiba-tiba, bahkan tanpa aba-aba membalik paksa tubuh Bias kearahnya.
BYURR!!
Reflek Bias menyemburkan minuman yang sejak tadi ia nikmati, tepat ke wajah Alvaro yang kini terlihat basah kuyup. Membuat Bias seketika menutup mulut dan juga matanya karena terkejut.
"P-O-K-E-M-O-N!!" teriak Alvaro, mengeja penuh penekanan disetiap kata. Menatap gadis dihadapannya geram. Bukannya minta maaf, Bias seketika tertawa, bahkan terbahak-bahak. Sampai-sampai terlihat memegang erat perutnya. Puas, melihat pemandangan indah dihadapannya.
"Eh-lo ngapain?" ucap Bias disela-sela tawanya, dengan wajah yang terlihat menyebalkan. Sedangkan Alvaro, dengan cepat menyeka air diwajahnya. Terlihat jelas, laki-laki itu terus menahan rasa kesal yang kini merasuk sampai ke tulang rusuknya.
"Sorry. Lagian salah sendiri, pake acara ngagetin gue. Terima aja akibatnya" ucap Bias, yang terlihat membantu Alvaro menyeka air yang masih tertinggal diwajahnya. Dengan tawa yang sesekali keluar darinya. Membuat laki-laki itu seketika mematung. Ternyata Bias masih bisa bersikap lembut, serta tawa yang cukup berbeda dari biasanya. Tawa yang benar-benar natural darinya.
Bias menatap Alvaro, sadar dengan tatapan laki-laki yang sendari tadi hanya diam memperhatikannya. "Woy! nggak usah mikir macem-macem. Gue cuma kasian liat muka lo, yang persis cucian nggak kering" ucap Bias, membuat Alvaro terlihat menghela nafas berat. Salah, sempat mengira jika gadis dihadapannya bisa bersikap baik padanya. Impossible, Bias tidak akan pernah melakukannya. Ingat status, jika mereka adalah musuh.
__ADS_1
"Lo bisa nggak sih, sedikit aja berlaku layaknya cewek" ucap Alvaro, terlihat fokus menatapnya. Yang ditatap, seketika menggedikkan bahu acuh.
"Suka-suka gue! kenapa lo yang repot. Suka banget ngurusin hidup orang!" ucap Bias terdengar ketus. Sangat tidak suka jika ada orang lain yang mengomentari perihal tingkah laku, pakaian, atau yang berhubungan dengan dirinya. Karena hidupnya adalah miliknya. Ia yang menjalankan, dan berproses didalamnya. Sedangkan orang laiin? hanya mampu berkomentar, bahkan turut ikut campur dalam urusan yang jelas tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Padahal mereka sama sekali tidak membantu untuknya terus hidup, dan tidak membayar semua kebutuhannya.
"Gue cuma ngasih tau. Kenapa lo jadi sewot. Biasa aja kali" ucap Alvaro, tidak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba saja sangat ketus, bahkan emosi. Padahal niatnya hanya memberitahu, itupun untuk kebaikannya, bukan kebaikan dirinya.
"Gue nggak butuh! ini hidup gue. Gue yang jalanin, bukan lo" ucap Bias, sebelum bangkit dari tempatnyq. Membuat Alvaro seketika mengeryit, bingung menatapnya. Tidak pernah mengira, respon Bias akan seperti itu, segitu kesalnya, saat mendengar ucapan Alvaro sebelumnya.
"Gue nggak perduli lo atau orang lain, suka atau nggak sama gue! yang terpenting gue nyaman sama hidup yang gue jalanin. Dan gue bukan cewek-cewek yang selama ini jadi korban lo! cewek murahan" ucap Bias lagi, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alvaro yang kini mematung ditempatnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis itu ucapkan.
"Eh, yang suka sama lo itu siapa!" teriak Alvaro tidak terima, "gue nggak akan suka sama lo!" sambung Alvaro, yang sudah terlihat sangat kesal padanya.
Laki-laki itu tidak percaya, dengan apa yang baru saja terjadi. Tidak menyangka respon Bias seserius itu, hanya karena ucapannya. Padahal ia hanya berbicara, untuk memberi saran. Ternyata Bias terlalu serius, saat menanggapi, dan terlihat marah padanya.
__ADS_1
"Dasar cewek aneh!" ketus Alvaro, terlihat kesal.