
Seminggu sudah berlalu, sejak kejadian yang sempat terjadi di Panti Asuhan. Hal itu sedikitpun tidak menyebabkan banyak perubahan. Keduanya terlihat biasa-biasa saja, seolah tidak pernah ada yang terjadi. Semua berjalan normal, seperti biasanya. Selalu ada celotehan tidak berfaedah, begitupun dengan Alvaro yang tak juga berganti status, tetap menjadi budak Bias. Tidak tahu, sampai kapan gadis itu akan memperbudak, dan memperlakukan Alvaro seperti ini. Benar-benar gadis yang kejam.
Sama halnya hari ini, seorang Alvaro dengan pangkat playboy terkenal disekolah dulu sampai sekarang, kini berakhir mengenaskan diruang toilet. Alasannya, tentu saja karena Bias penyebabnya.
Bias tidak pernah berhenti, selalu saja berbuat ulah. Berbagai masalah yang berakhir dengan hukuman dari para guru. Tetap saja, kali ini berbeda. Karena Alvaro yang menjadi sasaran empuk Bias. Menyerahkan semua tugas padanya. Menggantikan Bias mengerjakan hukuman bersama kedua sahabatnya, yang sejak tadi terus menggerutu.
Jangan tanya dimana Bias. Alvaro sama sekali tidak tahu kemana perginya gadis itu. Benar-benar tidak ada rasa tanggung jawab, padahal jelas-jelas ia yang sudah berbuat onar. Memecahkan kaca jendela, karena bermain bola bersama teman-temannya dilapangan. Namun Alvaro yang terkena getahnya, dan berakhir menyedihkan ditempat ini.
#Flashback On
Hari ini Bias benar-benar bosan. Terlebih saat Tarisa memaksanya untuk berdiam diri dibawah pohon dekat lapangan, jangan lupakan buku tebal yang gadis itu berikan padanya. Tarisa sejak tadi terlihat asik dengan buku miliknya, menikmati tiap lebar bacaan yang disukainya. Berbeda dengan Bias, menganggap ini semua adalah kutukan untuknya. Selangkah saja Bias beranjak, mulut bawel Tarisa yang persis mak-emak komplek, akan mengeluarkan segala macam ceramah, yang panjangnya melebihi rel kereta.
Bias seketika terdengar meringis, saat tanpa aba-aba sebuah bola melayang, tepat mengenai kepalanya. Membuat emosinya seketika memuncak, kesal berkepanjangan. Dengan cepat Bias bangkit dari duduknya, memperhatikan kearah lapangan.
"Lo nggak papa Bi? masih inget gue kan. Tarisa, sahabat lo" ucap Tarisa panik, berbicara seolah dirinya baru saja terkena gegar otak. Membuat Bias terlihat memutar bola mata malas. Seketika Tarisa mengeryit, saat melihat Bias yang tiba-tiba saja beranjak dengan bola ditangannya.
"Eh-lo mau kemana Bias! jangan bikin onar!" teriak Tarisa. Namun gadis itu hanya menggedikkan bahu, mengabaikan ucapannya. Meminta agar Tarisa duduk saja ditempatnya, menunggu sampai ia kembali menghampirinya.
"Woy!!" suara Bias terdengar, dengan nada kesal tercetak jelas didalamnya. "Siapa yang berani lepar bola, sampe kena kepala gue!" teriak Bias lagi, saat gadis itu sampai dihadapan beberapq orang siswa yang sejak tadi berada di lapangan. Reflek mereka saling melemparkan tatapan, hingga akhirnya menunjuk kearah yang berbeda-beda. Entah siapa yang melakukannya, membuat Kikan terlihat menghela nafas.
"Jadi siapa yang lempar?!" teriak Bias lagi. Merasa frustasi melihatnya.
"Dia!" teriak mereka bersamaan, dengan arah telunjuk yang lagk-lagi berbeda.
__ADS_1
"Udah diem! nggak usah main salah-salahan. Banyak bacot" ucap Bias terlihat sangat kesal. Membuat mereka seketika bungkam, diam ditempatnya. Siapa yang tidak kenal dengan Bias, gadis dengan temprament buruk, dan selalu menjadi icaran para guru.
"Gimana kalo gue ikut main?" ucap Bias, terlihat menatap mereka antusias. Membuat mereka seketika saling melemparkan tatapan, ragu dengan gadis yang kini berdiri dihadapannya.
"Jangan bilang, gara-gara badan gue kecil? lo semua nggak mau gue ikutan maen!" ucap Bias, terlihat melemparkan tatapan tajam kearah mereka. Mengingat refutasi brandal di sekolahnya, membuat mereka seketika menggelengkan kepala, dan mengangguk setuju dengan permintaan Bias.
Padahal baru seminggu Bias sekolah disini, namun hampir satu sekolah tahu bagaimana refutasi buruknya. Bahkan guru sudah mengenalnya, membuat gadis itu terdaftar menjadi incaran para guru. Bukan tanpa sebab, itu semua karena kelakuan dan tingkah Bias yang membuat siapapun menggelengkan kepala.
Hingga akhirnya Bias tertawa senang. Dan dengan cepat terlihat melemparkan bola yang sendari tadi ditangannya. Memulai babak permainan baru. Namun ditengah-tengah, matanya tak sengaja, menangkap sosok yang sudah tak lagi asing untuknya. Terlihat berjalan santai, kedua tangannya dimasukan kedalam saku celana. Bersama kedua temannya yang kini berjalan dipinggir lapangan.
Bias tetaplah Bias. Rasanya aneh jika tidak berbuat onar barang sehari saja. Hingga akhirnya ide jahil datang merasukinya. Membuat gadis itu tanpa aba-aba menendang bola yang tergeletak dibawah kakinya dengan sangat kencang, bahkan terlempar cukup jauh. Sepertinya, Bias tidak tepat sasaran. Saat melihat bolanya yang entah melambung kemana.
PRANK!!!!
"******-gue" celetuk Bias, terlihat menepuk frustasi wajahnya. Baru saja Bias akan berbalik, melihat semua teman-temannya yang tadi bermain bersama. Namun dibuat terkejut, saat melihat tak ada satu orangpun bersamanya. Hanya ada Tarisa yang terlihat datang kearahnya. Wajahnya terlihat jelas, kesal bercampur marah.
"Bias Amelous Amarta!!" teriak Tarisa, saat sudah tiba dihadapannya. Reflek Bias menutup kedua telinganya, bahkan matanya kini terpejam. Meratapi nasib yang akan segera menimpanya.
"Apa lagi yang sekarang lo lakuin?!" teriak Tarisa, nafasnya naik turun menahan kesal. Bias hanya diam, mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Alvaro dkk. Yang terlihat baru saja akan melangkah pergi.
"Woy! lo bertiga! tunggu" teriak Bias tiba-tiba. Telrihat berlari menghampiri mereka.
"Bias!!" teriak Tarisa, benar-benar frustasi dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Mau kemana lo?" tanya Bias, saat sudah sampai dihadapannya.
"Apaan si! Gj" ketus Alvaro. Berniat untuk segera melangkah. Hingga akhirnya terhenti, saat suara seseorang terdengar mengintruksi.
"Ya ampun! ini kenapa? pasti gara-gara kalian!" teriak seorang guru wanita, entah sejak kapan sudah berada dihadapan mereka.
"Mana ada Bu! si Bias noh yang mecahin kaca" ucap Rangga, diangguki David yang berdiri disampingnya.
"Nggak mau tau! kalian Ibu hukum! bersihkan toilet sekarang juga!" teriaknya lagi, dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka yang terbelalak. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja menimpanya.
"Gara-gara lo!" teriak Alvaro tidak terima. Sedangkan Bias, hanya menggedikkan bahu acuh.
"Siapa yang tadi pecahin kaca?" tanya Alvaro, menatap Bias yang juga menatapnya.
"Ya gue" jawab Bias santai.
"Siapa yang bersihin toilet?"
"Ya lo" jawab Bias lagi, dengan tampang tak berdosa. Membuat Alvaro semakin geram, menatap tajam Bias yang hanya tersenyum santai karahnya. Sedangkan teman-temannya hanya tertawa saat melihatnya.
"Gue-bos lo sekarang. Jadi, lo harus nurut sama perintah bos!" ucap Bias santai, namun tegas. Sebelum gadis itu berlalu meninggalkan Alvaro tanpa rasa bersalah.
#Flashback Off
__ADS_1
"Bias!!" Teriak Alvaro tiba-tiba seraya membanting sikat toilet yang ada ditangannya. Membayangkannya saja sudah membuat laki-laki itu kesal setengah mati, bagaimana bertatap muka dengannya. Semoga tuhan masih berbaik hati untuk tidak melakukannya.