
Happy Reading❤
***
Hari ini Bias kembali membuat keributan. Membuat teman-temannya melemparkan tatapan penuh tanda tanya. Ingat dengan apa yang Bias katakan. Semuanya jelas seperti apa yang gadis itu inginkan. Alvaro benar-benar menjadi budaknya. Membuat Bias tersenyum puas saat melihatnya.
Tarisa penasaran, begitupun dengan orang lain yang melihatnya. Hari ini Alvaro bertingkah sangat baik. Tak ada keributan saat bertemu dengan Bias. Begitupun dengan gadis itu. Terlihat sangat santai, bangga melihat perubahan yang terjadi pada Alvaro, partner adu mulutnya.
"Kenapa Alvaro jadi nurut, sama lo" tanya Tarisa. Gadis itu sejak tadi penasaran. Namun Bias tak juga menjawab pertanyaan darinya. Hanya tersenyum, dan tertawa setelahnya. Membuat Tarisa kesal, sekaligus bingung dengan tingkahnya. Berbeda dengan Alvaro. Laki-laki itu terus menatapnya dengan wajah yang jelas terlihat kesal.
"Dia kalah balapan sama gue. Jadinya ya gitu" ucap Bias. Terdengar santai, dan lagi-lagi tertawa mengingatnya. Tanpa sadar, bukan hanya Tarisa yang mendengar, hampir seluruh penghuni kelas juga dengan jelas mendengar suaranya. Wajar saja, suara Bias persis seperti toak masjid.
Reflek membuat Alvaro tanpa aba-aba, menarik paksa pergelangan tangannya. Membawa gadis itu keluar dari dalam kelasnya. Bias terkejut, mendapatkan perlakuan tanpa aba-aba darinya. Membuatnya seketika berontak, melepaskan cekalan tangan Alvaro..
"Apaan si lo!" ketus Bias, tidak terima. Sedangkan Alvaro, meleparkan tatapan tajam kearahnya.
"Lo cewek kan?" ucap Alvaro. Suaranya tak bersahabat, begitupun dengan tatapan mata, sejak tadi hanya fokus pada Bias yang menjadi objeknya. Bias hanya acuh. Memilih untuk segera beranjak. Sebelum tangan Alvaro kembali menghentikan niatnya. Mencekal pergelangan tangannya. menarik Bias tanpa aba-aba, hingga membuat gadis itu kehilangan keseimbangan.
Bias sedikitpun tidak merasakan sakit ditubuhnya. Padahal jelas ia terjatuh, karena ulah Crocodile dihadapannya. Mata yang sebelumnya terpejam, perlahan Bias buka. Tertegun, saat melihat dua bola mata indah dihadapannya. Membuatnya larut, dalam tatapan masing-masing. Tanpa sadar, saling menganggumi satu sama lain.
Mengapa selama ini Alvaro tidak sadar. Ternyata Bias terlihat sangat cantik. Bola mata indah, iris coklat juga bulu mata lentik yang menghiasi. Kagum. Begitulah pikiran Alvaro saat memperhatikan Bias yang kini diam menatapnya.
"Ehh-kalian ngapain? lepasin!" suara seorang gadis terdengar. Membuat mereka akhirnya tersadar. Segera bangkit dan berdiri tegap ditempatnya. Bias mengerjapkan kedua matanya. Mengingat, dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
__ADS_1
"Kalian bener-bener ya!" teriak Mauren. Sosok yang baru saja mengganggu keduanya. Alvaro terlihat memutar bola mata malas. Bosan jika harus berhadapan dengan gadis manja yang baru saja tiba dihadapannya.
"Apa si lo! dateng-dateng nggak jelas" ketus Bias, terlihat menggedikkan bahunya.
"Lo ngapain tadi? pake acara peluk-peluk Alvaro!" ucap Mauren tidak terima, "Gatel banget lo jadi cewek!" sambung Mauren, dengan wajah kesal menatapnya. Bias tertawa, mendengar ucapan gadis dihadapannya.
"Oh! maksud lo gini" ucap Bias. Tanpa aba-aba mendekatkan diri, memeluk erat Alvaro dengan santai. Membuat laki-laki itu seketika terkejut, dengan apa yang baru saja Bias lakukan. Tanpa terkecuali Mauren. Gadis itu tak kalah terkejut, bahkan sekarang terlihat murka.
"Ihhh! dasar cewek gatel, pelakor!" teriak Mauren, menghentakan kedua kakinya. Geram saat melihat tingkah gadis dihadapannya. Bias hanya tersenyum, menggedikkan bahunya santai, setelah melepaskan pelukannya. Mauren tidak tahan. Terpaksa memilih untuk segera beranjak, pergi meninggalkan mereka dengan tampang kesal.
Alvaro sejak tadi hanya diam. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja gadis itu lakukan. Sebenarnya dianggap apa Alvaro. Dengan mudahnya Bias bertingkah, memperlakukan ia seenaknya. "Keterlaluan lo!" suara Alvaro terdengar, sangat dingin. Sebelum laki-laki itu beranjak, meninggalkan Bias yang kini masih tertawa ditempatnya.
Reflek Bias menghentikan tawanya. Kedua matanya mengerjap. Apa yang baru saja terjadi pada laki-laki itu? mengapa bertingkah sangat dingin, tak seperti biasanya. Mungkinkah Alvaro marah? aneh. Namun Bias tidak perduli. Hal itu tidak penting untuknya. Memilih untuk segera beranjak, menggedikkan bahu acuh.
Alvaro tidak habis pikir, bahkan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Bias lakukan. Menganggap, dirinya seolah mainan. Bukankah selama ini dirinya yang selalu mempermainkan wanita. Lantas mengapa, hari ini seolah dirinya yang tengah dipermainkan. Bahkan terus dipermainkan hampir setiap hari oleh seorang gadis yang belum lama ia kenal.
"Ternyata lo gila!" celetuk Rangga. Laki-laki itu baru saja tiba, menghampiri Alvaro bersama David disampingnya. Alvaro menatapnya sekilas. Sebelum mengabaikannya kembali.
"Kasian banget lo! nasib lo buruk ternyata," Alvaro menatap tajam Rangga, "masa ada cewek yang perlakuin lo kaya gitu" sambung Rangga, terlihat menggelengkan kepala menatapnya.
Seketika Alvaro sadar. Ucapan Rangga ada benarnya. Pertama kali dihidupnya, dipermainkan oleh seorang gadis. Hal yang sebelumnya tak pernah ia alami.
"Buaya turun pangkat jadi budak" celetuk David. Yang dihadiahi tatapan tajam dari Alvaro.
"Jangan sebut gue Buaya!" ketus Alvaro. Tidak terima saat mendengarnya. Entahlah, saat orang lain menyebutnya, terasa aneh. Membuatnya kesal, tidak suka saat mendengarnya. Berbeda jika Bias yang menyebutnya.
__ADS_1
Seketika Alvaro menggelengkan kepala kasar. Lagi-lagi gadis itu kembali masuk kedalam pikirannya.
"Santuy dong masnya" ucap mereka bersamaan. Alvaro hanya acuh, beranjak pergi meninggalkan kedua temannya. Berjalan santai, dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana abu-abunya.
Dengan cepat kedua sahabatnya ikut bernajak. Berusaha menyusul Alvaro yang sudah berjalan lebih dulu dihadapannya. Rangga berhasil menyusul, menyamai langkah kaki Alvaro.
"Jangan-jangan lo suka sama Bias"
Seketika Alvaro menghentikan langkahnya. Membuat David yang masih berlari, tanpa aba-aba menerjang tubuh Rangga yang berdiri disampingnya.
"Kalo jalan liat-liat!" ucap Rangga kesal.
"Kalo mau berenti, ngesen dulu" ketus David tak kalah kesal. Tangannya mengelus hidung yang dengan keras menerjang tubuh tegap Rangga.
Alvaro menghela nafas. Membuat keduanya seketika menoleh, menatap fokus kearahnya.
"Kenapa si lo?" tanya Rangga penasaran, Alvaro bukan tipikal orang yang perduli dengan sesuatu. Selalu acuh, dan mengabaikan apapun yang ia anggap tidak penting. Namun berbeda, jelas terlihat jika laki-laki itu seolah tengah memikirkan sesuatu. Persis seperti orang yang tengah mengemban tugas berat.
"Gue nggak suka sama Bias" ucapan Alvaro berhasil membuat kedua laki-laki dihadapannya saling pandang. Sebelum tertawa setelahnya.
"Serius lo nggak suka?" Goda Rangga, disela-sela tawanya. Alvaro memutar bola mata malas, kesal karena respon yang baru saja didapatkannya.
"Gue tikung nih"
"Gasspoll mas Rangga" David angkat suara, saat menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Terserah!" ketus Alvaro. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya dengan tampang kesal.