After Meet You

After Meet You
AMY#38 [END]


__ADS_3


Sudah seminggu Bias tidak masuk ke Sekolah, begitu banyak beban pikiran terlebih lagi tentang pernikahan sang Ayah yang baru saja dilangsungkan 4 hari yang lalu membuat gadis itu enggan untuk beranjak dari kamarnya, bahkan tidak satupun yang bisa menemuinya. Ayah nya benar-benar sudah berubah sekarang, bahkan tanpa persetujuan darinya ia tetap menikahi kekasihnya yang jauh lebih muda dari Ayah nya. Tentu saja ia tidak akan sudi menghadiri pernikahan Ayah nya, bahkan berkali-kali laki-laki itu membujuk dan memintanya namun ia enggan untuk menanggapinya.


Hingga akhirnya hari ini ia mau keluar dari kamar bahkan rumah besarnya, dengan langkah gontai semilir angin menerpa wajah cantiknya hingga menyibakkan anak rambutnya, tak membuat gadis itu sedikitpun terusik, bahkan air langit terlihat mulai turun membuatnya terpaksa mencari tempat untuknya berteduh. Lagi-lagi ingatan pahit kembali berputar dimemorinya, seolah bagaiman bayangan yang akan terus mengikutinya kemanapun ia melangkahkan kakinya.


#Flashback On


Bias benar-benar bisa bernafas lega sekarang, karena tak lagi merasakan sakit saat mengingat Alvaro yang kini berperan penting dihatinya, bahkan senyum lagi-lagi terukir diwajahnya. Meski begitu ia sama sekali belum menemui Alvaro dan memilih untuk segera pulang ke rumah saat bell pulang berbunyi.


Kaki terus membawanya masuk ke dalam rumah yang selalu terlihat sepi bagai tak berpenghuni, dengan helaan nafas berat ia mendudukkan diri di sofa ruang tamu dan meminta Bibi untuk membuatkan minuman seperti biasanya. Namun pandangannya jatuh pada seseorang yang baru saja membuka pintu dan masuk kedalam rumah, matanya terbelalak bahkan hatinya terasa nyeri, lagi-lagi Ayah nya pulang bersama kekasih barunya. Tentu saja Bias tidak akan pernah mau menerimanya membuat gadis itu berniat untuk segera beranjak dari tempatnya, terlihat Bibi yang baru saja datang dengan segelas minuman yang sebelumnya ia minta.


"Non Bias mau kemana?" Tanya Bibi karena melihatnya bangkit dari tempat duduknya.


"Tidur Bi, capek liat orang nggak tau diri masuk ke rumah Bias" Jawab Bias santai, namun suara tegas seseorang kembali menghentikan langkahnya.


"Jaga bicara kamu Bias!" Teriak Aryo tidak suka dengan perlakuan putrinya, sedangkan Bias hanya memutar kedua bola matanya bosan.


"Wah udah dong! Malah di pager besi biar nggak gatel sana sini" Ucap Bias santai, seketika laki-laki itu terlihat kesal namun kekasihnya berusaha untuk tetap menenangkannya, membuat gadis itu berdecih saat menyaksikannya.

__ADS_1


"Besok Papah akan menikah dengan Tante Anna" Ucap Aryo seraya menghela nafas, seketika Bias terbelalak saat mendengar ucapannya bahkan tak pernah menyangka hal ini akan benar-benar terjadi dihidupnya, seolah semuanya hancur berkeping-keping, semuanya hilang dalam sekejap mata.


"Bahkan tanpa atau dengan persetujuan Bias Papah akan tetap menikah kan" Ucap Bias santai tanpa mengalihkan pandangannya, namun lidahnya terasa kelu, tenggorakannya seraya tercekat saat mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Tanpa sadar air mata jatuh diwajahnya, membuat ia segera berlari menariki satu persatu anak tangga. Sedangkan Aryo hanya menghela nafas berat karena putrinya belum juga menerima semua keputusannya.


Hatinya benar-benar hancur saat dimana hari yang dikatakan Ayah nya terjadi, mereka dengan senangnya melangsungkan pernikahan tanpa kehadirannya, bahkan air matanya tak mampu lagi untuk menghentikan niat Ayah nya, membuat semua barang-barang dikamarnya seketika berserakan dilantai karena ia lagi-lagi melampiaskan amarahnya. Bahkan Tarisa tak lagi mampu untuk membujuknya, karena Bias benar-benar sangat hancur sekarang.


#Flashback Off


Hujan terus turun membasahi tanah bahan tanaman disekitarnya, hatinya begitu hancur bahkan sulit untuk memperbaikinya kembali, hingga kehadiran seseorang membuyarkan lamunannya membuat ia segera menyeka air mata yang sempat turun tanpa seizinnya.


"Bi"


Terlihat Alvaro yang kini mendudukkan diri disampingnya, terdengar helaan nafas berat darinya. Mengapa bisa laki-laki itu datang menemukannya ditempat ini, bahkan ia sama sekali tidak pernah menyangka dengan kehadirannya.


"Gue udah tau apa yang terjadi sama lo" Ucap Alvaro tiba-tiba, sedangkan Bias hanya menghela nafas karena sudah menduga jika Tarisa yang memberitahu semuanya pada Alvaro.


"Gue tau ini semua berat buat lo, tapi ini semua nggak lain juga demi kebaikan lo. Gue yakin setelah ini ada kebahagian yang akan menanti lo, dan nggak akan pernah ada lagi rasa sakit bahkan kesedihan yang lo rasain" Ucap Alvaro lagi, tanpa sadar hal itu membuat Bias kembali meneteskan air matanya. Entah sejak kapan ia kembali menjadi seorang gadis lemah bahkan cengeng seperti sekarang, dimana Bias yang selalu ceria dengan sejuta kelakuan absurdnya.


"Gue tau ini bukan waktu yang tepat, tapi izinin gue buat jadi orang yang bawa kebahagiaan buat lo Bi" Ucapan Alvaro kali ini benar-benar membingungkan untuknya bahkan sempat membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Gue nggak tau apa yang sekarang lo omongin" Ucap Bias, namun Alvaro seketika memegang kedua bahunya dan membalikan tubuhnya agar berhadapan dengannya. Tatapan Alvaro jatuh pada mata indah yang kini terlihat sayu, hanya ada sisa-sisa air mata yang menghiasinya.


"Lo mau kan sekarang jadi pacar gue?" Tanya Alvaro dengan tatapan hangat dan penuh keyakinan, tanpa sadar lagi-lagi Bias meneteskan air matanya, bukan air mata kesedihan namun air mata bahagia, karena disemua kepedihannya masih terselip secercah kebahagiaan dari orang yang mencintainya.


"Gue nggak pantes sama lo, gue jelek dekil nakal, gue banyak utang kelakuan gue buat malu bahkan gue sering buat ulah, aslinya gue nyebelin lo nggak akan tahan sama gue,,," Belum sempat Bias menyelesaikan ucapannya yang panjang lebar, tanpa aba-aba Alvaro memeluknya dengan erat.


"Ngomong apa si, meskipun lo punya sejuta kekurangan tapi gue hadir buat nutupin semua kekurangan lo" Ucap Alvaro dengan tulus, membuat gadis itu tanpa sadar mengulas senyumnya.


"Lo juga tau gue mantan playboy, cowok brengsek. Tapi gue masih punya hati buat simpan nama lo selama hidup gue. Jadi lo mau kan jadi pacar gue?" Seketika Bias menggangguk dengan senyum yang menghias diwajahnya, tanpa aba-aba Alvaro semakin mempererat pelukannya.


Mungkin semua penderitaan yang ia dapatkan sepadan dengan kebahagiaan yang kini kembali ia raih dihidupnya, bersamanya yang didasari permusuhan kini berakhir menjadi sebuah ikatan hubungan yang mempersatukan dan saling melengkapi semua kekurangan keduanya.


Aku mencintai Musuhku dan Musuhku  mencintai Aku. Alvaro sang Crocodile brengsek yang kini menjadi pemenang hatinya.


[ END ]


Terima kasih sudah mampir dan mengikuti kisah Bias dan Alvaro!!


Sampai jumpa dan tunggu kehadiran mereka lagi nanti😍

__ADS_1


__ADS_2