After Meet You

After Meet You
AMY#08


__ADS_3

Skenario Tuhan nggak ada yang tahu, sial nya, gue dipertemukan, lagi sama lo.


***


Sepertinya hari-hari Alvaro kedepan nya akan terus-terusan dihadapkan dengan kesialan, bagaimana mungkin, ia kembali di pertemukan dengan seorang gadis menyebalkan, mengingat nya saja, ia kembali dibuat kesal. Bahkan, berpikir jika ia tak sanggup untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh teman-temannya, jangankan berusaha mendekat, bertemu saja ia sudah merasa sangat malas sekarang.


Hari ini adalah, kali ke empat, Alvaro bertemu dengan Bias, gadis aneh yang selalu berhasil menguras kesabaran nya, gadis yang berbeda dari semua gadis yang pernah ditemui oleh nya. Bahkan tanpa sadar, ia lagi-lagi mengumpat, menggerutu saat kembali membayangkan nya. Tingkah nya seketika membuat kedua laki-laki disamping nya, menatap aneh ke arah nya, alis nya tertaut, bingung melihat nya.


"Woy! Lo gila, Al" Teriak Rangga, tangan nya terlihat enteng, saat menoyor kepala Alvaro, membuat sang empunya menatap nya tajam. "Apa sih, lo!" Ketus Alvaro, seraya mengelus puncak kepala nya.


"Lo nggak malu, dari tadi diliatin orang-orang" Ucap David, ikut menimpali, sedangkan Alvaro, terlihat memperhatikan sekitarnya. Benar saja, banyak mata yang berlalu-lalang, terlihat melirik, memperhatikan ke arah nya seraya berbisik.


Alvaro menghentikan langkah nya, diam memperhatikan. "Woy! Apa lo bisik-bisik, ngomongin gue?!" Teriak Alvaro tidak terima, kedua sahabat nya terlihat menggelengkan kepala, melihat kelakuan Alvaro yang tidak tahu malu.


"Lo, kenapa, mas bro?" Rangga terlihat penasaran, terlebih, mood nya seketika memburuk, selepas kembali dari toilet. Penasaran, apa yang sebelumnya terjadi, siapa yang berhasil membuat laki-laki itu terlihat kesal seperti sekarang.


"Gila, emang! Bisa-bisa nya, gue ketemu sama itu cewek" Ucap Alvaro, seraya beranjak, kembali melangkahkan kaki nya, untuk segera menuju ke ruang kelas. Keduanya ikut melangkah, tatapan nya terlihat bingung sekaligus penasaran. "Cewek, yang mana?" Tanya David, bingung, karena terlalu banyak perempuan yang mengelilingi sahabat nya.


"Pacar pertama, kedua, atau ketiga? Oh, gue tau, pasti adek-adekan lo, kan" Ucap Rangga, terdengar heboh, membuat Alvaro seketika bertambah kesal, saat mendengar nya.

__ADS_1


"Cewek Pokemon!" Teriak Alvaro tiba-tiba, tampang nya bertambah kesal, terlebih saat mendengar kedua sahabat nya, kini tertawa cukup keras, membuat laki-laki itu, terlihat bosan, karena terus-terusan menatap kedua nya tajam.


"Sejak kapan, lo ketemu sama Pokemon?" Ucap Rangga disela-sela tawa nya. "Halu, mimpi di siang bolong" Timpal David, keduanya terlihat memegang perut, merasa sakit karena tertawa, sampai terbahak-bahak.


"Sialan! Berisik, lo berdua" Kesal Alvaro, dengan respon yang di tunjukkan kedua nya.


"Wadidaw, santuy dong, mas bro" Celetuk Rangga, terlihat menepuk pelan bahu nya, namun kembali tertawa setelah nya. Alvaro yang sudah sangat kesal, tanpa pikir panjang segera beranjak, meninggalkan keduanya, bahkan mengabaikan panggilan sahabat nya.


Sebelumnya kepala sekolah sudah memberitahu dimana kelas baru nya, bahkan sudah mengikuti jam pelajaran pertama, membuatnya tak lagi kesulitan saat mencari nya. Laki-laki itu masih terlihat kesal, tampang nya kusut, saat sudah masuk kedalam kelas. Alvaro segera mendudukkan diri, ditempat sebelumnya, yang kini sudah menjadi milik nya.


Kedua temannya kini terlihat datang ke arah nya, dengan cengiran khas yang tercetak jelas diwajah nya. Tanpa merasa bersalah, keduanya ikut mendudukkan diri, tepat dibelakang tubuhnya, kebetulan mereka baru saja memasuki jam pelajaran kedua, yang sebentar lagi akan segera dimulai.


Pemikiran nya semakin yakin, saat tak ada satu murid pun yang berani membuka suara, atau mengeluarkan sepatah katapun sejak kedatangan nya. Tiga pentol korek itu, terlihat acuh tak acuh, menggedikkan bahu tak perduli.


Hingga seorang gadis terlihat datang, mengekor dibelakang tubuh nya, seorang gadis dengan perawakan jangkung, tubuh ramping, iris mata abu-abu, serta rambut panjang berwarna coklat, yang kini tergerai rapih. Pemilik iris mata coklat itu, seketika terbelalak, sesaat ia melihat sosok gadis yang kini berdiri didepan kelas nya.


👟


Dengan terpaksa, akhirnya Bias segera menuruti ucapan Tarisa, meminta nya agar cepat berganti pakaian, mengenakan kembali seragam sekolah nya. Tentu saja karena jam pelajaran kedua akan segera di mulai, terlebih gadis itu terlambat saat jam pertama. Cukup lama Tarisa menunggu, karena Bias belum juga kembali dari dalam toilet, membuat nya terpaksa segera masuk menghampiri nya.

__ADS_1


"Ngapain sih, lama banget?" Tanya Tarisa terdengar ketus, saat Bias terlihat datang ke arah nya, bukan nya minta maaf, gadis itu hanya nyengir kuda, menggedikkan bahu acuh. Membuat nya seketika menghela nafas, namun segeea menarik pergelangan tangan nya, pergi menuju ruang kepala sekolah.


Bias terlihat berada di ruang guru, karena sebelumnya kepala sekolah, meminta ia untuk menemui wali kelas nya, Ibu Widia. Sedangkan Tarisa, sudah kembali ke kelas, dan menunggu nya disana. Bias menunggu kedatangan nya, karena ia akan segera menuju ke ruang kelas bersama nya, akhirnya seorang guru datang ke arah nya. Membuat matanya seketika terbelalak, karena sosok yang kini menatapnya tajam.


"Oh, jadi, kamu anak baru, nya" Ucap Widia, yang kini bernotabe sebagai wali kelas nya. Spontan, Bias seketika menampilkan sederet gigi putih nya, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sang guru terlihat menghela nafas, dan memilih untuk segera beranjak bersama Bias yang mengekor dibelakang nya.


"Dunia emang bener-bener sempit" Ucap Bias dalam hati, seraya menggelengkan kepalanya.


Sampai akhirnya mereka tiba disebuah ruangan bertuliskan XI IPA-2, tentu saja Bias terus mengikuti langkah guru nya. Hingga ia masuk kedalam kelas, dengan suasana hening, mungkin karena takut dengan wanita yang kini ada dihadapannya. Matanya terlihat memperhatikan sekeliling ruang kelas, sampai akhirnya ia terbelalak karena sosok yang sangat dikenalnya lagi-lagi terlihat dimatanya.


"Lo!" Teriak mereka bersamaan seraya menujuk kearah masing-masing, membuat teman-temannya menatapnya bingung.


"Kalian, saling kenal?" Tanya Widia.


"Nggak!" Ucap mereka bersamaan, terdengar ketus, membuat wanita itu menggelengkan kepala, bingung. Begitupun dengan teman-temannya yang kini, terlihat saling melemparkan pandangan, satu sama lain.


"Sialan! Kenapa, harus dia" Pikir Bias terlihat kesal.


"Sumpah, kaya nggak ada orang lain aja" Pikir Alvaro, tak kalah kesal.

__ADS_1


__ADS_2