
Populer, sih. Tapi kok, bawa-bawa kekuasaan, orang tua, lagi.
***
Melihat kedua manusia yang tak pernah akur setiap kali bertemu, yang selalu naik darah, bahkan mungkin bisa saja baku hantam, membuat mereka turut adil, berusaha untuk melerai percekcok-kan yang sendari tadi terus terjadi di antara mereka, meskipun usaha nya berakhir sia-sia. Kedua nya terus fokus, saling melemparkan tatapan tajam, mungkin jika ada lomba tatap mata, positif mereka akan jadi juara pertama.
"Udah, woy! Lama-lama jodoh, lo berdua" Teriak Rangga, saat laki-laki itu datang ke arah nya, seketika kedua nya menoleh, menatap nya tajam. "Amit-amit!" Terdengar kompak, membuat mereka seketika menutup kedua telinga nya, keduanya terlihat saling melemparkan tatapan.
"Astaga, salah apa, gue" Ucap Bias, terlihat mengelus dada, berusaha untuk bersikap sabar, merasa diri menjadi korban.
"Najis! Berlagak sok jadi korban, ngaca woy" Ucap Alvaro terlihat kesal, begitupun dengan Bias yang tak kalah kesal saat mendengar ucapan nya. Yang akhirnya percekcok-kan mungkin akan segera berlanjut, kalau saja suara seorang gadis terdengar, berhasil menghentikan aktivitas mereka.
"Lo berdua, apa-apaan sih! Nggak liat gue dari tadi ada disini!" Mauren datang menghampirinya, suara nya terdengar cukup nyaring, kesal, marah, badmood, karena merasa jika ia tak di hargai, terlebih tak ada satupun di antara mereka yang menganggap kehadiran nya.
"Hello? Apa hubungan nya mba?" Ucap Bias terlihat santai, bahkan terlihat memutar bola mata malas, membuat sang gadis seketika menatap ke arahnya tajam, tidak terima sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Untuk pertama kali nya, seorang gadis berani berbicara seperti itu, bahkan berani menyela ucapan nya.
"Lo nggak tau, siapa gue?" Ucapan Mauren membuat mereka seketika menautkan alis, bingung saat mendengar nya. "Nyokap gue, orang paling berpengaruh di sekolah ini, paham!" Teriak Mauren dengan rasa percaya diri yang tinggi, bahkan terdengar lantang. Seketika terdengar gelak tawa, siapa lagi jika bukan Bias, hal itu membuat teman-temannya bertambah bingung saat melihat tingkah nya, begitupun Mauren yang kini menatap nya tajam.
__ADS_1
"Bodo amat! Kagak perduli gue, mau berpengaruh atau nggak, sama sekali nggak ada untung nya buat gue, toh gue kagak kenal sama nyokap lo" Ucap Bias di sela-sela tawa nya, gadis itu terlihat santai bahkan lagi-lagi tertawa, hingga terbahak-bahak, membuat Tarisa yang sadar, kini terlihat membekap mulut nya untuk yang kedua kali.
"Bi-as, lo itu cewek sayang, nggak boleh ketawa ngakak, kaya gitu" Ucap Tarisa berbisik, kesal karena melihat tingkah sahabat nya.
"Woy, lo berdua, ngomongin apaan sih?" Jujur saja, Alvaro sama sekali tidak mengerti dengan apa yang tengah kedua gadis itu bicarakan, tak berbeda jauh dengan kedua laki-laki yang juga terlihat mengeryit kan dahi bingung. "Banyak bacot! Intinya ini semua gara-gara lo" Ucap Bias malas, sebelum gadis itu terlihat beranjak meninggalkan mereka yang kini menatapnya tidak percaya.
Alvaro benar-benar kesal, karena gadis itu sangat-sangat aneh, sekaligus menyebalkan, tiba-tiba saja datang, dan tiba-tiba pergi, seperti jelangkung, datang tak di udang, pulang tak di antar. Bukan hanya Alvaro yang mereka aneh, kedua sahabat nya tak kalah bingung, melihat tingkah aneh, juga mulut pedas, gadis yang kini menjadi teman sekelas nya. Namun mereka salut, melihat bagaimana Bias selalu berhasil membuat Alvaro naik darah, sampai-sampai frustasi karena ulah nya.
"Ihhh! Lo bertiga nyebelin banget, kenapa coba malah liatin mereka sampe segitu nya" Teriak Mauren tiba-tiba, bukan jawaban yang ia dapat, karena ketiga nya seketika berlari, meninggalkan Mauren sendiri. Tidak tahan jika harus berhadapan dengan gadis manja, membuat siapapun bergidik ngeri saat bersama nya. "Cantik-cantik, manja nya, Nauzubillah" Celetuk Rangga, disela-sela langkah nya, yang kini terlihat menggelengkan kepala nya.
"Jadi, gimana soal tantangan yang gue kasih?" Tanya Rangga tiba-tiba, berhasil membuat mereka seketika menghentikan langkah nya, menatap lekat ke arah nya. "Iya nih, lo sama sekali nggak ada tanda-tanda buat Pdkt sama tu cewek" Timpal David, yang ikut angkat suara.
"Gila, lo! Mau ngelempar gue ke kandang singa betina, lama-lama gue mati berdiri deket-deket sama tu perempuan" Ucap Alvaro, bergidik ngeri setelah nya.
"Wadidaw, anjay, jadi lo gugur nih, sumpah demi apa?" Teriak Rangga heboh, sekaligus senang secara bersamaan, bahkan kini terdengar gelak tawa dari nya.
"Lo berdua denger baik-baik! Mending gue kasih lo mobil, dari pada harus Pdkt sama tu Pokemon sialan! Amit-amait! Bisa meleduk kuping gue" Ucap Alvaro terdengar lantang, seketika senyum terlukis dikedua nya. "Deal!" Teriak mereka bersamaan terdengar kompak, membuat Alvaro seketika mengerjapkan kedua matanya tak percaya, saat melihat respon sahabat nya.
__ADS_1
"Biadab! Lo berdua" Ketus Alvaro, seraya kembali melanjutkan langkah nya dengan tampang kesal.
"Asik-asik! Mobil baru, mobil baru" Teriak mereka bersamaan, seperti tidak ingat dosa, ataupun merasa kasihan padanya, hal itu membuat Alvaro lagi-lagi memutar bola matanya bosan.
***
Seorang gadis terlihat sangat kesal, bahkan wajah nya seketika tertekuk, karena ntuk pertama kalinya ia merasa terabaikan, diperlaku kan seperti itu oleh orang yang baru saja ditemui nya. Bahkan tidak tahu dengan siapa mereka tengah berhadapan, terutama gadis itu, yang berhasil membuat hancur mood nya dalam sekejap mata, hanya karena kehadiran nya, dan gadis itu juga, yang membuat nya gagal mendapatkan kontak whatsapp Alvaro.
Tanpa sadar gadis itu lagi-lagi berteriak, tidak terima dengan apa yang baru saja menimpa nya, tentu saja hal itu mengundang banyak perhatiaan orang-orang yang kini berlalu-lalang di koridor sekolah. "Apa lo liat-liat? Emang gue pisang!" Teriak Mauren tidak terima, terlebih saat terdengar bisikan-bisikan dari mulut mereka saat melihat nya.
"Mauren!" Terdengar seseorang yang berteriak, dari arah berlawanan, kini datang menghampirinya, wajah nya terlihat sumringah. "Apaan?" Tanya Mauren saat laki-laki itu baru saja tiba dihadapan nya.
"Lo dari mana sih? Dari tadi gue cariin juga" Ucap seorang laki-laki.
Leo Aji, laki-laki jangkung, berambut cepak, tampan, dan jangan lupakan kaca mata yang selalu bertengger rapih di hidung mancung nya. Bernotabe sebagai sahabat Mauren, selalu mengekor kemanapun gadis itu pergi, karena tak lain adalah permintaan dari orang tua nya.
"Bukan urusan lo!" Ketus Mauren dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sedangkan Leo hanya menggelengkan kepala, karena melihat tingkah Mauren yang tidak pernah berubah. Tetap saja tidak mengurungkan niatnya untuk terus mengekor dibelakang nya, membuat gadis itu terlihat menghela nafas berat.
__ADS_1