
Ketemu sama lo? Tujuh turunan gue nggak berharap, nggak sudi.
***
Seperti nya hari ini, adalah hari yang akan Bias cap, sebagai hari sial, bagaimana tidak, di hari pertama ia masuk ke sekolah baru, sudah berakhir mengenaskan, mendapatkan hukuman berlari, mengelilingi lapangan sekolah sebanyak 50 putaran. Membayangkan nya saja, sudah membuat gadis itu lagi-lagi menggerutu, kesal jika harus melaksanakan nya.
Bias terlihat melangkah, menuju lapangan sekolah, samar-samar dering telpon seketika terdengar, membuatnya dengan cepat merogoh kantong seragam, meraih ponsel miliknya. Tarisa, saat kedua matanya melihat nomor yang tertera, tanpa pikir panjang, Bias segera menjawab panggilan nya.
"Lo dimana si, Bias!!" Seketika sang empunya nama terlihat menjauhkan ponsel yang sebelumnya berada didekat telinga, karena suara cempreng Tarisa, mungkin akan membuat tuli telinga nya.
"B aja, markonah!" Ketus Bias, tidak terima.
"Lo dimana? Kenapa, lo belum dateng ke sekolah, jangan-jangan, lo telat lagi,,," Bias hanya diam, menyimak. "Ya ampun, Bias!! Lo bener-bener ya" Sambung Tarisa, masih dengan suara yang menggebu-gebu. Bias sudah terbiasa dengan sikap berlebihan sahabat nya, meskipun tahu, gadis itu sangat perduli dengan nya, tetap saja menyebalkan jika mendengar suara cempreng nya.
"Di lapangan" Jawab Bias singkat, sebelum gadis itu mengakhiri panggilan nya, sadar dengan hukuman yang kini harus dikerja kan oleh nya.
Bias selalu saja berhasil membuatnya kesal, khawatir, mengingat bagaimana kelakuan nya, terlebih gadis itu baru saja memutuskan panggilan nya secara sepihak, padahal ia belum mendapatkan jawaban jelas dari nya. Helaan nafas lagi-lagi terdengar, membuatnya terlihat beranjak, memilih untuk segera keluar kelas, pergi ke tempat yang sebelumnya Bias sebutkan. Dengan langkah cepat, Tarisa pergi menuju lapangan, matanya seketika terbelalak, saat menemukan Bias tengah berlari, mengelilingi lapangan seorang diri.
__ADS_1
Tarisa sudah hapal bagaimana kelakuan sahabat nya, membuat gadis itu terlihat menggelengkan kepala, apa lagi jika bukan terlambat saat datang ke sekolah. Sudah berulang kali ia menasehati sahabat nya, agar berubah, tetap saja akhirnya hanya sia-sia. Sudah berapa kali gadis itu di keluarkan dari sekolah, hanya karena kelakuan nya yang selalu menjadi biang onar, membuat siapapun menggelengkan kepala, sama seperti nya.
Tarisa terus memperhatikan nya di pinggir lapangan, Bias yang melihatnya, terlihat datang ke arah nya, nafas nya tersegal-segal, peluh keringat mengucur dipelipis nya. Untung saja, sebelumnya Bias sempat mengganti seragam nya, yang kini terlihat mengenakan kaos putih polos juga celana jeans pendek selutut yang melekat pas ditubuh kecil nya.
"Rasain! Suruh siapa telat" Celetuk Tarisa, seraya menatap Bias frustasi, yang di tatap, terlihat menggedikkan bahu, tak perduli.
"Tega lo sama gue, bukan nya bawa minum, malah ngebacot" Bias terlihat mengibas-ngibaskan kedua tangan nya, merasa gerah, sekaligus panas, selepas mengelilingi lapangan sebanyak 50 putaran, kejam memang. Seketika kedua nya berbalik, menoleh ke arah sumber suara, saat seseorang terdengar mengintruksi nya.
"Ya, ampun! Apa-apaan ini" Teriak seorang wanita, yang terlihat lebih tua dari nya, datang menghampiri kedua nya.
"Apaan, sih!" Celetuk Bias tanpa sadar, saat wanita itu berada tepat dihadapan nya. Tatapan tajam, seketika dihadiahkan pada nya, membuat gadis itu memutar bola mata malas.
"Astaga, Ibu, nggak liat, saya baru selesai lari. Kalo saya pake seragam, yang ada bau, Bu" Ucap Bias terlihat santai, Tarisa yang mendengar nya, seketika menyenggol tangan nya, bahkan mencubit nya cukup keras. "Sakit, woy" Reflek Bias, seraya memukul tangan Tarisa, gadis itu hanya menatap nya tajam.
"Pake jawab, mau ngelawan!" Ucap nya lagi, dengan suara yang terdengar meninggi, kesal karena ucapan murid nya.
"Astaga naga, ya ampun, Ibu, jelas-jelas saya ngomong, bukan ngelawan" Bias masih berbicara, tak kunjung mengalah, wanita itu seketika menatapnya tajam, tidak percaya. Tarisa yang sadar, seketika menarik pergelangan tangan nya, membawa Bias pergi dari hadapan sang guru. Sadar Bias tak akan pernah mengakhiri percekcokan nya, gengsi, jika harus mengalah. Yang pasti, akan sia-sia jika berbicara dengan nya, dan hanya menguras kesabaran nya. Kedua nya terlihat berlari, meninggalkan sang guru yang kini berteriak, tidak terima melihat kelakuan murid nya.
__ADS_1
Kedua nya terus berlari, sampai akhirnya ditengah koridor, tanpa aba-aba seseorang datang menabrak tubuh Bias, membuat gadis itu seketika mengumpat. Tarisa dengan cepat membantu nya, karena gadis itu seketika terjatuh disamping nya.
Bias segera bangkit, wajah nya terlihat kesal. "Lo, nggak punya mata!" Teriak Bias, tanpa melihat siapa lawan bicara nya.
"Sorry, gue nggak sengaja" Bias seketika sadar, merasa tidak asing dengan suara nya, membuat gadis itu seketika mendongak, menatap ke arah nya. Apa yang dipikirkan nya, ternyata benar adanya.
"Lo lagi!" Ucap mereka, bersamaan. Kedua nya terlihat terkejut.
"Dunia ini, sempit banget! Sampe-sampe gue ketemu lagi, sama orang kaya lo" Teriak Bias, dengan tampang kesal. Begitupun sebaliknya, dengan Alvaro yang juga menatapnya kesal.
"Woy! Sadar, lo pikir gue mau ketemu sama lo, dasar Pokemon" Ucap Alvaro tidak terima, membuat sang gadis seketika bertambah kesal.
"Apa, lo bilang?!" Teriak Bias, lagi, tidak terima dengan apa yang baru saja ia dengar, laki-laki itu dengan santai mendekat ke arah nya, hingga jarak kedua nya terlihat cukup dekat.
"P-O-K-E-M-O-N" Ulang Alvaro, meng-eja ucapan nya.
"Sialan! Bener-bener ya lo" Bias terlihat mengepalkan kedua tangan nya, tepat diwajah Alvaro. Sedangkan laki-laki itu, terlihat menggedikkan bahu acuh, beranjak pergi meninggalkan nya begitu saja.
__ADS_1
Bias benar-benar tidak habis pikir, dengan apa yang baru saja terjadi pada nya. Wajah nya benar-benar kesal "Shit!" Teriak Bias, terdengar mengumpat. Tarisa yang sendari tadi diam, memperhatikan, kini terlihat menepuk pelan bahu sahabat nya, berusaha untuk membuatnya tenang.