After Meet You

After Meet You
AMY#15


__ADS_3


Happy Readingā¤


***


Bell pulang baru saja berdering. Tak sampai sedetik membuat seorang gadis tergesa-gesa. Merapihkan semua barang miliknya, sebelum beranjak lebih dulu keluar dari dalam kelas. Tepat didaun pintu. Suara lantang sekaligus cempreng, seketika terdengar. Membuatnya reflek menghentikan langkah kakinya. Berbalik, kearah sumber suara. Menatap seorang wanita, jauh lebih tua darinya. Wajahnya terlihat garang, menatap tajam kearahnya.


"Kebiasaan! Ibu belum keluar. Kamu selonong boy udah keluar duluan" ucap bu Widia, kebetulan wanita berperawakan sedang. Kaca mata yang bertengger dihidungnya. Hari ini yang mengisi jam pelajaran terakhir di kelas nya.


"Ya lagian Ibu, kenapa belum keluar" ucap Bias. Wajahnya terlihat santai. Membuat wanita itu kembali menatapnya tajam. Frustasi jika sudah berhadapan dengan Bias.


Teman-temannya terlihat antusias. Lumayan, melihat adegan seru sebelum pulang ke rumah.


"Kamu tidak boleh pulang sebelum bersihin toilet!"


Bias seketika terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang baru saja wali kelasnya ucapkan. Seketika ruang kelas ramai. Oleh gelak tawa teman-temannya. Membuat Bias terlihat menatap tajam kearahnya.


"Nggak bisa gitu dong bu!" ucap Bias tidak terima.


"Kenapa nggak bisa?!" sela bu Widia dengan cepat.


"Saya itu sibuk Bu" ucap Bias, namun tidak membuat keputuasan wanita itu berubah. Tidak ada alasan, untuk Bias menolak perintahnya. Mau tidak mau, harus mau melakukannya.


"Crocodile!" Bias berteriak, dengan suara toak andalannya. Selepas kepergian wali kelasnya.


Alvaro seketika mendengus, menatap kesal kearah Bias yang berdiri didepan pintu. Kali ini apa lagi yang akan gadis itu lakukan padanya.

__ADS_1


"Nyonya besar manggil tuhh" celetuk Rangga, dan tertawa setelahnya.


"Mantavvv" David ikut angkat suara. Membuat laki-laki itu menatap tajam keduanya.


"Lo budek! dari tadi gue panggil" ucap Bias. entah sejak kapan gadis itu sudah ada disampingnya. Wajahnya terlihat kesal, berkacak pinggang dihadapannya.


Alvaro hanya diam, tanpa mengalihkan pandangannya. Membuat Bias tanpa aba-aba menggebrak meja cukup keras dengan kedua tangannya. Membuat semua perhatiaan teralihkan padanya.


"Lo nggak waras! sadar ngga sih, lo itu cewek Bias" teriak Alvaro tiba-tiba. Bahkan kini bangkit dari tempatnya. Bias mengerjap, terkejut saat mendengar suaranya.


Kedua laki-laki yang tak lain sahabat Alvaro, tertawa saat melihatnya. Membuat gadis itu seketika tajam menatapnya.


"Lo berdua! siapa suruh ketawa" ketus Bias. Masih dengan tatapan tajam. Membuat keduanya bungkam.


"Dasar mak lampir" gumam Rangga. Namun tetap saja membuat Bias masih mendengarnya.


"Lo bener-benar!" kesal Bias. Gadis itu terlihat geram, mengepalkan kedua tangan tepat didepan wajah kedua laki-laki yang kini berada dihadapannya.


"Cukup! bisa diem nggak" teriak Alvaro. Membuat mereka reflek, dengan cepat bungkam ditempatnya. Menatap Alvaro yang kini beranjak, pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya.


"Tungguin gue!" teriak Bias, yang kini beranjak menyusulnya.


"Bias! lo mau kemana?" teriak Tarisa. Sejak tadi gadis itu hanya diam, terus menyimak.


"Lo pulang sama si Rangga aja!" teriak Bias. Membuat gadis itu reflek memandang kearah Rangga. Menggelengkan kepala setelahnya. Malu, karena tidak terlalu kenal dekat dengannya.


***

__ADS_1


Alvaro baru saja keluar dari dalam kelas. Wajahnya terlihat kesal. Benar-benar tak habis pikir dengan sikap Bias. Sehari saja hidupnya terbebas. Tenang tanpa gangguan ataupun mulut pedas gadis yang entah sejak kapan sudah Alvaro cap sebagai musuh bebuyutannya. Sepertinya Tuhan tengah mengujinya. Karena takdir begitu kejam padanya. Sejak pertemuan pertama sama hari ini, Alvaro selalu saja dipertemukan dengan Bias.


Ditambah, statusnya sekarang adalah budak Bias. Membuat laki-laki itu terlihat frustasi saat memikirkannya. Lebih baik diputuskan semua pacarnya, dibandingkan harus bertemu hampir setiap hari dengannya. Bisa-biasa, Alvaro mati muda karena gadis sepertinya.


Alvaro semakin mempercepat langkahnya. Saat tersadar, gadis itu lagi-lagi mengekor dibelakangnya. Bahkan berusaha agar bisa menyusulnya. Lagi-lagi takdir berlaku kejam padanya. Membuat Alvaro terlihat menghela nafas berat, mempersiapkan diri. Untuk menghadapi gadis Pokemon dihadapannya.


"Eh lo bener-bener ya! kenapa lo ninggalin gue? bosen hidup" teriak Bias, saat sudah berhasil menyusul dan menyamai langkahnya. Wajahnya terlihat kesal, menatap tajam Alvaro. Membuat Alvaro seketika kembali menghentikan langkahnya. Tidak nyaman dengan tindakannya.


"Woy Pikachu! Bisa kan lo nggak usah ikutin gue! sehari aja lo nggak ganggu gue" teriak Alvaro tiba-tiba. Bias ikut menghentikan langkahnya. Menatapnya dengan tampang terkejut.


"Yang bener mana? Pokemon apa Pikachu! bener-bener lo ya, asal ganti nama orang" kesal Bias, dengan tatapan tajam kearahnya. Alvaro menepuk wajahnya yang tak bersalah. Benar-benar Frustasi. Mungkin sebentar lagi ia akan terkena gangguan jiwa, hipertensi juga kerusakan pada gendang telinga dan matanya. Tidak bisakah Tuhan kirimkan gadis yang jauh lebih baik. Setidaknya jangan gadis seperti Bias.


"Selain kecil-bawel-nyebelin-ganggu, ternyata lo juga ****!" ucap Alvaro. Garam, kesal, emosi, darah tinggi. Semua menjadi satu, jika sudah bersama Bias.


"Wah nggak beres! sumpah ya lo, hina aja terus. Lo suci gue penuh dosa" ucap Bias terlihat mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Alvaro hanya mengabaikannya, memilih berlalu meninggalkan Bias begitu saja.


"Crocodile!!" Teriak Bias yang kini benar-benar sangat kesal dengan laki-laki yang baru saja pergi, dan hanya mengabaikan kehadirannya.


"Dasar Crocodile! nyebelin banget si lo jadi cowok"


"Nggak sadar diri!" ujar Alvaro dalam hati.


"Crocodile-Buaya-Siluman-Alvaro, tungguin gue!" teriak Bias lagi. Tak juga diam ataupun menyerah.


"Ngomong sana lo sama tembok!!" Teriak Alvaro disela-sela langkahnya, yang akhirnya buka suara. Membuat Bias benar-benar sangat kesal dan berlari cepat mengejarnya. Namun belum sempat ia melangkah, seseorang lebih dulu datang menghadangnya. Membuatnya terkejut, lupa menyeimbangkan tubuhnyq. Alhasil Bias terjatuh, menyentuh keras lantai koridor.


Dengan jelas Alvaro mendengarnya, suara seorang gadis yang terdengar meringis. Membuatnya kembali menghentikan langkah dan berbalik kearah sumber suara. Matanya dengan jelas, menangkap sosok Bias yang kini terduduk dilantai. Bersama seorang gadis, juga laki-laki dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2