
Happy Readingā¤
***
Sepersekian detik Alvaro sempat terdiam. Bungkam, dengan mata yang terus fokus memperhatikan kearah depan. Membuat laki-laki itu tanpa sadar, berlari, kembali menghampiri Bias. Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya terlihat cemas. Entahlah, Alvaro tidak tahu mengapa ia melakukan hal tidak penting seperti ini. Alvaro terduduk. Tepat dihadapan Bias. Berusaha untuk membantu Bias, yang kini menatapnya dengan mata berbinar.
"Lo nggak papa?" tanya Alvaro, terdengar cemas. Bias tanpa sadar tersenyum, menerima bantuan darinya. Sedetik kemudian, laki-laki itu ikut tersenyum membantunya.
"Ohh Alvaro-Crocodile kuhh! lo emang pahlawan kesiangan gue" ucap Bias. Senyum masiih mengembang diwajah cantiknya. Membuat Alvaro seketika bangga saat mendengar ucapannya.
"Lo nggak perlu puji gue. Udah seharusnya gue bantu lo" ucap Alvaro, terlihat menatap fokus gadis dihadapannya. Sepertinya wajah Bias tanpa sadar bersemu, membuat gadis itu seketika tersenyum malu menatapnya.
"I love you Alvaro!!" teriak Bias, tanpa aba-aba menghambur kepelukan Alvaro.
Seketika Alvaro merasa, jika seseorang baru saja mengguncang keras tubuhnya. Mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata.
"Lo waras?" ucap Bias. Gadis itu menatap Alvaro dengan tatapan aneh, sebelum berlalu meninggalkannya sendiri. Alvaro tersadar. Mengucek kedua matanya. Apa yang baru saja terjadi padanya.
Memang benar, sebelumnya Bias sempat terjatuh bahkan terduduk dilantai koridor. Karena seseorang yang tiba-tiba saja datang, membuatnya terkejut. Tentu saja hal itu tidak berlangsung lama. Tidak ingin malu, membuat Bias segera bangkit dan kembali berjalan. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Berbeda dengan Alvaro. Sejak tadi laki-laki itu hanya berdiri, bak patung yunani. Bahkan terus mengulum senyum idiot diwajahnya. Tatapannya lurus kedepan, kearah Bias yang bergidik saat melihatnya. Merasa ada sesuatu yang aneh pada Alvaro. Mungkin laki-laki itu kehabisan obat atau sejenisnya. Sampai-sampai membuatnya terlihat seperti orang tidak waras.
"Jadi? tadi gue halu" ujar Alvaro dalam hati.
__ADS_1
"Anjirr, sial banget hidup gue!" teriak Alvaro, terlihat mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar merasa malu, bagaimana mungkin ia bertingkah bahkan memikirkan hal yang tak pernah ia inginkan. Bahkan tidak sudi walau hanya membayangkan.
"Woy! kalo gila ke RSJ sana" suara Bias kembali terdengar dari arah belakang. Membuat Alvaro seketika menutup wajahnya, malu saat mengingat kejadian sebelumnya.
"Apa yang barusan gue pikirin" ucap Alvaro. Terlihat menggedikkan bahunya, menggelengkan kepala. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
***
Bias baru saja sampai di parkiran. Berpikir untuk segera masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir rapih dihadapannya. Namun terhenti, saat seseorang lagi-lagi datang mengganggunya. Membuat gadis itu dengan malas segera berbalik melihat siapa sosoknya. Matanya menangkap sosok laki-laki yang tak lagi asing. Andro yang kini berdiri, tersenyum dihadapannya. Bias bingung, bagaimana bisa laki-laki itu ada di sekolahnya. Lebih tepatnya, sekolah baru Bias.
"Lo kok, bisa disini?" tanya Bias. Mengeryit, bingung dengan kehadirannya. Andro menyodorkan kantong plastik berwarna putih kearahnya. Dengan cepat Bias segera menerimanya, tak sabar ingin melihat apa isi didalamnya.
"Maksudnya apa? kenapa kasih gue makanan" Bias kembali bertanya. Tak mengerti dengan apa yang tengah laki-laki itu lakukan.
"Kan lo tau, gue selalu bawa mobil. Ngapain sih pake acara jemput segala," ucap Bias terlihat menggelengkan kepala. "Terus lo tau dari mana sekolah gue?" sambungnya, masih penasaran dengan pertanyaan pertamanya.
Andro menggaruk tengkuknya. Nyengir kuda saat melihatnya. "Gue tau dari Tarisa" Andro benar-benar lupa jika Bias selalu mengendarai mobilnya sendiri. Sebenarnya apa yang sudah ia pikirkan. Lantas apa yang sekarang tengah ia lakukan. Sampai-sampai lupa dengan fakta itu.
"Tarisa" geram Bias, terdengar bergumam. Tanpa sadar terlihat menggelengkan kepala.
"Kenapa Bi?" tanya Andro. Samar-samar tak jelas mendengar ucapannya. Bias dengan cepat menggelengkan kepala, berniat untuk segera kembali membuka pintu mobilnya.
"Gue lagi buru-buru. Jadi gue duluan" ucap Bias, sekaligus berpamitan. Baru saja akan masuk kedalam mobil, Bias teringat sesuatu yang sejak kemarin ingin ia tanyakan. Membuat gadis itu kembali mengurungkan niatnya. Berbalik, kembali menatap Andro yang kini mengeryit.
__ADS_1
"Gue lupa. Gimana soal pelelangan yang seminggu lalu gue bahas?" tanya Bias, menatap laki-laki yang kini menatapnya.
"Lo nggak usah khawatir. Tenang aja, semuanya pasti beres ditangan gue. Langsung cek aja rekening lo, semua hasilnya udah gue transfer" ucap Andro, tersenyum bangga dihadapannya. Bias balas tersenyum. Ia akui, jika Andro memang selalu bisa diandalkan dalam hal apapun. Membuat Bias selalu puas dengan semua hal yang dikerjakan olehnya.
"Gue masih bingung," Bias mengeryit, menatap kearahnya. "Kenapa lo jual semua mobil hasil balapan? emang bokap lo nggak pernah kasih duit" sambung Andro. Sejak dulu ia selalu penasaran, mengapa setiap kali Bias menang balapan, mendapatkan mobil mewah milik lawannya. Selalu saja gadis itu lelang. Entah untuk apa uang sebanyak itu, saat mengingat harga jual mobil yang lumayan fantastis.
"Gue cuma butuh bantuan lo, buat lelang semua mobil gue. Selebihnya itu urusan gue, lo nggak perlu tau" ucap Bias, tak lupa tersenyum setelahnya.
"Lo, sama anak-anak udah dapet bagian?" tanya Bias. Andro hanya mengangguk. Sudah biasa jika mereka selalu mendapatkan bagian dari semua hasil lelang. Bahkan cukup banyak. Bias memang terlalu baik.
"Yaudah Bi. Gue juga mau balik, lo hati-hati dijalan" ucap Andro. Dan segera beranjak, pergi meninggalkan Bias seraya melambaikan tangan padanya.
"Makasih banyak! hati-hati" teriak Bias. Andro hanya mengacungkan jempol, tanpa berbalik kearahnya.
"Wihhh! tumben mak lampir baik" celetuk seseorang, dari arah belakang. Membuat gadis itu dengan cepat berbalik, melihat kearahnya.
"Please! lo bisa nggak sih sekali aja nggak ganggu hidup gue" ucap Bias, terlihat memutar bola mata malas. Sedangkan Alvaro, menatapnya tidak percaya.
"Woy! harusnya gue yang ngomong gitu sama lo!" teriak Alvaro, tidak terima.Matanya terus menatap Bias, membuatnya beberapa detik terdiam. Tentu saja Bias seketika bingung, karena Alvaro terus bertingkah aneh hari ini.
"Nggak usah liatin gue sampe segitunya juga kali! naksir, gue juga nanti yang repot" ucap Bias terlihat santai. Membuat Alvaro seketika sadar, mengerjapkan kedua matanya. Sedangkan Bias, dengan cepat segera masuk kedalam mobil. Meninggalkan Alvaro yang kini berdiri sendiri di parkiran sekolah, menatap diam kepergian Bias.
"Gue kenapa sih?" ujar Alvaro dalam hati. Laki-laki itu bingung. Entah apa yang sebanarnya terjadi. Sejak kapan ia bertingkah aneh setiap kali melihat Bias. Lagi pula, tidak seharusnya ia bersikap baik pada gadis yang selalu menyebalkan setiap kali bertemu dengannya. Entahlah, ia tidak ingin memikirkannya. Lebih baik segera pergi, karena banyak janji temu yang harus ia kunjungi.
__ADS_1