
Setelah hampir satu jam Alvaro terus bercengkrama dengan toilet yang berjejer. Akhirnya laki-laki itu berhasil untuk menyelesaikan hukuman yang sengaja ditimpakan padanya. Dengan nafas yang terlihat naik-turun, Alvaro terlihat melangkahkan kaki menuju ruang kelas diikuti kedua sahabatnya yang terdengar menghela nafas berat. Mengapa semua ini terjadi pada mereka? kalau saja tidak kasihan dengan Alvaro, tidak sudi jika harus menyentuh sikat toilet, dan alat pembersih lantai.
Belum sempat mereka sampai di kelas. Di lorong koridor terlihat seorang gadis yang baru saja datang, kearah mereka dengan senyum mengembang yang tercetak jelas diwajahnya. Langkahnya terlihat cepat, tak sabar ingin segera menyapa Alvaro. Disampingnya, terlihat seorang laki-laki yang terus mengekor, kemanapun gadis itu pergi.
"Dia lagi," gumam Rangga, terlihat menghela nafas berat. Begitupun dengan kedua sahabatnya, yang juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Alvaro!" suaranya terdengar, memanggil nama Alvaro. Membuat laki-laki itu seketika memutar bola mata malas. "Lo dari mana? kok sampe keringetan gitu sih" ucap Mauren dengan tampang menggelikan, membuat mereka terlihat memutar bola mata malas.
"Bukan urusan lo!" ucap Alvaro, terdengar kesal. Hari ini moodnya sudah benar-benar buruk, jangan sampai karena tingkahnya, membuat moodnya hancur.
"Loh kok gitu, gue cuma tanya Alvaro" ucap Mauren lagi. Gadis itu tidak pernah mengerti, padahal suasana sekitarnya tengah tidak baik. Terlebih suasana hati Alvaro.
Laki-laki yang sejak tadi hanya diam disamping Mauren, terlihat kesal. Terlebih saat melihat Mauren diperlakukan tidak baik oleh laki-laki dihadapannya.
"Udah lah Ren! lo ngapain sih. Buang waktu tau nggak" ucap Leo terlihat kesal. Tidak suka saat melihat sikap yang Alvaro tunjukkan pada Mauren. Sedangkan Mauren, seketika menatapnya tajam. Membuat laki-laki itu seketika bungkam.
"Gue sibuk! nggak ada waktu, masih banyak urusan. Jadi lo diem disini" ucap Alvaro, sebelum beranjak pergi meninggalkan mereka. Diikuti kedua sahabatnya yang terlihat melambaikan tangan kearah Mauren, dengan cengiran menyebalkan andalannya.
"Dadah!" teriak Rangga, juga David bersamaan. Membuat gadis itu semakin kesal, bahkan menggerutu tidak terima.
"Udah tau dia nggak suka sama lo. Masih aja ngejar-ngejar! harga diri lo dimana Mauren" ucap Leo terdengar kesal. Laki-laki itu terlihat menggelengkan kepala, frustasi dengan tingkah Mauren.
"Bodo amat! hati gue udah mentok sama dia. Suka banget sama cowok kaya dia" ucap Mauren, sebelum beranjak pergi meninggalkan Leo dengan tampang kesal.
__ADS_1
Mauren tidak suka jika Leo selalu ikut campur dengan semua urusannya. Terkadang gadis itu kesal, karena Leo selalu mengekor kemanapun kaki membawanya pergi.
.
.
.
.
Hari ini sepertinya akan Bias cap menjadi salah satu hari yang berkesan untuknya. Tidak hanya berhasil mengusir rasa bosan. Melainkan berhasil mengerjai Alvaro dengan hasil yang cukup memuaskan. Sejak tadi Bias tidak juga berhenti tertawa. Entah mengapa setiap kali membayangkannya lagi, membuat Bias lagi-lagi tertawa.
Tarisa yang sejak tadi disampingnya, lagi-lagi menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya. Sepertinya Bias benar-benar sudah gila sekarang. Tidak tahu apa lagi yang mungkin bisa gadis itu lakukan kedepannya. Membuat Tarisa terlihat menghela nafas frustasi. Sudah sering kali ia berusaha untuk menasehati, namun tetap saja tidak pernah Bias dengarkan. Sampai-sampai gadis itu berulang kali dikeluarkan dari sekolah, hingga membuat orang tuanya merasa frustasi.
"Bias! lo dengerin gue nggak sih" teriak Tarisa lagi. Dengan wajah yang terlihat seolah akan menangis.
"Utu-utu-utu sayang, sini-sini Mamah beliin cucu ya" ucap Bias, terlihat menjijikan. Membuat Tarisa, reflek selangkah lebih jauh darinya.
"Najis! amit-amit" ucap Tarisa, menggedikkan bahu. Setelahnya terdengar tawa dari keduanya.
"Woy Pokemon!" suara seorang laki-laki terdengar, membuat kedua gadis itu reflek berbalik. "Enak banget lo disini!" ucap Alvaro terdengar kesal. Laki-laki itu terlihat datang menghampirinya, dengan nafas tak beraturan. Peluh keringat jelas bercucuran dipelipisnya. Membuat Bias seketika tertawa saat melihat penampilan Alvaro yang benar-benar berantakan.
"Lo ngapain? abis mandi" ucap Bias terdengar santai disela-sela tawanya. Membuat Alvaro semakin kesal, mendapat respon tak menyenangkan dari gadis dihadapannya. Bahkan darahnya seketika bergejolak, ingin sekali mencakar wajah santainya.
__ADS_1
"Puas lo sekarang!" ketus Alvaro, menatap Bias tajam. Membuat gadis itu seketika berusaha untuk segera menghentikan tawanya. Bukan untuk minta maaf, namun tanpa aba-aba mencekal pergelangan tangan Alvaro. Menarik paksa laki-laki yang kini menggerutu untuk ikut bersamanya. Tentu saja hal itu membuat teman-temannya terkejut, tak habis pikir dengan tindakan Bias. Berniat untuk segera menyusul, namun Tarisa lebih dulu menghentikan niatnya.
"Woy mau dibawa kabur kemana temen gue?!" teriak Rangga, terlihat khawatir.
"Ellah! lebay banget lo. Nggak akan juga temen lo dibunuh sama Bias" ucap Tarisa, terlihat memutar bola mata malas.
"Yakan gue khawatir sama sahabat gue yang tersayang" ucap Rangga dramatis. Membuat gadis disampingnya terlihat bergidik ngeri.
"Najis!" teriak Tarisa, meninggalkan Rangga. Ingin segera duduk ditempatnya.
"Lo berdua!" suara Tarisa kembali terdengar. Membuat keduanya seketika menoleh, menatap dengan alis tertaut kearah Tarisa.
"Ganti baju! bau tau nggak" ucap Tarisa, berlagak menutup hidungnya. Membuat keduanya terbelalak, bahkan reflek mengendus tubuhnya sendiri.
"*****! bisa-bisa ceciwi pada kabur kabeh!" teriak Rangga tiba-tiba. Terdengar heboh, melebihi seorang wanita.
"Mamih!! gue bau" teriak David, tak kalah heboh. Sedangkan Tarisa hanya menggelengkan kepala. Melihat tingkah teman sekelasnya yang benar-benar absurd. Seketika keduanya terliat beranjak, keluar dari dalam kelas. Membuat gadis itu reflek menepuk wajahnya, tidak tahu apa yang sudah terjadi hari ini. Begitu banyak hal yang membuatnya frustasi.
Alvaro benar-benar tidak terima, dengan apa yang baru saja Bias lakukan padanya. Saat gadis itu terus menarik pergelangan tangannya dengan sangat erat. Membuatnya merasa kesulitan untuk melepaskan cekalannya. Entahlah, Bias seorang gadis atau bukan. Benar-benar jauh dari kata lembut.
Alvaro tidak tahu Bias akan membawanya kemana, sejak tadi gadis itu hanya menariknya, tak juga buka suara. Hingga akhirnya mereka sampai diparkiran sekolah. Tepat berada didepan Laborghini milik Bias. Membuat gadis itu akhirnya melepaskan tangannya.
"Masuk" titah Bias terdengar tegas. Alvaro hanya diam, mengeryit bingung. Entah apa yang akan dilakukan Bias padanya.
__ADS_1
Bias menghela nafas, sebelum membuka pintu mobilnya. Mendorong paksa Alvaro untuk segera masuk kedalam. Tentu saja Alvaro tidak terima, seolah dirinya baru saja menjadi korban penculikan. Bahkan kini berada digenggaman seorang gadis.