After Meet You

After Meet You
AMY#17


__ADS_3

Happy Readingā¤


***


Bias melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Membelah jalanan yang sedikit lenggang, tidak seperti biasanya. Hari ini seperti biasa. Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Gadis itu selalu datang, dan terlihat menginjakkan kakinya disebuah pekarangan rumah cukup besar. Dengan banyaknya pohon juga tumbuhan lain yang membuat suasana terliha rindang, juga terasa segar.


Selepas mengganti seragamnya, Bias pergi ke Atm. Menarik beberapa uang tunai, yang tak terlalu banyak jumlahnya. Dan dengan cepat segera memacu mobilnya, datang ke tempat ini. Tempat yang sudah tak lagi asing sejak dulu. Papan besar, terpasang jelas dihadapannya, "Panti Asuhan Melati."


Bias beranjak, untuk segera masuk ke dalam rumah dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya. Membuat sosok yang sejak tadi, diam-diam terus mengekor dibelakangnya, tanpa sadar ikut tersenyum saat melihatnya. Sekaligus merasa bingung, mengapa gadis sepertinya datang ke tempat ini. Lantas siapa sebenarnya Bias. Mengapa semakin ia lebih dalam mengenalnya, begitu banyak rahasia yang tersimpan dalam dirinya.


Bias baru saja masuk, kedalam ruangan yang sudah sangat akrab untuknya. Seketika semua penghuni, terdengar menyambut hangat kedatangannya. Sambutan hangat yang selalu Bias dapatkan setiap kali berkunjung ketempat ini. Membuatnya selalu rindu, barang sehari saja tak datang kesini. Ibu panti baru saja datang, dengan nampan berisi segelas air ditangannya. Senyum tak lupa terpancar diwajahnya.


"Ibu seneng banget, kalo nak Bias datang kesini. Anak-anak juga nanyain terus, udah kangen sama kak Bias, katanya" ucap Ibu Yanti. Selaku pengurus panti asuhan.


"Iya kak, kita kangen bange sama kakak" ucap salah satu anak perempuan, yang diangguki oleh teman-temannya. Bias lagi-lagi tersenyum, merasakan kehangatan keluarga yang selalu dirasakan olehnya setiap kali datang kesini.


"Aduhh, baru dua hari kakak nggak kesini. Udah kangen ternyata" ucap Bias, tertawa setelahnya.


"Kak Ias baik banget sama kita. Makannya kangen telus sama kak Ias" ucap gadis kecil berumur 3 tahun, yang baru saja datang menghampirinya. Terdengar menggemaskan, saat Bias mendengar ucapannya yang sulit mengatakan hurup R. Dan selalu memanggilnya dengan sebutan Ias. Katanya biar sayang, saat Bias pertama kali mendengarnya.

__ADS_1


"Wahh Naya bisa aja," ucap Bias seraya menyentuh kedua pipinya. Membuat gadis kecil dihadapannya tersenyum.


"Kalo gitu, kak Bias harus kasih hadiah dong," terlihat anak-anak yang kini menatapnya antusias, bertambah semangat dari sebelumnya. "Siapa disini yang mau hadiah?" tanya Bias semangat.


"*Aku"


"Naya"


"Raka"


"Aku*"


Suara anak-anak terdengar antusias, bersemangat, mengelinginya dengan wajah berbinar. Membuat gadis itu tersenyum hangat, bahagia setiap kali melihat senyum dari mereka.


Bias menatap bu Yanti. Menyerahkan amplop coklat yang baru saja gadis itu keluarkan dari dalam tas. Bu Yanti tersenyum, bersyukur saat menerimanya.


"Nak Bias, ini banyak sekali. Nak Bias udah terlalu banyak bantu, Ibu nggak tau harus ngomong apa lagi. Ibu sangat berterima kasih" ucap bu Yanti, matanya terlihat berkaca-kaca. Meski senyum terus mengembang diwajah renta nya.


"Maaf bu. Bias nggak bisa kasih banyak" ucap Bias, terlihat menunduk.

__ADS_1


Hari ini Bias hanya bisa memberi sedikit. Mengingat ia sudah jarang mengikuti balapan mobil lagi. Bahkan kemarin, gadis itu tak mendapatkan apa-apa. Memang hasil penjualan mobil, terbilang cukup banyak. Namun Bias sudah membagikan dan memberikan pada teman-temannya. Karena sudah terlalu banyak membantunya. Bias tidak pernah memakai uang itu untuk kebutuhan pribadinya. Ia memilih untuk memberikan pada orang-orang yang lebih membutuhkan.


Semua orang selalu menganggap Bias pribadi yang kejam. Tak punya perasaan. Selalu bertingkah seenaknya. Tak perduli dengan lingkungan. Bias bukan gadis yang baik. Selalu bergaul dengan anak-anak berandal. Terlebih hidupnya yang selalu berkecukupan. Membuat semua orang mencap dirinya dengan hal-hal jelek. Jangan karena katanya, membuat kita menjudge orang sebelum tahu nyatanya.


"Ini jauh lebih dari cukup nak. Ibu bersyukur. Sekali lagi terima kasih" ucap bu Yanti, terlihat meneteskan air mata. Membuat gadis itu dengan cepat memeluknya.


"Kalian semua keluarga aku, jangan pernah ngerasa nggak enak" ucap Bias, masih terus memeluknya.


Bagi Bias, bu Yanti sudah seperti orang tuanya. Ibu kandungnya. Karena Bias, sudah hampir 5 tahun tak lagi memiliki sosok Ibu. Saat itu, 5 tahun yang lalu Ibu meninggalkannya, karena kecelakaan. Membuat Bias sangat terpukul, mengurung diri berminggu-minggu didalam kamarnya. Bergaul dengan sembarang orang, melampiaskan emosinya dengan balapan liar. Bahkan pernah sekali, Bias hanpir kehilangan nyawa, mengalami kecelakaan saat di sirkuit balap.


"Kak Bias dateng sama pacar kakak ya?" ucap seorang anak laki-laki yang baru saja datang menghampirinya. Membuat Bias seketika mengeryit, saat mendengarnya. Jelas-jelas Bias selalu datang sendiri. Tarisa saja tidak pernah tahu sampai saat ini. Lantas siapa yang dimaksud Raka. Membuat Raka tanpa aba-aba menariknya, membawa Bias keluar. Benar saja. Diluar terlihat seorang laki-laki berperawakan jangkung, sepertinya tidak asing saat Bias memperhatikannya.


Dengan cepat Bias beranjak, datang menghampirinya. "Lo ngapain disini?" tanya Bias. Membuat Alvaro seketika terkejut, tak sadar dengan kehadirannya.


"Lo ngikutin gue?" Bias menatap tajam Alvaro. Laki-laki itu tak juga buka suara. Hanya menggaruk tengkuknya, saat tertangkap basah oleh Bias.


Bias meminta Raka untuk kembali. Bermain bersama teman-temannya didalam.


"Maaf. Gue nggak sengaja liat lo tadi" ucap Alvaro yang sudah berdiri dihadapannya. Posisi kepalanya menunduk. Membuat Bias menggelengkan kepala melihatnya.

__ADS_1


"Kalo nyari alesan, pinteran dikit!" ketus Bias. Gadis itu terlihat memutar bola mata bosan. Entah untuk keberapa kali dalam sehari Bias bertemu dengan Alvaro. Laki-laki menyebalkan yang selalu muncul dimana-mana. Entahlah, Bias juga tak habis pikir dengannya. Bukankah sejak awal laki-laki itu yang tak ingin lagi bertemu dengannya. Sedangkan sekarang, malah sebaliknya. Selalu saja bertemu. Bahkan ini keduanya terjalin perjanjian, seorang nyonya dan budak.


Belum sempat Alvaro membuka suara, sebuah mobil terdengar, dan terparkir tepat dihadapan mereka. Membuat Bias terlihat mengabaikannya, beranjak meninggalkan Alvaro. Menghampiri Mobil Box yang kini sudah berhenti dihadapannya. Alvaro dengan cepat ikut beranjak, menghampiri Bias yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


__ADS_2