
Bias hanya menghela nafas berat karena sendari tadi tidak ada satupun yang menanggapi ucapannya, bahkan sang Guru kini hanya terdiam ditempatnya membuat ia benar-benar sangat kesal sekarang. Sedangkan Alvaro terlihat sangat jelas tengah menatapnya dan tersenyum kearahnya, seketika Bias menguatkan cekalan tangannya membuat laki-laki itu meringis karena ulahnya. Sedangkan Mauren sendari tadi sudah menahan rasa kesalnya karena kehadiran gadis yang sangat tidak disukainya, bahkan menjadi alasannya melakukan semua ini.
"Bias lo nggak usah sok jadi pahlawan ya disini! Kita nggak butuh masukan dari lo" Ucap Mauren yang akhirnya angkat bicara karena benar-benar sudah merasa kesal padanya, sedangkan Bias terlihat menatapnya dan tanpa sadar menghampirinya dengan langkah santai, membuat gadis itu tanpa sadar memundurkan langkahnya.
"Loh kenapa mundur, lo nggak mungkin takutkan sama gue?" Ucap Bias santai, namun terlihat menyeramkan untuk semua mata yang menatapnya.
"Gue cuma nggak suka lo deket-deket sama gue!" Balas Mauren tidak terima seraya menatapnya, membuat Bias segera mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Guru.
"Udah ya Pak kita langsung ke inti, kalo disini Alvaro sama sekali nggak salah. Meskipun Bapak nggak terima, saya Bisa bawa masalah ini langsung ke Kepala Sekolah" Ucap Bias tanpa rasa takut, bahkan terlihat sangat santai. Karena baginya adalah hal yang biasa, bahkan ia pernah melakukan hal yang lebih dari ini meskipun akhirnya tetap dikeluarkan. Terdengar sang Guru yang kini menghela nafas berat, dan kembali menatap kearah muridnya.
"Yaudah kalian Bapak maafkan, tapi jangan pernah ulangin kesalahan yang sama lagi" Ucapnya tiba-tiba seraya menghela nafas, hal itu membuat Mauren bertambah kesal. Baru saja gadis itu akan menyerukan pendapatnya, namun sang Guru lebih dulu meminta mereka untuk segera kembali ke kelas.
"Gue mau ngomong sama lo!" Ucap Bias tiba-tiba seraya menarik pergelangan tangan Mauren dan meninggalkan kedua laki-laki yang kini menatapnya bingung, baru saja Leo akan menyusul namun Alvaro lebih dulu menghalanginya.
__ADS_1
"Lo nggak perlu ikut campur sama urusan mereka" Ucapan Alvaro membuat laki-laki menatapnya kesal.
"Ini semua gara-gara lo! Kalo aja lo nggak dateng ke Sekolah ini, Mauren nggak mungkin suka dan bertindak bodoh demi lo" Ucap Leo tanpa sadar, tentu saja hal itu membuat Alvaro mengeryitkan dahi bingung dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Maksud lo apa?" Tanya Alvaro yang kini menatapnya tajam, membuat laki-laki itu hanya menghela nafas berat.
"Sebelumnya gue minta maaf atas nama Mauren, tapi gue ngelakuin ini bukan demi kalian tapi demi Mauren" Alvaro benar-benar muak dengan Leo yang kini bertele-tele dan membuat ia semakin penasaran.
"Mauren yang buat semua pacar lo ngelabrak Bias, dia juga yang udah sebar tentang Bias. Karena Mauren suka sama lo" Ucap Leo seraya menghela nafas berat, karena ia tahu jika hal ini akan membuat Mauren marah besar padanya, namun tetap saja hal ini adalah yang terbaik untuknya, karena rasa cintanya pada Mauren lebih besar dari rasa takutnya pada gadis itu.
"Tenang aja, gue nggak pernah suka sama Mauren. Jadi lo nggak perlu khawatir" Ucap Alvaro seraya menepuk bahunya, dan segera beranjak pergi untuk mencari Bias.
Alvaro benar-benar sangat senang sekarang, akhirnya pertanyaan nya sudah sepenuhnya terjawab dan tidak akan ada lagi kesalah pahaman antara ia dan Bias nantinya.
Tarisa benar-benar sangat bingung sekarang, karena sahabatnya sendari tadi terus diam terduduk dikursi kayu bawah pohon. Bahkan berkali-kali ia mengajukan pertanyaan, tetap saja gadis itu terus diam enggan untuk menanggapi. Hingga akhirnya ia terpaksa meninggalkan Bias, karena ia tahu jika gadis itu membutuhkan waktu sendiri. Meskipun rasa penasarannya sangat besar, namum tetap saja ia tidak bisa memaksa sahabatnya untuk bercerita sekarang.
__ADS_1
"Yaudah kalo gitu gue duluan Bi" Ucap Tarisa pamit, namun tiba-tiba gadis itu menangis membuat ia kembali mendudukkan diri disampingnya dan memeluk sahabatnya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya, mengapa gadis itu menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun dari bibirnya. Begitu banyak pertanyaan yang singgah dibenaknya namun tak ada satupun yang terjawab.
Pi**ct Rangga David, si manusia absurd😂😍
~Rangga Adi Pangestu
~David Leo Avandi
__ADS_1