
Nggak selama nya harta, bisa buat lo bahagia. Ada kala nya, lo selalu merasa kesepian, walaupun hidup, serba berkecukupan.
***
"Mau sampe kapan, kamu terus-terusan kaya gini? Kerjaan kamu nggak berguna, menghambur-hamburkan uang, cuma ngabisin uang dan uang, waktu kamu terbuang sia-sia!"
Laki-laki yang bernotabe sebagai ayah nya, kini terlihat menghela nafas berat, frustasi dengan kelakuan anak nya. Alvaro hanya memutar bola matanya, malas, terus mendengar celotehan yang sama dari orang tua nya.
"Kan papah, pernah bilang, papah itu kerja ya buat Al, jadi nggak salah dong kalo Al nikmatin hasil nya" Ucapan Alvaro terdengar santai, seraya beranjak, mendudukkan diri dihadapan sang Ayah. Membuatnya menggelengkan kepala, benar-benar putus asa, menghadapi putra semata wayang nya.
Sang ayah terlihat menghela nafas,
"Papah udah urus kepindahan kamu, besok kamu harus pergi ke sekolah baru" Seketika laki-laki itu bangkit, terkejut dengan ucapan sang Ayah. "Nggak ada penolakan!" Sambung sang ayah tegas. Alvaro tidak terima, karena sudah ketiga kalinya ia harus pindah sekolah, benar-benar membosankan, sekaligus menyebalkan. Padahal usaha nya sia-sia, karena tidak akan ada yang berubah, begitupun dengan pergaulan nya, teman-temannya, mereka akan tetap ikut, saat mendengar Alvaro dipindah kan, kemanapun dan dimanapun ia di sekolah kan.
"Udah lah, Pah, percuma Papah ngelakuin hal kaya gini, sia-sia, mau Al pindah kemanapun nggak ada guna nya"
"Cukup! Mau, Papah sita semua fasilitas, juga keuangan kamu" Ucapan nya membuat laki-laki itu diam, bungkam tak lagi bersuara, mau tidak mau akhirnya ia harus menurut dengan ucapan sang ayah, karena lagi-lagi hal yang sama, selalu berlaku sebagai ancaman untuk nya. "Oke, Fine!" Ucap Alvaro, sebelum laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkan sang Ayah yang kini menatapnya frustasi, menghela nafas berat karena putra nya tak sedikitpun berubah. Mungkin, ini semua karena ia yang sebelumnya terlalu memanjakan anak satu-satunya, putra kesayangan nya.
📱
__ADS_1
Selepas Alvaro beranjak masuk ke dalam kamar, laki-laki itu langsung membersihkan diri, juga mengganti pakaian nya, merebahkan tubuh nya, membuka layar ponsel, melakukan Video call dengan teman-temannya. Rasa kesal masih terus di rasakan oleh nya, mungkin kini merasuki jiwa nya, orang tua nya benar-benar sangat menyebalkan, selalu seenak nya sendiri, tak pernah memikirkan perasaan nya.
"Sumpah, gue capek dong lama-lama, Bokap, nggak pernah berubah dari dulu" Alvaro terus menggerutu, membuat mereka lagi-lagi terlihat menghela nafas berat.
"Astaga, serius! Masa pindah sekolah lagi, belum juga di nobatin, penghargaan juga belum dapet" Ucapan Rangga seketika membuat mereka menautkan alis, bingung dengan apa yang baru saja mereka dengar, Rangga terlihat menghela nafas berat.
"Penghargaan, apaan?" Tanya David penasaran, sekaligus bingung, sama hal nya dengan Alvaro, yang kini hanya diam.
"Sebagai, pemengang rekor Playboy, di sekolah" Ucap Rangga dengan tampang santai, terlihat tidak jelas, bahkan tertawa setelah nya.
"Gue kira, apaan bgst!" Teriak David, tidak habis pikir dengan jawaban yang baru saja Rangga lontarkan.
"Alah! Muna banget, bukannya lo Al, yang ngabisin stock cewek di sekolah" Ucap Rangga, terang-terangan, sedangkan David seketika tertawa. "Bener, lo, bener anjirr!" Celetuk David disela-sela tawanya.
Sedangkan Alvaro, seketika memutuskan sambungan Video call nya, terlihat menghela nafas berat setalah nya. "Sialan! Gue juga kagak mau-mau amat" Ucap Alvaro seraya memejamkan mata nya.
"Ngapa tu bocah, ngambek tah?" Rangga masih terus berlanjut bersama David, keduanya heran dengan tingkah Alvaro.
"Paling-paling, badmood tu anak" Ucap David santai, hal biasa jika melihat Alvaro seperti itu.
__ADS_1
"Yaudah, gue mau manja-manja dulu sama bebep" Celetuk Rangga tidak tahu malu, tanpa aba-aba segera mengakhiri Video call nya.
"Najiss!" Umpat David.
🏡
Setelah mengantar Tarisa pulang, mampir sebentar untuk sekedar istirahat, sekaligus numpang makan, gadis itu akhirnya sampai di rumah, rumah besar, terlihat sangat mewah meski kini benar-benar terasa sepi. Hal biasa untuk Bias, tak lagi merasa aneh, meski tak pernah ada canda juga tawa yang menghiasi, celotehan hangat, perkumpulan keluarga, ataupun sejenisnya. Sunyi, sepi, selalu menyelimuti, menggambarkan bagaimana suasana rumah nya, meski ada rasa tenang secara bersamaan.
Bias terlihat mendudukkan diri di sofa ruang tamu, merebahkan kepala nya di sandaran sofa, helaan nafas mulai terdengar, frustasi. Sepertinya hidup miskin, diselimuti kehangatan keluarga jauh lebih menyenangkan, merasa disayang setulus hati, ditemani selama hari-hari beratnya, terkadang ia ingin merasakan nya. Air mata, bahkan tak lagi mampu mengalir, muak, dengan kesibukkan sang ayah. Selalu pergi, kesana kemari, jauh dari nya, meninggalkan nya sendiri di rumah sebesar ini. Bahkan kini, Bias baru saja mendengar jika ia kembali dipindah kan ke sekolah baru, entah sudah keberapa kali. Alasan nya klise, karena lagi-lagi di keluar kan oleh pihak sekolah.
Meski ada janji, dimana Tarisa akan selalu menemani nya, selalu ada bersama nya, tetap saja ia merasa tak tega dengan sahabat nya, gadis itu rela berpindah-pindah sekolah demi dirinya. Tarisa, bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan orang tua nya juga kaya, tetap saja berbeda dengan nya, gadis itu selalu mendapatkan kasih sayang, kedua orang tua, juga selalu berkumpul dengan keluarga nya, gadis yang sangat beruntung, membuat Bias terkadang iri pada nya.
"Non, kapan pulang? Kok Bibi nggak denger" Ucap seorang wanita paruh baya, yang baru saja datang menghampiri nya. "Barusan Bi" Bias terlihat bangkit dari tempatnya, beranjak untuk segera menuju kamar nya yang terletak dilantai tiga. Suara Bibi kembali terdengar, menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap kearah nya.
"Tuan bilang, besok Non, udah bisa masuk ke sekolah" Bias hanya mengangguk sekilas, menghela nafas, dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Wanita itu terlihat menghela nafas, menatap nanar punggung kecil ringkih, merasa prihatin, sekaligus tidak tega dengan keadaan nya.
Sejak dulu, ia sangat tahu, bagaimana gadis itu selalu merasa kesepian, tak ada senyum yang tampak diwajah nya, meski diluar, berlaku sebaliknya. Bias sudah seperti anak nya sendiri, karena sejak kecil ia sudah mengurus nya, tahu betul bagaimana sikap majikan nya. Bias, tak hanya nakal, brandal, secara bersamaan gadis itu juga rapuh. Namun sebenarnya, dia gadis yang sangat baik, sebelum semua nya berubah, merubah segala hal dengan sangat cepat.
"Kasian, Non Bias" Ucap nya tulus, seraya menyeka air mata yang tanpa sadar terjatuh.
__ADS_1