
Mungkin sejak dulu memang sudah seharusnya Bias membenci Alvaro dan tetap menjadi musuhnya, atau mungkin lebih baik jika tidak pernah bertemu dengannya. Karena sejak dulu ia tidak pernah jatuh cinta pada siapapun, namun berbeda sejak kehadiran Alvaro. Meskipun mereka selalu bertengkar, namun tanpa sadar ia merasa kehilangan setiap kali hal itu tidak terjadi padanya, seolah hidupnya hampa tanpa adanya perselisihan dan pertengkaran kecil disela-sela aktivitas sekolahnya. Bias sama sekali tidak tahu sejak kapan hal ini terjadi padanya, karena ia sama sekali tidak sadar dengan perasaanya sendiri.
Sejak kejadian yang sempat terjadi seminggu yang lalu, tepat saat Alvaro menyatakan perasaannya secara tidak langsung, membuat ia selalu memikirkannya yang akhirnya tersadar jika ia juga memiliki perasaan yang sama dengan laki-laki itu. Namun disaat ia ingin membuka hati dan menerima Alvaro, entah mengapa banyak sekali kejadian yang menghampirinya, terutama saat Alvaro memutuskan semua kekasihnya dan menjauh dari semua wanita yang mendekatinya, dan karena hal itu Bias yang kini selalu menjadi sasaran mereka. Bahkan Bias sama sekali tidak tahu soal mereka dan tidak pernah mengenal satupun dari mereka. Lantas bagaimana mereka tahu perihal dirinya, siapa yang memberitahu mereka.
"Gue minta maaf ini semua salah gue, kalo aja lo nggak pernah ketemu sama gue mungkin lo nggak akan ngalamin kejadian kaya gini. Gue juga minta maaf kalo udah naruh perasaan sama lo" Ucap Alvaro membuat gadis itu seketika menatapnya, entah mengapa ada perasaan tak rela yang datang menghampirinya. Seolah setelah ini tidak akan ada lagi pertemuan diantara mereka, seolah ini benar-benar perpisahan yang terjadi diantara mereka.
__ADS_1
"Kenapa kisah kita nggak bisa semulus cerita dongeng? Kenapa disaat cinta datang, namun keadaan yang nggak mengizinkan. Mungkin emang udah seharusnya gue selalu kesepian, nggak pernah kenal sama apa itu cinta" Ucap Bias seraya menyeka air mata yang kembali jatuh dipipinya, lidahnya benar-benar terasa kelu saat setiap kalimat keluar dari bibirnya.
"Gue minta maaf karena luka yang gue kasih buat lo, apa kita bener-bener nggak bisa jalin hubungan, apa kita bener-bener harus musuhan?" Ucap Alvaro seraya menatapnya. Seketika Bias tertawa saat mendengarnya sesekali kembali menyeka air matanya, namun bukan tawa bahagia atau tawa merendahkan.
"Bukannya kita sebelumnya emang musuh, kenapa harus berat jalanin itu lagi. Kita selama ini bukan temen" Ucap Bias disela-sela tawanya, dan kembali menyeka air matanya yang tak juga berhenti.
"Lo juga cinta pertama gue, tapi kita bener-bener nggak bisa" Ucap Bias, seraya beranjak dan memilih untuk segera pergi meninggalkan Alvaro sendiri, sedangkan laki-laki itu kini terduduk dikursi kayu didekatnya dengan frustasi.
__ADS_1
"Kita bahkan belum pacaran, tapi kenapa udah berpisah. Seolah kita baru aja putus hubungan" Ucap Alvaro dalam hati.
"Kenapa jatuh cinta harus sesakit ini? Kenapa mencintai kamu harus sesulit ini" Ucap Bias dalam hati, seraya terus melangkahkan kakinya.
Mungkin benar kata orang, jika kita mencintai seseorang begitu dalam dan besar membuat kita harus siap merasakan kesakitan yang juga tak kalah besar dari cinta kita untuknya. Bahkan karena sekarang gadis itu benar-benar mencintai Alvaro begitu dalam membuatnya harus rela melepaskannya, sebab mencintai tak selamanya harus memiliki. Karena mau bagaimanapun Tuhan yang memberi cinta dan Tuhan yang menentukan segalanya, jika nanti Alvaro benar-benar ditakdirkan untuknya, tentu saja Tuhan akan kembali mempersatukan keduanya, sebaliknya jika Tuhan tidak mengizinkan hal terberat adalah mengikhlaskan segalanya dan berdamai dengan masa lalu.
Mungkin cinta pertamanya akan terasa sangat menyakitkan, namun hal itu tidak membuat Bias menyesalinya, bahkan gadis itu bersyukur masih bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta meskipun tidak berakhir menyenangkan dan membahagiakan. Bahkan ia juga merasa sangat senang karena menjadi gadis pertama yang benar-benar dicintai oleh seorang Playboy dan mendapatkan posisi dihatinya, tidak seperti gadis-gadis yang selama ini mengisi harinya namun tidak dengan hatinya.
__ADS_1