After Meet You

After Meet You
AMY#35


__ADS_3


Seperti apa yang dikatakan Tarisa bahwa gadis itu mencurigai Mauren yang menjadi semua permasalahan yang selama ini menimpa Bias, membuat laki-laki itu terus menatapnya tajam hingga akhirnya gadis itu terlihat kesal karena tindakannya. Meskipun begitu Alvaro tidak juga menghentikan aktivitasnya, karena Mauren tidak juga menjawab pertanyaannya membuat ia kembali mengulanginya untuk yang kesekian kalinya.


"Sekali lagi gue tanya! Apa lo ada hubungannya sama ini semua?" Tanya Alvaro lagi terdengar dingin, tentu saja hal ini adalah yang pertama kalinya bagi laki-laki itu bersikap dingin pada seorang wanita karena biasanya ia akan berlaku hangat, namun karena Bias ia lupa bagaimana bersikap hangat pada gadis lain bahkan lupa bagaimana caranya kembali menjadi seorang playboy. Mungkin memang Bias yang Tuhan kirim untuk merubah kebiasaan buruknya, dan sudah seharunya ia memperjuangkan gadis itu dihidupnya.


"Apaan si Al! Gue nggak ngerti lo lagi ngomongin apa?" Ucap Mauren masih enggan menjawab jujur pertanyaannya, membuat laki-laki itu semakin kesal hingga tanpa sadar mencekal kasar pergelangan tangan Mauren hingga membuat gadis itu meringis.


"Lepasin gue! Lo apa-apaan si Alvaro" Teriak Mauren tidak terima, tetap saja hal itu tidak membuat Alvaro melepaskan tangannya hingga akhirnya seorang laki-laki datang mengusik aktivitasnya.


"Woy lo apa-apaan?!" Ucapnya tidak terima, sedangkan Alvaro tetap pada posisinya tidak sedikitpun terusik dengan ucapannya atau melepaskan cekalan tangannya.


"Leo tolongin gue" Ucap Mauren dengan wajah memelas, membuat laki-laki itu tanpa aba-aba melayangkan kepalan tangannya kearah rahang Alvaro, tentu saja hal itu membuatnya meringis dan tanpa sadar sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Baru saja Alvaro akan membalas pukulannya, namun seorang Guru datang melerai keduanya, hingga membuat ketiganya berakhir di ruang BK.


"Kenapa kalian ribut dijam pelajaran?" Tanyanya lagi dengan suara yang terdengar tegas.

__ADS_1


"Dia yang pukul saya duluan Pak" Ucap Alvaro seraya menunjuk Leo yang kini tidak terima dengan penuturannya.


"Dia yang kasar sama Mauren Pak" Ucap Leo berusaha untuk membela diri karena tidak terima dengan ucapan Alvaro, sedangkan Mauren sendari tadi hanya diam.


"Mauren! Siapa disini yang salah?" Tanyanya lagi seraya menatap tajam gadis yang kini tiba-tiba saja terlihat menatap ke arah Alvaro, membuat sang Guru juga ikut menatapnya. Tentu saja Alvaro tidak terima, seolah-olah dirinya yang bersalah disini, bukankah dari awal juga ia sudah berusaha untuk berlaku baik pada gadis itu.


"Lo ngapain liatin gue?!" Ucap Alvaro yang kini menatapnya tajam.


"Alvaro!" Tegur sang guru, membuat laki-laki itu menghela nafas berat.


Baru saja Bias medudukkan diri dikelas, namun suara heboh seseorang terdengar ditelinganya membuat gadis itu tanpa sadar ikut mendengarkan penuturan teman sekelasnya yang tadi baru saja masuk kedalam kelas dengan heboh.


"Emangnya kenapa kalo gue disini?" Bias balik bertanya membuat teman-temannya menatap kearahnya bingung, tentu saja tidak berbeda dengan dirinya yang juga merasa bingung, sebenarnya apa yang kini tengah terjadi.


"Gue kira si Alvaro dipanggil ke Ruang BK gara-gara berantem sama lo" Ucapnya lagi, membuat gadis itu seketika terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Sedang apa laki-laki itu diruang BK, bukankah tadi Alvaro baik-baik saja saat bertemu dengannya ditaman. Tanpa sadar Bias bangkit dari duduknya dan segera keluar kelas, entah apa yang kini dipikirkannya hingga tanpa sadar kakinya membawa ia kearah ruang BK.

__ADS_1


"Kenapa gue kesini si?" Ucap Bias yang baru saja sadar dengan apa yang terjadi padanya, membuat ia berniat untuk segera kembali. Namun samar-samar terdengar suara seseorang yang sangat pemiliar dari dalam ruangan, tentu saja membuat Bias mengurungkan kembali niatnya dan terdiam didepan pintu.


"Kalian itu udah sama-sama dewasa harusnya bisa mikir dong, bukannya malah berantem gara-gara masalah sepele kaya gini. Kamu juga Alvaro, kamu itu masih anak baru disini jadi jangan banyak ulah. Mau kamu Bapak keluarin!"


Deg!! Entah mengapa saat mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut sang Guru membuat Bias tanpa sadar terdiam, ada perasaan aneh bahkan tak rela saat mendengarnya, mungkin karena ia sudah sangat paham bagaimana rasanya berkali-kali dikeluarkan dari Sekolah dan menjadi gunjingan para Guru di Sekolah-sekolahnya dulu.


"Nggak bisa gitu dong Pak! Jelas-jelas disini mereka yang salah bukan saya. Kalo aja si Mauren nggak buat ulah, saya nggak akan bertindak kasar sama dia"


Lagi-lagi Bias dibuat terkejut, karena ternyata tidak hanya Alvaro yang ada didalam melainkan ada gadis bernama Mauren yang menjadi permasalahan.


"Halah! Banci mah banci aja"


Tanpa sadar Bias tiba-tiba saja memutar knop pintu dan membukanya dengan kasar, membuat semua mata yang sendari tadi berdebat menatap kearahnya aneh. Tetap saja hal itu tidak membuat Bias takut, bahkan dengan berani ia datang menghampiri Alvaro dan menarik pergelangan tangannya.


"Bias! Apa-apan kamu?" Ucap sang Guru yang terdengar marah karena kelakuan tak sopan dari salah satu siswi nya.

__ADS_1


"Alvaro nggak salah jelas-jelas dia yang jadi korban disini, Bapak nggak liat bibir dia berdarah!" Ucap Bias dengan nafas tersegal-segal membuat sang Guru terlihat memperhatikan kearah keduanya.


"Bapak liat mereka! Nggak ada satupun luka ditubuhnya, jadi disini siapa yang bertindak kasar duluan?!" Ucap Bias lagi membuat suasana seketika hening tak ada satupun yang berucap, sedangkan Alvaro sendari tadi terus diam seraya memperhatikan Bias yang kini berusaha membelanya, hingga tanpa sadar ada rasa hangat dihatinya bahkan senyum yang terukir diwajahnya.


__ADS_2