After Meet You

After Meet You
AMY#13


__ADS_3

Happy Readingā¤


***


Gadis itu terlihat menatapnya dengan tatapan tajam. Menyeka air yang masih tertinggal dimulutnya. Andro menatap keduanya. Aneh. Terlebih saat melihat Bias. Pertama kalinya, melihat gadis itu bertengkar. Adu mulut dengan seorang laki-laki. Biasanya Bias selalu masa bodo, tidak pernah perduli dengan sekitarnya, ataupun pada laki-laki yang baru saja dikenalnya. Gadis itu selalu berbicara dengan mulut pedas. Tak ada yang berani mengusiknya. Namun kali ini berbeda, ada sedikit perubahan saat melihatnya bersama dengan laki-laki yang akan segera menjadi lawan tandingnya hari ini.


Bias beranjak, datang menghampiri Alvaro. Wajahnya terkejut, bahkan diam beberapa detik. Mengingat, posisi mereka saat ini benar-benar dekat. Maju selangkah lagi, mungkin terlihat seperti dua orang yang berpelukan. Hebusan nafas Bias, seolah dapat dirasakan Alvaro. Menerpa wajahnya.


"Punya apa?" suara Bias terdengar. Alvaro mengeryit, tak paham dengan ucapannya. "Berani nantang gue balapan" sambung Bias memperjelas. Menyadarkan Alvaro, dari lamunannya.


"Gilee nihh ceue, mantevv anedd cuyy" bisik Rangga. Merasa tertarik saat melihat Bias yang memang sejak awal sangat berbeda, dari kebanyakan gadis yang ditemuinya.


"Ternyata, sekeren itu" celetuk David. Keduanya mengangguk, dengan mata berbinar. Tak juga mengalihkan pandangannya.


"Kalo lo jago. Mobil gue pindah tangan, buat lo" Alvaro berbicara, bangga saat mengatakannya. Bias seketika tertawa, mendengar ucapan yang sudah sangat biasa dari mulutnya.


"Bosen," Alvaro, juga kedua laki-laki didekatnya, seketika menatap Bias dengan alis tertaut. "Mobil kaya gitu udah banyak" sambung Bias, dengan nada santai. Membuat mereka terlihat menatapnya tidak percaya. Sebenarnya siapa Bias, gadis seperti apa dirinya. Bagaimana bisa memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi. Sebelumnya tidak pernah ada yang menolak atau merendahkan Alvaro, terlebih perihal mobil miliknya.


"Gini deh," Bias mundur dari posisinya, "kalo lo menang-mobil gue sepenuhnya jadi milik lo"


"mobil! mana mobil lo?" sela Alvaro dengan cepat. Kesal karena melihat tingkah Bias. Yang kini menatap Bias, seolah meremehkan. Membuat gadis itu seketika geram, melemparkan tatapan tajam kearahnya.


"Tuhh-" Andro menyela. Menunjuk sebuah mobil yang terparkir rapih, tak jauh dari tempatnya. Reflek, ketiga laki-laki tak terkecuali Alvaro. Terkejut, melihat mobil yang benar-benar membuatnya berdecak kagum.


"Demi emak! salah satu mobil mewah kedua di dunia" celetuk David. Matanya berbinar, berdecak kagum saat melihatnya.

__ADS_1


"Mamihh!" Rangga berteriak, "gue belum punya" sambung Rangga. Wajahnya terlihat lirih, tatapannya sendu. Iri, karena gadis itu lebih dulu memilikinya.


Alvaro menghela nafas berat. Penasaran. Siapa sebenarnya Bias, gadis misterius. Selalu berhasil membuatnya kesal. Sebanyak apa yang belum Alvaro ketahui, tentangnya.


"Deal!" ucap Alvaro. Akhirnya memilih setuju. Sebelum sedetik kemudian, Alvaro kembali dibuat terkejut, sekaligus tidak percaya.


"Lo harus jadi budak gue. Kalo kalah" ucap Bias. Wajahnya tersenyum sinis, memperhatikan Alvaro yang kini bungkam dihadapannya.


"Lo bilang apa tadi? nggak udah halu!" ucap Alvaro. Akhirnya buka suara, tak terima dengan apa yang baru saja gadis itu katakan padanya.


"Kalo lo takut-balik aja. Nggak usah belagu, nantangin balapan" Bias sengaja memperpanas suasana. Ada perasaan puas saat melihat laki-laki itu mati kutu dihadapannya.


Kesabaran Alvaro benar-benar terkuras habis, setiap kali bersamanya. Membuat darahnya seolah bergejolak, mendidih sampai ke ubun-ubun.


"Lo pikir gue takut. Gue terima tawaran lo" ucap Alvaro dengan mantap. Tak ingin jika harga dirinya terluka, hanya karena seorang gadis. Reflek kedua temannya, menepuk bahunya. Menyalurkan sebagian kekuatan untuknya. Bias hanya menggedikkan bahu. Tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkannya.


Seorang gadis berperawakan jangkung, dengan pakaian sexy. Datang, berdiri ditengah jalan. Melepaskan bendera yang berada digenggamannya. Membuat kedua mobil dihadapannya, tanpa aba-aba menginjak gas. Memacu secepat mungkin mobil yang dikendarinya.


Mungkin kali ini akan menjadi permainan yang cukup hebat. Melihat bagaimana persaingan mereka, benar-benar sangat sengit. Tidak akan pernah ada yang mengalah.


Alvaro menghela nafas berat. Dengan pandangan yang terus fokus ke sirkuit balap. Tidak pernah mengira, jika gadis itu akan sehebat ini. Membuatnya terlihat kewalahan, saat berusaha untuk terus menyeimbangi laju mobilnya.


Bias terlihat santai. Mengendarai mobil yang sudah menyatu dengan dirinya. Hal biasa, jika menyangkut arena balap seperti ini. Teman-temannya bahkan sudah mengakui kehebatannya. Bukannya Bias sombong, tapi memang begitu fakta sebenarnya.


"Lo liat-setelah ini-Crocodile!" ucap Bias, geram saat mengucap kata terakhir. Dan tersenyum sinis setelahnya.

__ADS_1


Mobil Bias sudah berada didepannya. Alvaro tertinggal, meski hanya beberapa meter darinya. Tetap saja, membuatnya kalah dalam pertandingan. Dan Bias, berhasil memenangkan balapan. Meskipun perbedaannya hanya sedikit, tetap membuat Alvaro benar-benar kalah.


Alvaro kesal. Pada dirinya sendiri. Frustasi, membuat laki-laki itu terlihat mengacak rambutnya. Mengumpat diposisinya.


"Shit!" suara Alvaro terdengar kesal. Tidak terima, kalah dari seorang gadis kecil. Harga dirinya benar-benar sangat terlukai.


Alvaro segera turun dari dalam mobil. Melihat Bias yang baru saja datang menghampirinya. Lihat saja bagaimana ekspresinya. Mungkin sebentar lagi akan mengejeknya.


"Jadi-bagaimana Tuan Crocodile?" ucap Bias. Gadis itu menatapnya, menggelengkan kepala dengan senyum yang jelas mengejeknya.


Alvaro tidak terima. Pertama kali seumur hidupnya, mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang gadis. Ingin protes, tidak bisa. Ingin marah, tidak mungkin.


"Kok lo kalah sih!" suara David terdengar. Menggelengkan kepala saat tiba dihadapannya. Alvaro hanya diam, enggan menjawabnya.


"Wajarlah, mobil nya aja udah kalah kelas" celetuk Rangga, terdengar santai. Namun berhasil membuat gadis itu terlihat tidak santai.


"Woyy Suparman! mau gue pake mobil apapun, tetap aja gue yang menang," teriak Bias. Tidak terima saat mendengarnya. "Salahin temen lo yang lemah!" sambung Bias, membuat mereka terkejut. Alvaro tidak terima, saat mendengar kata lemah meluncur bebas dari mulutnya.


"Woy! lo benar-benar ya" teriak Alvaro. Kesal, bahkan membuat laki-laki itu terlihat mengepalkan kedua tangannya. Reflek membuat kedua laki-laki disampingnya, berusaha untuk menenangkan.


"Udah lah! kalo kalah ya ngaku kalah. Masih aja nggak terima. Biar gue kasih tau, disini gue Ratu nya, bukan lo!" ucap Bias terdengar kesal. Sebelum gadis itu beranjak. Sedetik kemudian, kembali menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Alvaro, dengan senyum manis diwajahnya.


Melihat bagaimana rupa Bias, membuat mereka seketika bungkam. Terdiam, mematung ditempatnya. Entahlah, tiba-tiba saja gadis itu berubah. Terlihat sangat cantik. Namun tak bertahan lama.


"Besok lo udah bisa mulai, jadi B-U-D-A-K gue" ucap Bias, penuh penekanan saat kata budak disebut. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Seketika mereka tertawa, kecuali Alvaro yang terdengar mengumpat ditempatnya.

__ADS_1


"Mimpi apa gue semalem" batin Alvaro bergumam. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja menimpanya.


__ADS_2