
Gue butuh banyak asupan, biar nggak lemah kalo ketemu terus adu jotos sama lo.
***
Bias merasa, hari ini perutnya benar-benar sangat lapar, maklum, begitu banyak tenaga yang sebelumnya sempat terkuras, bukan hanya karena hukuman nya, melainkan saat ia kembali dipertemukan dengan manusia Crocodile, yang selalu bertingkah menyebalkan di mata nya. Mengingatnya saja, membuat darah nya seketika mendidih, merasa geram, hingga tanpa sadar, semangkuk bakso yang tengah disantap menjadi pelampiasan emosi nya.
Hal itu membuat Tarisa lagi-lagi menggelengkan kepala, bukan karena tingkah nya, hanya saja, itu adalah mangkuk bakso ke-enam, yang sudah Bias santap sejak mereka datang ke kantin. "Lo laper, apa kesetanan, Bi?" Ucap Tarisa tak habis pikir, bahkan tak percaya dengan porsi makan sahabat nya, padahal sejak tadi semangkuk saja Tarisa belum juga menghabiskan nya.
"Diem! Gue lagi kesel sekarang" Ucap Bias, terlihat fokus pada mangkuk bakso di hadapan nya. "Kesel sih kesel, lo mau, sakit perut, gara-gara kebanyakan makan" Bias hanya memutar bola mata jengah, menggedikkan bahu acuh. "Rumah sakit masih buka" Ucap Bias santai, tanpa mengalihkan pandangan nya, membuat Tarisa terlihat menghela nafas berat.
"Makan sih, banyak, tapi nggak gendut-gendut, itu anugerah atau kutukan" Celetuk Tarisa tanpa sadar, seketika membuat gadis di hadapannya, melemparkan tatapan tajam ke arah nya, membuat gadis itu reflek terlihat nyengir kuda, menampilkan sederet gigi rapih nya.
"Akhirnya! Gue, puas" Ucap Bias, saat gadis itu berhasil menghabiskan bakso terakhir nya, membuatnya seketika merasa mengantuk, karena kekenyangan. Bias terlihat bangkit, dari tempat nya, berniat untuk segera pergi mendahului nya. "Lo yang bayar, gue belum ambil duit di Atm"
"Lo mau kemana? Ehh, Beras!" Tanya Tarisa, sedikit berteriak karena Bias sudah beranjak pergi meninggalkan nya, Bias seketika menghentikan langkah nya, berbalik menatap kembali ke arah nya. "Tidur" Ucap nya santai.
"Astaga, Bias!!" Teriak Tarisa reflek, merasa sangat frustasi dengan kebiasaan sahabat nya, sejak dulu tak pernah berubah, meski ia sering melarang nya. Sang empunya nama, seketika terlihat berlari, takut jika Tarisa mengerjar, dan melarang niat nya.
__ADS_1
"Tidur bawah pohon, kaya nya enak nih" Ucap Bias, terlihat sumringah, saat gadis itu melangkah di koridor, berniat untuk segera menuju taman sekolah, dengan langkah cepat. Merasa, sudah tidak tahan dengan rasa kantuk yang kini menyerang nya. Namun seseorang, tiba-tiba saja terdengar berteriak, memanggil nama nya. Bias terpaksa menghentikan langkah nya, hapal dengan pemilik suara yang kini terlihat datang menghampirinya.
"Bener-bener ya, lo tega banget sama gue" Ucap Tarisa dengan nafas yang tersegal-segal, sedangkan Bias hanya tertawa, saat melihat sahabat nya yang kini kelelahan. "Ya, sorry" Ucap Bias, dan kembali melangkah kan kakinya, di ikuti Tarisa di samping nya.
"Kita ngapain coba, ke taman, bentar lagi jam masuk Bi" Ucap Tarisa, saat gadis itu datang ke arah taman sekolah. "Di bilangin, gue mau tidur Nastar" Ucap Bias seraya melangkah menuju pohon besar yang berada tak jauh dari pandangan nya, tengah jalan, langkah nya seketika terhenti, saat pandangan nya jatuh, pada sosok yang kini tengah berada di bawah pohon, tempat yang akan Bias tuju, tapi tidak sendiri, ada seorang gadis yang kini tengah bersama nya, juga kedua laki-laki yang juga teman sekelas nya.
🌳
Feeling nya selalu tepat, karena apa yang sebelumnya ia pikirkan, akhirnya terjadi. Teman-temannya selalu berbuat ulah, ikut campur dengan segala urusan nya, terlebih jika berhubungan dengan seorang gadis.
"Roman-roman nya, di liat dari muka lo, pasti abis minta whatsapp ni orang" Ucap David, seraya tertawa setelah nya, begitupun Rangga disamping nya. Mauren terlihat bingung, melihat bagaimana respon kedua laki-laki yang kini bersama nya, memang apa salah nya jika ia meminta whatsapp Alvaro, meski akhirnya penolakan yang ia dapat kan.
"Lo udah jadi, yang kesekian kali nya, untuk hari ini" Ucap Rangga di sela-sela tawa nya, Mauren terlihat mengeryitkan dahi, bingung saat mendengar ucapan nya.
"Maksud lo, sebelumnya udah banyak yang minta, tapi nggak dikasih?" Mauren balik bertanya, sedangkan mereka hanya mengangguk, dengan santai menanggapi pertanyaannya. Tentu saja gadis itu terlihat kesal, karena ia merasa di dahului oleh orang lain. Namun tetap saja ia merasa senang, karena tidak ada satupun yang berhasil mendapatkannya, tak terkecuali dirinya.
Baru saja Mauren akan kembali membuka suara, namun seseorang lebih dulu berbicara, membuat ia mengurungkan niatnya. Seketika mereka tercengang saat mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Buaya, lagi!" Ucap Bias santai, membuat Tarisa seketika membekap mulut sahabatnya. Karena mereka terlihat menatap kearahnya tanpa berkedip, tentu saja gadis itu berontak dan melepaskan tangannya.
"Apaan si, Tar" Ucap Bias tidak terima seraya berbalik menatap sahabatnya, sedangkan Tarisa terlihat menujuk kearah belakang, menggunakan bahasa isyarat, membuat gadis itu segera berbalik seperti sebelumnya.
"Lo, ngomong apa, tadi?" Tanya Alvaro yang tiba-tiba saja sudah berada tepat dihadapannya. Membuat teman-temannya mengeryitkan dahi, bingung, karena tidak melihat kapan laki-laki itu datang menghampiri sang gadis.
"Sejak kapan, si Al, udah ada disana?" Tanya Rangga seraya terus memperhatikan sahabatnya, sedangkan David hanya menggedikkan bahu tidak tahu.
"Kebiasaan banget sih lo! Makannya kuping itu dibersihin, harus banget gue ngulang terus kalo ngomong sama lo" Ucap Bias panjang lebar dengan tampang santainya, lagi-lagi gadis dihadapannya berhasil membuat darahnya naik.
"Sebenernya gue dikutuk atau apa sih! Kenapa selalu ketemu Pokemon jelek kaya lo!" Ucap Alvaro seraya memutar bola matanya bosan, seketika Bias terbelalak mendengar ucapannya.
"Pokemon jelek, lo bilang? Lo Crocodile, lebih jelek dari gue! Bauuu lagi!" Teriak Bias seraya menatapnya tajam.
"Dasar anak Rembo, udah kecil idup lagi! Untung aja lo ketolong tinggi!" Balas Alvaro tidak ingin kalah.
"Apa lo bilang?!" Teriak Bias tidak percaya, sedangkan Alvaro hanya menatapnya tajam. Hingga akhirnya keduanya larut dalam perang dingin, membuat teman-temannya menggeleng frustasi. Karena lagi-lagi mereka selalu bertengkar, setiap kali bertemu.
__ADS_1