
Happy Reading
***
Sepertinya Alvaro benar-benar ditimpa kesialan bertubi-tubi hari ini. Bukan hanya persoalan seorang gadis bernama Bias saja, tapi persoalan yang jauh lebih merepotkan dibanding dirinya. Saat seorang wanita tiba-tiba saja datang menghampiri keduanya. Wajahnya jelas terlihat sangat kesal, terlebih saat melihat kehadiran seorang gadis bersamanya.
Bias sesaat sempat memperhatikan, fokus pada gadis yang kini menatapnya sinis. Sedetik kemudian, Bias terlihat menggedikkan bahu. Tidak perduli, dan hanya mengabaikan kehadiran gadis dihadapannya. Membuat sang gadis tak terima dengan sikap yang ditujukkan Bias padanya.
"Eh! lo siapa sih? bisa-bisanya lo bersikap kaya gitu sama gue!" ucap seorang wanita, dengab tatapan tajam kearah Bias. Wanita yang juga masih mengenakan seragam sekolah, meski berbeda dengan seragam yang dikenakan olehnya. Bias terlihat mengalihkan pandangannya, menatap balik kearah wanita yang baru saja membuka suara, berbicara padanya. Alvaro terlihat menepik wajahnya frustasi. Mungkin setelah ini, akan terjadi perang dunia ketiga.
"Woy! ngaca! lo siapa yang dateng-dateng nggak punya sopan santun" ucap Bias tidak terima. Membuat wanita dihadapannya, seketika bertambah kesal. Menatap Bias, bergantian dengan Alvaro.
"Alvaro dia siapa? kenapa dia bisa sama lo" suaranya kembali terdengar, lebih maja tak seperti sebelumnya. Membuat Bias seketika berasumsi, dan yakin jika wanita dihadapannya, salah satu pacar laki-laki Crocodile disampingnya yang jelas terlihat sangat frustasi dengan kehadirannya.
Bukan Bias namanya. Jika tidak ada hal jahil ataupun aneh diotaknya. Hingga akhirnya, Bias kembali membuka babak permainan baru yang akan segera gadis itu mulai.
"Sayang! dia siapa sih, kok dateng-dateng ganggu banget" ucap Bias, yang kini bergelayut manja dilengan kokohnya.
Seperti dihujami ribuan, bahkan jutaan jarum. Alvaro benar-benar terkejut, atas apa yang baru saja Bias ucapkan. Tidak mengerti, dengan apa yang akan Bias lakukan lagi sekarang. Gadis itu tiba-tiba saja bertingkah dengan suara yang terdengar menjijikkan ditelinganya. Membuat laki-laki itu geram, sekaligus kesal melihat kelakuannya.
__ADS_1
"Sayang? Jelasin Alvaro dia siapa!" Lagi-lagi wanita itu berteriak tidak terima, yang seketika membuat beberapa orang memperhatikan kearahnya.
"Saya pacarnya mba" Ucap Bias lagi, membuat Alvaro terbelalak tidak percaya dengan ucapannya. Sedangkan Bias tertawa bangga karena misinya berhasil.
"Kita putus!" Teriaknya lagi dengan tampang marah dan segera berlalu meninggalkannya, seketika gelak tawa terdengar disampingnya, siapa lagi jika bukan Bias biang masalahnya.
"Puas lo!" Ucap Alvaro kesal, sedangkan gadis itu masih terus tertawa dan mengabaikannya.
"Kita Putus!" Ucap Bias berlagak mengulang ucapan wanita yang tadi berselisih dengannya, dan kembali tertawa setelahnya. Bahkan Bias terlihat memeganggi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa berlebihan.
"Nggak lucu!" Ucap Alvaro, dan segera beranjak pergi meninggalkan Bias sendiri. Tentu saja gadis itu segera berlari untuk menyusulnya.
"Ngomong apa lo?!" Tanya Alvaro seketika menghentikan langkahnya, begitupun dengan Bias disampingnya. Tanpa aba-aba laki-laki itu seketika mendekatkan wajahnya pada Bias, hingga jarak keduanya terlihat sangat dekat seolah akan segera berciuman. Namun tetap saja gadis itu hanya menatapnya dengan wajah datar, juga tatapan santai. Hingga seseorang lagi-lagi datang diantara mereka, dan lagi kejadian seperti sebelumnya terulang untuk yang kedua kalinya.
"Puas lo sekarang! Gara-gara lo gue putus dua kali" Ucap Alvaro seraya mengacak rambutnya frustasi, sedangkan Bias baru saja menghentikan tawanya.
"Lah itukan lo yang putus bukan gue" Ucap Bias santai.
"Yayaya maklum lo kan jomblo abadi" Ucap Alvaro santai, terlihat memutar bola mata malas. Seketika gadis itu tidak terima. Menatap kearah Alvaro, yang terlihat melemparkan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ehh lo denger ya! Gue juga bisa dapet pacar" Ucap Bias seraya menunjuk Alvaro dengan kepalan tangannya. Gadis itu tidak terima, sangat geram, saat mendengar ucapan Alvaro yang seolah menghinanya.
Lihat saja, Bias pasti akan buktikan pada laki-laki dihadapannya. Tidak hanya dirinya yang bisa mendapatkan banyak pacar. Bias juga bisa melakukannya, dan mendapatkan pacar, bahkan lebih baik darinya.
Asal tahu saja, jika selama ini sudah banyak yang menyatakan cinta padanya. Begitu banyak yang ingin menjadi kekasihnya. Meskipun akhirnya, Bias selalu saja menolaknya. Bukan tanpa sebab, Bias tahu jika semua laki-laki yang mendekatinya hanya mengincar apa yang selama ini ia punya. Membuat Bias tidak ingin berpacaran. Gadis itu tidak percaya dengan adanya cinta sejati.
"Oke!! Gue tunggu lo punya pacar" Ucap Alvaro membuat gadis itu mengepalkan kedua tangannya kesal, dan segera beranjak pergi meninggalkan laki-laki, yang kini terlihat senang, bahkan menertawakannya dengan sangat puas.
"Gue tau lo nggak akan dapet pacar, siapa juga yang mau sama cewek bringas kaya lo!" teriak Alvaro disela-sela tawanya, membuat orang-orang disekitarnya melemparkan tatapan aneh kearahnya. Membuat Alvaro terlihat menggaruk tengkuknya, dan segera beranjak, pergi menyusul Bias yang lebih dulu pergi meninggalkannya.
Seketika langkahnya terhenti, saat tak sengaja matanya menangkap sosok gadis yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki. Kelihatannya, mereka begitu dekat. Membuat Alvaro tanpa sadar, segera beranjak, datang menghampiri keduanya.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Bias yang sadar akan kehadirannya, sedangkan laki-laki disampingnya terlihat mengeryitkan dahi. Sebelum mengulurkan tangan, berniat untuk segera memperkenalkan diri dihadapan Alvaro.
"Bryan Arbi Pangestu" Ucapnya seraya mengulurkan tangannya kearah Alvaro, tentu saja laki-laki itu langsung menerimanya.
"Alvaro" Balas Alvaro singkat, seraya menarik kembali tangannya. Membuat gadis itu terlihat mengeryitkan dahi, ada apa dengan laki-laki itu sekarang. Mengapa terlihat kesal, dasar laki-laki aneh.
"Dia-siapa lo?" Tanya Alvaro to the point, terlihat menatap Bias fokus.
__ADS_1
"Apaan si lo kepo amat!" Ketus Bias dan beranjak pergi meninggalkannya diikuti Bryan disampingnya. Alvaro seketika merasa kesal, karena baru saja diabaikan. Terlebih saat melihat Bias pergi bersama laki-laki yang baru saja dikenalnya, dan tidak tahu apa hubungan keduanya. Hal itu tidak membuat Alvaro diam, dan memilih untuk segera menyusul, meskipun sebenarnya tidak ingin.