After Meet You

After Meet You
AMY#23


__ADS_3

Happy Readingā¤


***


Hari ini Alvaro benar-benar sangat kesal. Bukan tanpa sebab, karena Bias sejak tadi terus mengabaikannya. Padahal sebelumnya gadis itu yang memaksa membawanya ke tempat ini. Niatnya untuk membelikan Alvaro pakaian. Namun berbeda dengan niat diawal. Lihat saja bagaimana Alvaro yang berakhir sendirian, di tengah keramaian, merasa kesepian. Hanya berdiam diri, duduk dengan semangkuk Ice cream dihadapannya.


Hal yang paling menyebalkan, karena sejak tadi matanya terus menyaksikan sepasang manusia. Tak juga berhenti, terus bercelotej ria dihadapannya. Bahkan tak melihat, ataupun menganggap kehadirannya. Hingga ice cream miliknya mencair tak bisa ia nikmati. Membuat Alvaro reflek membanting sendok yang sejak tadi ia genggam. Membuat keduanya seketika menoleh, menatap aneh kearahnya.


"Kenapa lo? pms" ujar Bias, yang akhirnya berbicara padanya. Alvaro tak menjawab, tanpa aba-aba menyuapkan ice cream miliknya kedalam mulut Bias. Membuat gadis itu terkejut, bahkan terbelalak atas tindakan yang baru saja Alvaro lakukan.


"Woy! kalo lo nggak suka bilang. Nggak usah carper, pake masukin tu sendok ke mulut gue!" teriak Bias tidak terima. Wajahnya seketika kesal, atas apa yang baru saja Alvaro lakukan. Tak ada niat untuk minta maaf, Alvaro terlihat mengabaikannya dan mengalihkan padangannya. Membuat gadis itu seketika menyipitkan kedua matanya, menatap Alvaro penuh curiga.


"Ohhh-gue tau," Alvaro meliriknya, membuat Bias lagi-lagi menyipitkan kedua matanya. "Jangan-jangan lo cemburu sama gue!" teriak Bias, terlihat bangkit dari duduknya. Suaranya cukup keras, sampai-sampai berhasil menarik perhatian pengunjung cafe, yang kini terlihat menatap kearah mereka. Reflek Alvaro ikut bangkit, membungkam mulut Bias dengan telapak tangannya.


"Lo bisakan, nggak usah teriak! lo pikir ini di hutan. Dasar tarjanwati!" ujar Alvaro, dengan tatapan tajam kearah Bias. Laki-laki itu sudah sangat kesal dengan gadis dihadapannya. Sedangkan Bias, berusaha keras untuk melepaskan tangan Alvaro. Dan tertawa setelahnya.


"Bias!" suara seorang laki-laki terdengar memanggil namanya. Suaranya terdengar tegas. Terlihat menatap tajam gadis dihadapannya. Seketika hal itu membuat Bias bungkam, bahkan kembali mendudukkan diri ditempat sebelumnya.

__ADS_1


Respon Bias, yang seolah baru saja menjadi seorang gadis yang penurut. Berhasil membuat Alvaro terlihat mengeryit, bingung saat melihat perubahannya. Mengapa gadis sepertinya, tiba-tiba saja menurut dengan laki-laki bernama Bryan. Sedangkan padanya, selalu bertingkah menyebalkan, bahkan sangat mengganggu.


"Jijik! sok manis. Dikira pantes" celetuk Alvaro tak sadar. Laki-laki itu tidak terima, saat melihat tingkah Bias yang kini terlihat sangat berbeda dari biasanya. Sebenarnya siapa laki-laki yang kini bersamanya, mengapa terlihat sangat misterius. Lantas apa hubungan keduanya. Ternyata begitu banyak pertanyaan yang ingin sekali terjawab.


"Idih! bilang aja lo syirik" ketus Bias, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Membuat laki-laki itu terlihat memutar bola mata malas.


"Kalian udah lama temenan?" giliran Bryan yang tiba-tiba saja buka suara. Penasaran dengan hubungan keduanya. Seketika mereka melayangkan tatapan, sebelum akhirnya membuang muka.


"Kita bukan temen!" teriak mereka bersamaan. Terlihat sangat kompak, bahkan saling menatap sinis setelahnya. Bryan seketika bingung, dengan respon keduanya.


"Terus sejak kapan kalian kenal?" Bryan semakin penasaran, tak lagi ingin ia tahan.


Maklum saja, keduanya sudah sejak dulu bersahabat. Sejak mereka duduk di Taman Kanak-kanak, juga Sekolah Dasar. Meskipun Bias tak sampai menyelesaikan sekolahnya saat SD. Namun kembali dipertemukan saat keduanya mendaftar di Sekolah Menengah Pertama. Itupun tak bertahan lama, karena Bias sempat dikeluarkan. Hingga akhirnya masuk ke sekolah dimana ia dipertemukan dengan Tarisa. Lagi-lagi mereka kembali dipertemukan, saat Bias mendaftar di Sekolah Menengah Atas. Dan lagi-lagi hal itu tak bertahan lama, karena masalah yang sama. Membuat keduanya kembali berpisah.


"Ya gue cuma tanya Bi" ucap Bryan, terlihat kesal. Mengingat, setiap kali ia bertanya perihal orang-orang baru disekitarnya, selalu saja menolak, tak ingin memberitahunya.


"Gue mau balik!" suara Alvaro kembali terdengar. Terlihat bangkit dari duduknya. Membuat keduanya seketika menoleh, menatap kearahnya.

__ADS_1


"Pulang mah ya pulang aja sana! pake acara bilang-bilang segala" ucap Bias terdengar santai. Membuat Alvaro seketika menatapnya kesal.


"Woy! lo pikir siapa yang bawa gue kesini? lo kan! terus dengan mudahnya lo nyuruh gue pulang sendiri, gitu? mimpi banget lo!" teriak Alvaro tidak terima. Tentu saja hal itu membuat Bryan semakin dibuat penasaran. Sejak kapan Bias mau mengajak, atau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Terlebih, dengan seorang laki-laki bersamanya.


"Lo yang ajak dia kesini?" tanya Bryan penasaran. Bias dengan cepat mengangguk.


"Sejak kapan lo mau jalan sama cowok? tumben amat" Alvaro seketika melirik keduanya, dengan tatapan antusias sesaat setelah mendengar ucapan Bryan.


"Eh! lo ngapain pake duduk lagi?" tanya Bias terdengar ketus. Saat melihat Alvaro yang tiba-tiba saja kembali mendudukkan diri dihadapannya.


"Ya gue nungguin lo lah. Yakali nunggu di usir" jawab Alvaro berdalih. Tanpa aba-aba Bias terlihat melemparkan kunci mobilnya kearah Alvaro, membuat kedua laki-laki itu reflek menatap kearahnya.


"Pulang sana! bawa mobil gue. Males tau nggak liat muka lo lama-lama" ucap Bias terdengar santai.


"Maksud lo apa?! jadi manusia nggak ada tanggung jawabnya banget lo" ucap Alvaro, tidak terima saat mendengar ucapannya. Entahlah, tiba-tiba saja Alvaro kesal, saat tahu gadis itu tak pulang bersamanya. Bahkan memilih untuk berdua saja dengan teman laki-lakinya. Merasa jika Alvaro baru saja dibuang, setelah tak lagi dibutuhkan.


"Emang lo siapa? ngapain juga gue harus anter lo sana-sini. Udah syukur lo nggak pulang naik angkot" ucap Bias lagi, terlihat kesal saat Alvaro banyak sekali permintaan padanya.

__ADS_1


Rasanya Alvaro baru saja dipatahkan. Harga dirinya dijatuhkan oleh Bias. Membuatnya seketika terlihat mengambil kasar kunci mobil yang tergeletak diatas meja. Sebelum beranjak tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Meninggalkan Bias yang kini terkejut atas respon laki-laki dihadapannya.


"Kenapa lagi si tu orang?" ujar Bias dalam hati. Saat menatap punggung Alvaro yang semakin menjauh dari pandangannya. Aneh rasanya jika melihat seorang sepertinya besikap seperti itu. Anehnya lagi, Alvaro tak seperti biasanya. Entah apa yang baru saja terjadi padanya. Bias sama sekali tak ingin perduli.


__ADS_2