After Meet You

After Meet You
AMY#27


__ADS_3

Happy Readingā¤


***


Tarisa benar-benar terkejut, apa yang dipikirkan nya saat ini, mengapa ia benar-benar lupa dengan tanggal hari ini, bagimana mungkin ia tidak ingat jika hari ini adalah tanggal kematian Ibu Bias, membuat gadis itu seketika menatapnya lirih.


"Yaudah ayo buruan, gue juga mau beli bunga yang indah dan harum buat Tante Niar" Ucap Tarisa seraya tersenyum.


"Siap!" Teriak Bias semangat, padahal Tarisa sangat tahu jika gadis itu kini berusaha untuk terlihat tegar dihadapannya dan berusaha untuk tidak lagi menangis karena kehilangan Ibu nya sejak ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama karena Kecelakaan yang menimpa orang tuanya.


Akhirnya keduanya kini berakhir disebuah pemakaman yang sudah tidak asing lagi dimatanya, karena sejak 4 tahun belakangan ini Bias selalu datang mengunjungi makam Ibu nya, terkadang Tarisa akan selalu menemaninya seperti sekarang.


"Asalamuallaikum Mah" Ucap Bias seraya mendudukkan diri dan meletakan seikat bunga yang sempat dibelinya, begitupun dengan Tarisa yang juga melakukan hal yang sama dengannya.

__ADS_1


Terlihat Bias yang kini tersenyum kearah makam yang selalu terawat dan tidak pernah sepi oleh bunga karena Bias akan menyempatkan waktu untuk datang ketempat ini, hingga tanpa sadar air mata jatuh dengan mulus dipipinya, membuat Tarisa mengelus pundaknya berusaha untuk menyalurkan kekuatan pada sahabat baiknya yang kini terlihat sangat rapuh.


Tarisa tahu bagaimana Bias, bahkan ia sudah sangat paham dan mengerti dengan sahabatnya. Tarisa juga tahu bagaimana kondisi Bias saat kehilangan Ibu nya karena ia juga ikut hadir saat pemakaman, sebab keduanya sudah sangat dekat selayaknya keluarga. Karena itu juga Tarisa akan selalu menjaga Bias dan mengarahkan gadis itu agar selalu baik, meskipun kelakuan Bias belum juga berubah masih sama seperti dulu. Hingga tanpa sadar hari sudah beranjak sore, mentari tak lagi muncul membuat mereka segera bangkit dan beranjak pergi meninggalkan pemakaman untuk segera kembali ke rumah masing-masing.


"Lo emang sahabat gue yang paling kuat" Ucap Tarisa seraya tertawa menatap Bias, gadis itu hanya memutar kedua bola matanya bosan.


"Udah deh ya nggak usah sok puji-puji gue" Ucap Bias bosan, sedangkan gadis itu hanya tertawa menanggapi ucapan sahabatnya begitupun dengan Bias setelahnya.


"Yaudah gue anter lo pulang dulu" Ucap Bias dan segera memacu mobilnya membelah jalanan sore hari yang masih terlihat sangat ramai.


Tanpa sadar akhirnya mereka sampai dikediaman Tarisa, terlihat sangat jelas rumah mewah dibalik pagar besar yang menjulang tinggi. Keduanya terlihat turun dan beranjak masuk kedalam, namun Bias hanya ingin menyapa orang tua Tarisa sebentar dan segera kembali ke rumah setelahnya.


"Kenapa Bias nggak nginep aja?" Tanya Fanya orang tua Tarisa yang sudah ia anggap seperti Ibu nya sendiri, sedangkan Bias hanya tersenyum dan mencium tangannya karena akan segera pulang kerumah.

__ADS_1


"Lain kali aja Tante, soalnya Bias harus pulang" Ucap Bias sopan.


"Biasanya juga lo jarang pulang" Celetuk Tarisa disampingnya, seketika gadis itu mendapatkan pukulan dibagian kepala oleh Ibu nya membuat Bias tertawa puas melihatnya.


Akhirnya gadis itu sudah tiba di rumah, sebanarnya Bias sangat malas untuk pulang namun apa boleh buat karena hari ini adalah tanggal kematian Ibu nya. Membuat ia mau tidak mau harus kembali dan bertemu sang Papah, namun apa yang didapatkan olehnya, lagi-lagi hanya kekecewaan, terlebih lagi kali ini benar-benar sangat mengecewakan bahkan menyakitkan.


"Bahkan Papah nggak inget hari ini tanggal berapa!" Teriak Bias dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya, terlihat laki-laki itu yang kini menatapnya lirih.


"Papah bisa jelasin sayang, kamu dengerin dulu ya, duduk dulu" Ucap Aryo sang Papah yang kini berusaha menenangkan putri satu-satunya, namun Bias terlihat menangis dengan tatapan tajam kearahnya seraya terus berada dipelukan Asisten rumah tangganya.


"Non Bias harus dengerin Tuan dulu" Ucap Bibi yang kini ikut berusaha untuk menenangkannya, namun Bias seketika melepaskan pelukannya dan menatap tajam kearah dua manusia yang kini berada dihadapannya, sedangkan Bibi terus mengelus bahunya masih berusaha menenangkan majikannya.


"Kalian berdua keterlaluan! Biadab! Nggak punya hati!" Teriak Bias yang terlihat sangat marah.

__ADS_1


PLAK!!


Tanpa sadar untuk pertama kalinya Aryo melayangkan tangannya ke wajah putri satu-satunya, membuat Bias tersenyum sinis seraya memegang wajahnya dan beranjak pergi meninggalkan mereka dan memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


__ADS_2