After Met You

After Met You
Wanita Pembawa Sial


__ADS_3

"Masuk!" teriak Reksa dengan semringah.


Terlihat Andre masuk ke dalam ruangan yang cukup luas itu. Di belakangnya, tampak mengekor seorang wanita yang mengenakan seragam sebuah Resto ternama sembari menenteng sebuah Paper bag yang berisikan makanan dari Resto tersebut.


Seketika Reksa terbelalak kaget, melihat wanita tidak asing yang berada di belakang sahabat sekaligus asisten pribadinya itu. Wanita itu tak lain adalah Anna. Kehadiran wanita itu membuat Reksa bangkit dari duduknya. Keduanya tampak beradu pandang beberapa saat.


Sebagaimana Reksa, Anna juga begitu terkejut melihat pria yang berada di hadapannya saat ini, pun tidak menyangka jika pelanggan yang di maksud oleh atasan di tempat kerja barunya itu adalah Reksa—pria yang pernah menolongnya. Bahkan, ia tidak menyangka jika pria itu adalah seorang CEO di kantor perusahaan tersebut.


Entah ini pertanda apa, lagi-lagi ia dipertemukan dengan pria itu secara tidak sengaja untuk yang ke sekian kalinya.


"Eheem." Sebuah dehaman dari Kakek Kusuma membuat keduanya tersadar. Secepat kilat mereka mengalihkan pandangan pada kakek Kusuma.


"Jadi, ini kekasih yang mau kau kenalkan kepada kakek?" tanya Kakek Kusuma seraya tersenyum ke arah Anna.


"Dia–"


"Kakek," lirih Anna sedikit memasang ekspresi terkejut, lalu segera menghampiri Kakek Kusuma. Tampak diciumnya punggung tangan Kakek itu. "Bagaimana kabar Kakek?" tanyanya kemudian.


"Kakek baik, Nak," jawab kakek Kusuma seraya mengusap pucuk kepala Anna. "Kau sendiri bagaimana kabarnya?" lanjutnya.


"Alhamdullilah Anna baik, Kek." jawab Anna.


Reksa dan Andre saling beradu pandang dengan tatapan penuh tanya, ketika keduanya melihat interaksi antara Anna dan Kakek Kusuma yang tampak begitu akrab.


"Jadi, ini alasanmu berlangganan di tempat laundry itu? Dan selain itu, kau juga berlangganan di sebuah resto di mana Anna bekerja?" tanya kakek Kusuma. "Sungguh luar biasa, kakek tidak menyangka jika ternyata calonmu adalah Anna," imbuhnya sembari menyeringai senang menatap Anna. Sungguh Anna tidak mengerti maksud dari ucapan kakek Kusuma.


"Maksud Kakek?" tanya Reksa yang juga tidak paham.


"Ah, sudahlah! Mulai sekarang, kalian tidak perlu menyembunyikan hubungan kalian. Kakek akan sangat senang jika kalian bisa segera menikah," balas kakek Kusuma yang sontak membuat Anna dan Reksa terperangah. Pun dengan Andre yang juga terkejut mendengarnya.


"Menikah?" Anna dan Reksa tampak membeliak mendengarnya.


"Aku tidak salah dengar? Beruntung sekali aku kalau benar bisa menikah dengannya," gumam Anna.

__ADS_1


"Sial! Kenapa setiap kali bertemu dengan dia selalu saja sial!" batin Reksa menanggapi.


"Kenapa? Kau keberatan untuk segera menikah?" tanya kakek Kusuma seraya menatap Reksa penuh ancaman.


Tentu saja sang kakek akan melanjutkan rencana perjodohannya, jika Reksa sampai berani menolak permintaannya untuk segera menikah.


"Ti-tidak. Bukan seperti itu maksudku, Kek," jawab Reksa bingung harus menjelaskan apa. Di satu sisi kehadiran Anna sangatlah menolongnya. Namun, di sisi lain itu justru akan menjadi mala petaka besar baginya, terlebih lagi melihat kedekatan sang kakek dan Anna yang sangat akrab. Sementara itu, Anna hanya diam tak berkomentar apapun.


Seketika Reksa melirik sinis ke arah Andre yang sedari tadi sudah berdiri di sampingnya. "Kenapa kau bawa dia kemari, ha?" bisiknya kesal. Sungguh sahabatnya itu sangat menyebalkan sekali saat ini.


"Dia kemari hanya ingin mengantar makan siang pesananmu. Berhubung katanya dia karyawan baru di resto, so dia belum tahu ruangan ini," jelas Andre berbisik.


"Apa kau tidak membaca pesan dariku?" bisik Reksa geram sambil sesekali melirik ke arah Kakek Kusuma dan Anna yang tengah asyik berbincang.


"Pesan? Kau mengirim pesan?" tanya Andre sambil merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah handphone cerdas dari dalam sana. Ia tampak memeriksa ponselnya itu, sontak membuat Reksa seketika melengos kesal.


"Ikut aku!" Reksa menarik paksa tangan Andre, lalu menyeret pelan sahabatnya itu ke luar.


"Ta-tapi ke mana?" protes Andre tanpa mendapat tanggapan.


"Kami permisi sebentar, Kek. Ada yang harus kami selesaikan. Sepuluh menit lagi aku kembali," jawab Reksa tampak menoleh ke belakang.


Reksa dan Andre segera keluar dari ruangan itu, lalu masuk ke dalam ruang kerja Andre.


"Kenapa wanita itu yang kau bawa ke ruanganku, ha?" gerutu Reksa tanpa berbasa-basi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa berwarna hitam.


"Sorry, aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini," jawab Andre santai.


"Kau ini selalu saja mengabaikan pesan dariku!" kesal Reksa tanpa ingin peduli dengan penjelasan Andre.


"Sorry, aku tidak tahu."


"Kau tahu? Itu sama saja dengan mendatangkan masalah baru untukku," terang Reksa.

__ADS_1


"Memangnya kau punya masalah apa?" tanya Andre ingin tahu, karena jujur ia pun masih belum paham dengan situasi yang sedang dihadapi sahabat sekaligus atasannya itu.


Reksa pun menceritakan rencana perjodohan sang kakek dan ide gilanya untuk mencari kekasih pura-pura yang akan dikenalkan pada kakeknya.


Andre yang mendengar cerita Reksa pun tak kuasa menahan tawa. Sungguh atasannya itu sangat konyol, pikirnya.


"Lantas, apa maumu sekarang? Wanita itu sudah terlanjur terperangkap dalam permainanmu. Meskipun tidak sengaja, tetapi kurasa dia datang di waktu yang tepat. Masalahnya sudah clear, bukan?" ucap Andre sambil mengerlingkan sebelah matanya seolah memberi isyarat agar Reksa mau memanfaatkan situasi ini.


"Tidak semudah itu, Brother!" bantah Reksa. "Masalahnya wanita itu pembawa sial. Bisa saja aku sial seumur hidup kalau jadikan dia sebagai kekasih pura-pura. Lagi pula, aku tidak mengenal wanita itu," imbuhnya.


"Aku tidak yakin kalau kau tidak mengenalnya?" ucap Andre menatap penuh selidik.


Reksa menarik napas berat. Ia memang belum menceritakan kejadian malam itu, saat ia menolong Anna. Menurutnya itu bukanlah hal penting yang harus ia ceritakan, tetapi sepertinya kali ini ia harus menceritakannya kepada Andre.


"Aku pernah menolong wanita itu, waktu dia dikejar preman," jelas Reksa mulai bercerita. "Aku juga pernah beberapa kali bertemu dengan nya secara tidak sengaja. slSetiap kali bertemu dengannya pasti aku sial," sambungnya lagi.


"Lalu, Kakek Kusuma kenal di mana dengan wanita itu?" tanya Andre lagi.


"Entahlah, aku juga bingung," jawab Reksa sedikit menaikkan kedua bahunya.


Reksa sendiri bingung dari mana sang kakek mengenal wanita itu, bahkan keduanya terlihat begitu akrab.


Mereka terdiam beberapa saat, lalu seketika Andre menarik kedua sudut bibirnya membuat sebuah lengkungan, sehingga membuat Reksa merasa aneh melihat perubahan ekspresi sahabatnya yang sedikit mencurigakan.


"Aha, aku punya ide bagus!" seru Andre sembari memetik jarinya.


"Jangan bilang kau—"


"Simbiosis mutualisme," potong Andre.


"Maksudmu?" Reksa tampak belum paham.


"Anggap saja ini sebagai balas budi. Kau bisa meminta imbalan atas apa yang pernah kau lakukan untuk wanita itu. So, sama-sama diuntungkan, bukan?"

__ADS_1


"Apa? Memangnya aku ini lelaki apa? Walau bagaimana pun aku ikhlas menolongnya," bantah Reksa seraya membulatkan mata. "Bisa-bisanya kau punya pikiran seperti itu!" gerutunya.


__ADS_2