
"Hei, Are you crazy? Apa kau sudah bosan hidup, ha?" teriak seorang pria seraya mengeluarkan sebagian kepalanya dari jendela mobil.
Wanita itu mendongak, lalu menoleh ke arah sumber suara. "Orang itu masih bisa melihatku. Apa itu artinya aku masih hidup?" batinnya saat itu.
Dengan rasa penasaran, ia menampar kedua pipinya dengan sedikit keras. "Aauuwww!" pekiknya kesakitan. Seketika matanya membeliak, lalu tertawa lepas.
"Aku hidup? Aku masih hidup, haha!" seru wanita itu terbahak. "Annaa, bodoh sekali kau ini!" imbuhnya seraya mengumpat diri sendiri. Ia pu segera bangkit kembali dengan pakaian yang sudah basah kuyup.
"Tuhan, terima kasih atas pertolongan-Mu hari ini," ucapnya kemudian sambil menengadahkan kedua telapak tangannya.
"Hei! Apa kau tuli, ha?" Sang pengendara mobil itu kembali berteriak, sontak membuat ia sedikit terlonjak.
Wanita yang akrab disapa Anna itu tampak menatap wajah pria asing yang masih samar terlihat. Namun, belum berhasil ia memperjelas penglihatannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan preman itu kembali, sehingga membuat ia terkejut.
"Itu dia!" teriak salah satu preman itu dari jarak yang cukup jauh. Ternyata mereka masih berusaha mengejarnya.
Tanpa berpikir panjang, ia pun segera berlari menghampiri sang pengendara mobil yang nyaris menabraknya, lalu berdiri di samping pintu mobil bagian depan.
Perfect!
Seketika ia termangu, ketika menadapati sosok pria tampan yang berada di dalam mobil. Dunia seakan terhenti begitu cepat. Sungguh Mahakarya Tuhan yang sangat sempurna, pikirnya.
Seorang pria tampan bergaya eksekutif muda, berkulit putih mulus tanpa ada cacat sedikit pun. Tampak hidung mancung dan bibir tipisnya yang begitu menggoda. Belum lagi matanya yang menyerupai mata elang. Ah, semua itu benar-benar membuat ia terhipnotis dalam waktu sekejap.
Anna masih menatap lekat pria itu. Ada perasaan aneh yang berdesir di hatinya. Bahkan, ia mulai merasakan debaran hebat di dalam sana. Ia tahu betul pertanda apa itu.
Ah, hatiku tak tahu diri sekali, pilihnya pria tampan bermobil mewah.
"Shit!"
Belum selesai ia berimajinasi, tiba-tiba umpatan pria itu membuatnya tersadar, lalu menepis segala yang mengganggu pikirannya saat itu. Hampir saja ia lupa bahwa ada dua penjahat yang masih berusaha mengejarnya.
"Mas, tolong saya, mereka mengejar saya. Saya mohon!" ucap Anna tanpa berbasa-basi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya, berharap pria tampan itu bersedia menolongnya.
"Mas, saya mohon!" pinta Anna menatap penuh harap, sementara pria di dalam mobil itu masih belum memberikan respon apapun.
__ADS_1
Sesekali Ia menoleh ke arah kedua preman itu. Ia semakin ketakutan, ketika jarak preman-preman itu semakin dekat dengannya.
"Mau lari kemana kau perempuan nakal?" teriak salah satu preman berkaus hitam seraya menunjuk ke arah gadis itu dengan begitu geram.
"Mas," rengek Anna memohon.
"Bikin repot saja. Masuk!" Dengan nada terpaksa pria itu meminta Anna untuk masuk ke dalam mobilnya.
Dengan sigap Anna membuka pintu belakang mobil pria asing itu, lalu duduk tepat di belakang jok kemudi, sebelum kedua preman itu berhasil menghampirinya.
Pria itu tampak memperhatikan Anna dari kaca spion mobil yang menggantung di atas kepalanya, lalu berdecak kesal.
Dia pikir aku ini sopirnya apa?
Tanpa ingin memperpanjang, pria itu segera menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobil itu membelah jalanan di bawah gemuruh air hujan.
"Sial! Dia lolos!" umpat kedua preman itu, ketika wanita yang ia kejar berhasil meloloskan diri.
Pria asing yang membawa Anna pun semakin mempercepat laju kemudinya membelah jalan raya yang tampak begitu sepi. Bahkan, beberapa toko di sekitar jalan yang dilaluinya pun tampak sudah berhenti beroperasi malam itu, sehingga membuat suasana semakin tambah sepi.
Anna menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil, lalu menghela napas panjang, merasa sedikit lega, setelah apa yang telah terjadi sebelumnya.
Tak ada yang mereka bahas sepanjang perjalanan. Bahkan, pria itu tidak berkata apapun, meski sekadar berbasa-basi. Pria asing itu hanya sesekali melirik kaca spion di atasnya untuk melihat keadaan Anna yang tengah duduk di jok belakang.
"Mas, terima kasih sudah mau menolong saya," ucap Anna sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya tidak tahu akan seperti apa jadinya, bila tidak ada, Mas," imbuhnya yang tidak mendapat tanggapan dari pria itu.
Anna sedikit memberengutkan wajahnya. Namun, ia tidak mau terlalu ambil pusing. Ia kembali menyandarkan tubuhnya, mengedarkan pandangan ke luar jendela. Seketika ia terperanjat, ketika pria itu tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Mas, kenapa berhenti di sini?" tanya Anna heran.
"Mau saya antar kemana?" tanya pria itu tanpa menoleh. "Masih jauh tidak?" imbuhnya datar.
Aku lupa, dia kan tidak tahu tempat tinggalku dimana.
"Ke rumah kontrakan saya, Mas. Masih lumayan jauh dari sini," jawab Anna.
__ADS_1
"Pindah ke depan! Saya bukan supir!" tukas pria itu.
"Ba-baik," ucap Anna sedikit gugup.
Dengan rasa canggung, Anna terpaksa turun dari mobil itu, lalu pindah ke kursi depan. Sekilas ia menoleh ke samping kanan, menatap tidak enak pria di sampingnya. Namun, ia segera memfokuskan kembali pandangannya ke depan.
Setelah beberapa saat, Anna menunjukkan rute jalan menuju rumah kontrakan tempat tinggalnya. Pria itu masih bersikap seperti sebelumnya, tidak mau menanggapi. Namun, ia tetap mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Anna.
Berada di dekat pria dingin membuatnya seakan tidak bisa berkutik banyak. Percuma saja, ingin berkata apapun jika tidak banyak ditanggapi, malah akan membuatnya merasa malu dan kikuk.
Hampir setengah jam mereka berada di dalam mobil. Namun, keadaan masih tetap sama, tidak ada yang membuka suara, walau hanya sekadar berbasa-basi. Terlebih lagi pria asing itu.
Beberapa menit kemudian, pria itu menghentikan mobilnya di sebuah perumahan real estate, tepatnya di depan rumah mewah dengan pagar besi yang menjulang tinggi, sesuai permintaan Anna. Namun, bukanlah di sana ia tinggal, melainkan di belakang rumah itu. Dari sana, ia masih harus berjalan beberapa meter untuk sampai di rumah kontrakannya.
"Mas, terima kasih sudah menolong dan mengantar saya pulang," ucap Anna seraya menoleh ke samping.
"Kau tinggal di sini?" tanya pria itu seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, lalu melihat ke atas, menatap lantai dua rumah mewah itu. Namun, tidak berlangsung lama.
Anna tertawa kecil. "Bukan, Mas! Mana mungkin saya bisa tinggal di rumah semewah ini. Saya hanya tinggal dikontrakan yang berada di belakang rumah ini. Jadi, dari sini saya masih harus berjalan kaki beberapa meter," jawab Ana. Namun, pria itu hanya mengangguk pelan, tanpa menatap sedikit pun wajah gadis itu, seolah tidak terlalu peduli.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Anna. Kalau boleh tahu ... nama Mas siapa?" Anna mengulurkan tangannya seraya mengajak berkenalan, sebelum pergi. Ia menatap penuh tanya pria itu.
Beberapa detik, pria itu masih tidak ingin meraih tangan Anna, meski untuk sekadar berkenalan hingga membuat wanita itu menarik kembali tangannya, lalu sedikit memaksakan senyumnya.
"Baiklah, saya permisi. Sekali lagi terima kasih," ucap Anna seraya membalikkan badannya ke arah pintu, berniat untuk segera turun. Namun, seketika kegiatannya terhenti, ketika pria itu membuka suara.
"Lain kali, hati-hati jika berbicara dengan orang asing!" celetuk pria itu yang seketika membuat Anna kembali tertegun.
Kalimat itu? Seperti tidak asing bagiku.
Anna hanya menganggukkan kepala pelan, sebagai tanggapan. Ia segera turun dari mobil itu, lalu berjalan menuju ke arah rumah kontrakannya.
_____________
Happy reading!
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, subscribe and rate 5 star
TBC