
Mereka segera bergegas dari tempat itu, setelah Anna memberikan kunci rumah dan berpamitan kepada ibu pemilik kontrakan.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Anna yang berjalan di belakang Reksa sembari menjinjing tas berukuran besar di kedua tangannya, sehingga membuatnya sedikit kesulitan untuk berjalan lebih cepat, karena beban tas yang begitu berat.
Anna memperhatikan punggung pria yang tengah berjalan santai di depannya, tanpa ada beban sepertinya. Sesekali ia menghentikan langkahnya, menurunkan tas itu sejenak, sekadar beristirahat.
Apa dia benar-benar tidak memiliki perasaan, sehingga membiarkan wanita sepertiku membawa tas sebesar dan seberat ini sendirian?
"Huh!" Anna tampak meraih kembali tali tas itu, setelah langkahnya tertinggal cukup jauh. "Ya, Tuhan, aku mohon kirimkan malaikat untukku, aku butuh sekali pertolongannya untuk membawa tas ini!" teriaknya sengaja ingin menyindir Reksa.
Bagaimana pun Reksa yang sudah berjalan cukup jauh, tetap saja bisa mendengar suara Anna yang begitu nyaring di telinganya. Dengan sigap, ia pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
Melihat Anna yang sedikit kesulitan berjalan, membuat Reksa seketika menahan tawanya. Ia baru sadar kalau ternyata tas yang dibawa Anna sebesar dan seberat itu.
Barang apa saja yang sebenarnya ia bawa, sehingga membuatnya kesulitan seperti itu. Bikin susah saja!
Reksa pun menunggu Anna tiba di depannya, sementara Anna tampak menatapnya sinis dari kejauhan.
"Berikan tasnya!" pinta Reksa seraya menengadahkan telapak tangannya, setelah Anna berdiri di depannya.
"Tidak perlu!" tolak Anna dengan nada ketus. "Saya bisa membawanya sendiri," imbuhnya kesal.
Kenapa dia baru sekarang menawarkan bantuan, setelah tinggal beberapa langkah lagi menuju mobil, menyebalkan!
"Tuhan mengirimku untuk menolong makhluk yang lemah sepertimu," ujar Reksa yang tentu saja membuat Anna makin kesal karena dicap sebagai orang lemah. "Ayo, berikan tasmu!" imbunya kemudian.
"Ini!" Anna tampak menyodorkan kedua tasnya kepada Reksa. Ia ingin melihat apakah Reksa benar-benar ingin membantunya atau hanya sekadar basa-basi saja.
Tanpa berkomentar apa pun, Reksa segera meraih kedua tas itu, lalu menjinjingnya dengan begitu santai, bahkan tas itu terlihat sangat ringan di tangannya, berbeda dengan ketika Anna yang membawa tas tersebut.
Anna tampak berkacak pinggang sambil memperhatikan Reksa yang sudah makin dekat dengan mobilnya.
__ADS_1
"Oh, Tuhan, tangannya kuat sekali, hingga tas itu sama sekali terlihat tidak memiliki beban di tangannya," lirih Anna menatap kagum Reksa.
Seketika ia menyeringai senang. Tentu saja ia senang, karena ternyata Reksa masih memiliki perasaan dan bersedia membantu meringankan bebannya.
Siapa sangka, pria kaya seperti Reksa yang mungkin sebelummya belum pernah mengerjakan hal itu, tiba-tiba bersedia membantu Anna membawakan tas miliknya.
"Ternyata hatiku tidak salah," gumam Anna seraya tersenyum sambil memandang Reksa dari jauh.
Ia pun segera melangkahkan kakinya kembali menghampiri Reksa yang kala itu sedang memasukkan kedua tas itu ke dalam bagasi mobilnya.
Anna masih belum ingin mengakhiri senyumannya, sehingga membuat Reksa yang baru saja menutup bagasi mobil seketika mengerutkan dahinya, ketika menyadari Anna yang terlihat sedang senyum-senyum sendiri. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanyanya heran.
Anna hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan. Namun, tetap saja pertanyaan Reksa tidak membuatnya ingin berhenti tersenyum.
Betapa pun Reksa selalu memaksa dan mengganggu hidupnya. Namun, tetap saja ia tidak bisa menghilangkan rasa kagum terhadap pria itu. Entah kenapa ia begitu menyukai pria yang justru membawa masalah baru dalah hidupnya.
Mungkin Anna yang memang sulit untuk jatuh cinta, sehingga ia pun sulit untuk melupakan perasaannya terhadap sosok yang sudah berhasil mengusik hatinya. Ya, Reksa lah orangnya.
"Haa?" Anna tampak sedikit terperangah, lalu membulatkan matanya.
Secepat kilat Anna membalikkan badannya menatap sinis Reksa. "Memangnya saya gila?" gerutunya kesal.
"Lalu, aku harus menyebutnya apa, jika ada orang yang senyum-senyum sendirian sepertimu?" ujar Reksa tanpa ingin membalikkan badannya menghadap Anna.
"Mas Reksa!" Anna mulai merajuk. Namun, Reksa tampak menyeringai tidak peduli dan segera masuk ke dalam mobilnya. "Hhh, menyebalkan!" gerutunya seraya menghentakan sebelah kakinya.
Anna pun segera menyusul Reksa. Ia tampak duduk di samping Reksa yang kala itu telah siap untuk menyetir dengan pandangan yang fokus ke depan. Melihat Reksa yang terlihat santai, seketika ada ide yang melintas di pikirannya.
Sekilas Anna menyeringai, lalu menutup pintu mobil itu dengan sangat kasar. Ya, ia hanya ingin menunjukkan kekesalannnya di depan Reksa. Di samping itu, ia juga ingin membalas kekesalannnya dan ingin tahu bagaimana reaksi Reksa saat itu.
"Hei! Kau mau menghancurkan mobilku?" Reksa tampak menoleh sambil membulatkan matanya.
__ADS_1
Menyaksikan ekspresi Reksa yang semarah itu, membuat Anna cukup menahan tawa. Akhirnya, ia bisa membalas semua kekesalannya terhadap pria yang saat ini duduk di sampingnya, pikirnya.
"Ya ampun, Mas ... hanya begitu saja marah," balas Anna dengan santai. "Bukankah Mas itu orang kaya yang bisa kapan saja mengganti barang yang rusak dengan yang baru?" imbuhnya.
"Heh, jangan seenaknya kau berbicara!" geram Reksa. "Memangnya kau pikir, harga mobil ini hanya 1 juta?" cerocosnya.
"Katanya membayar saya dengan harga mahal saja mampu, kenapa mobil tidak?" sindir Anna.
"Ini bukan soal mampu atau tidak mampu!" bantah Reksa. "Aku tidak habis pikir bisa dipertemukan dengan wanita kasar sepertimu, kasihan sekali pria yang akan menjadi suamimu nanti!" Reksa tampak mencebikkan bibirnya.
"Barangkali Mas Reksa yang akan menjadi pria beruntung itu." Anna menatap Reksa sambil menahan tawanya.
Reksa makin mempertajam tatapannya. "Kau benar-benar sudah gila!" balasnya seraya menyalakan mesin mobil itu, seolah-olah ingin segera mengakhiri perbincangan mereka.
Bisa-bisa aku ikut gila, kalau terus-menerus berada di dekatnya. Sungguh wanita yang aneh!
Tanpa ingin memperpanjang lagi, Reksa segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Anna tampak sedikit terkekeh melihat ekspresi kecut yang ditunjukkan oleh Reksa.
Anna sangat senang, karena bisa membalas kekesalan yang ia rasakan terhadap Reksa. Setidaknya ia bisa melihat pemandangan yang sangat menggemaskan. Ya, ia sangat menyukai ekpresi Reksa yang seperti itu. Lucu dan menggemaskan.
Entah kenapa ia begitu menyukai saat Reksa sedang marah terhadapnya. Meskipun terkadang sangat menyeramkan, tetap saja ia menyukainya. Sepertinya semua yang ada dalam diri Reksa telah berhasil menghipnotisnya, entah itu kebaikan atau bahkan keburukannya. Sebuta itukah cinta?
"Mas mau bawa saya ke mana?" tanya Anna di tengah perjalanan mereka. Namun, tak mendapat respon dari Reksa.
"Mas, jawab!" rengek Anna. Namun, Reksa tetap tidak menanggapinya. Sepertinya Reksa benar-benar kesal terhadapnya.
Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Ahh, biarkan saja.
"Mas! Mas Reksa Angkasa ... bisa tolong jawab pertanyaan saya, tidak?" Anna tak ingin menyerah.
Akan tetapi, Reksa tetap bergeming dan fokus dengan kemudinya. "Ya, Tuhan, dia berisik sekali," gumamnya saat itu.
__ADS_1