
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Cahaya matahari yang masuk melalui rongga ventilasi udara seketika menciptakan suasana hangat di ruangan luas yang di dalamnya terdapat seseorang yang masih meringkuk di atas kasur nan begitu empuk. Ya, siapa lagi jika bukan Anna, penghuni baru di apartemen mewah dengan fasilitas yang super komplit.
Tampaknya Anna sangat pulas dengan tidurnya kali ini. Ya, tentu saja. Bagaimana tidak? Setelah sebelumnya ia tidur di tempat yang jauh dari rasa nyaman dan aman, tiba-tiba sekarang tidur di tempat dengan kondisi yang jauh berbeda. Sungguh ini seperti mimpi baginya, bisa tidur di tempat ternyaman yang baru pertama kali ia rasakan. Jadi, wajar saja jika ia bangun kesiangan.
Rasa hangat yang mulai menjamah tubuhnya, membuat Anna menggeliat, lalu memicingkan sebelah matanya. Namun, secepat kilat ia menggunakan tangannya untuk menutup wajah, ketika netranya terasa silau akibat cahaya matahari yang langsung tertangkap olehnya.
"Ya Tuhan, sudah jam berapa ini?" Anna terlonjak saat menyadari hari sudah pagi.
Ia mengangkat badannya mengubah posisi menjadi duduk dan seketika matanya membulat sempurna, ketika menatap jam yang bergantung di dinding.
"Ya ampun, aku kesiangan!" Anna segera turun dari tempat tidur, lalu berlari meraih handuk yang tersampir di rak handuk yang berada di depan kamar mandi.
Baru saja akan memutar knop pintu kamar mandi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan sedikit tertegun.
"Aku lupa, kalau mulai hari ini aku sudah tidak bekerja lagi, huh!" lirihnya kecewa. "Lalu, apa yang harus aku lakukan di apartemen sebesar dan semewah ini? Nonton TV? Ahh, membosankan sekali," imbuhnya.
Merasa bingung dengan kegiatan yang akan dilakukan, ia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sesuai rencana awal. Setelah itu, baru akan ia pikirkan nanti.
Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual membersihkan badan.
Setelah beberapa menit, ia telah selesai dengan kegiatannya dan segera berganti pakaian. Tanpa harus memoles wajahnya dengan sedikit make up, ia langsung menuju dapur dan membuka lemari pendingin, berharap di sana ada sesuatu yang bisa ia masak untuk sarapan paginya.
Sayang sekali, ternyata lemari pendingin itu tampak kosong, bahkan tidak ada satu pun makanan yang tersimpan di dalamnya.
"Mas Reksa tega sekali kepadaku, aku dibiarkan tinggal di tempat yang bahkan tidak tersedia makanan sama sekali. Aku lapar dari kemarin sore belum makan," gerutu Anna sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
Dari kemarin Anna memang tidak sempat makan lagi. Kesibukkannya merapikan barang-barang miliknya membuat ia melupakan kondisi perutnya sendiri. Belum lagi rasa lelah yang juga membuatnya tiba-tiba mengantuk. Ia pun terbawa suasana akan kenyamanan apartemen itu dan langsung memutuskan untuk tidur. Alhasil, tak banyak yang ia lakukan, bahkan tak ada yang ia ingat lagi setelah itu.
Dengan malas, Anna mendaratkan tubuhnya di kursi makan yang tak jauh dari jangkauannya. Ia tampak menopang dagu, meratapi nasibnya sendiri. Namun, tak lama kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi. Ia segera menegakkan badan kembali. "Siapa itu? Apa mungkin mas Reksa?" ucapnya.
Anna bangkit, lalu menghampiri pintu itu, berharap yang datang adalah Reksa. Jika memang benar, maka ia akan langsung melayangkan protesnya saat itu juga.
Namun, sepertinya ia harus mengurungkan niatnya, ketika mendapati wajah asing yang berada di depan pintu apartemennya. Ia terdiam, mengamati wajah pria asing berseragam biru itu.
"Maaf, dengan Nona Anna?" tanya pria itu seolah-olah memastikan.
"I-iya. Ada yang bisa saya bantu?" balas Anna sedikit ragu.
"Saya ditugaskan untuk mengantar makanan ini," jawab pria itu sambil memberikan sebuah nampan berisi menu sarapan lengkap.
Sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah layanan tambahan yang bisa ia nikmati di apartemen itu. Ternyata Reksa tidak seburuk itu, pikirnya.
"Selamat menikmati, Nona," balas pria itu.
***
Di tempat lain, tepatnya di kantor perusahaan Angkasa Group, Reksa tampak mengamati ponselnya, menyaksikan kegiatan Anna di apartemen. Ya, Reksa memang sengaja memasang CCTV di ruang-ruang tertentu apartemen yang kini ditempati oleh Anna, salah satunya di dapur.
CCTV itu sengaja dihubungkan dengan ponselnya, agar ia bisa memantau kegiatan Anna selama di apartemen melalui jarak jauh. Melihat Anna yang tampak mencari sesuatu di dalam lemari pendingin, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia pun segera menghubungi customer service resto apartemen, meminta mereka untuk mengantar makanan kepada Anna.
Setelah memastikan Anna telah menerima menu sarapannya, ia segera menutup aplikasi yang terhubung dengan kamera CCTV. Namun, ponsel itu segera beralih ke telinganya, ketika ia mendapati panggilan masuk yang tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya kepada seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Anna.
"Mas Reksa, terima kasih untuk sarapan pagi ini yang super lezat sekali," balas Anna terdengar girang.
"Kau meneleponku hanya untuk menyampaikan itu?" tanya Reksa sedikit heran dengan sikap Anna yang menurutnya tidak penting sama sekali.
"Ya, salah satunya, tetapi ada hal lain juga yang ingin saya bicarakan dengan Mas," jawab Anna.
"Apa itu penting?" Reksa tampak memastikan.
Ya, seperti itulah Reksa Angkasa, pria yang selalu berusaha menghindari hal-hal yang tidak penting baginya. Sebab, itu hanya akan membuang waktunya saja.
"Tentu saja ini sangat penting," jawab Anna dengan yakin.
"Oke, katakan!" pinta Reksa.
"Mas, bisakah saya bekerja kembali di laundry? Saya tidak bisa kalau seperti ini terus, hanya makan, tidur dan nonton TV. Ahh, membosankan sekali rasanya," keluh Anna. "Saya masih muda. Bukankah akan lebih baik, kalau saya tetap produktif di usia muda? Saya janji akan tetap menjalankan kontrak kerjasama kita dengan baik, Mas tidak perlu khawatir," cerocosnya lagi-lagi memohon kepada Reksa agar ia bisa kembali bekerja, padahal jelas-jelas Reksa tidak menginginkan hal itu.
"Apa menurutmu itu penting bagiku? lantas, apa pentingnya bagiku?" tanya Reksa datar.
Anna tidak langsung menanggapi, entah apa yang sedang ia lakukan saat itu. "Ya ... ya ... memang tidak ada, tapi—"
"Buang-buang waktu saja!"
Tanpa ingin memberikan Anna kesempatan lagi untuk berbicara, Reksa langsung mematikan saluran telepon itu, bahkan tanpa permisi kepada Anna.
__ADS_1
"Dia pikir, dia itu siapa, seenaknya saja mengaturku!" gerutu Reksa seraya meletakkan ponselnya di atas meja, lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di ruang kerjanya. Ia pun segera menyuruh seseorang di luar sana untuk masuk.
"Kau?" Reksa tampak terlonjak, ketika mendapati sosok yang tidak asing baginya masuk ke dalam ruangan.