After Met You

After Met You
Menghindari Reksa


__ADS_3

Anna tergegun sejenak sambil duduk di bibir ranjang. Setiap wanita pasti memiliki harapan yang indah untuk masa depannya, termasuk perihal pasangan. Begitu pun dengannya. Ia berharap suatu saat memiliki pasangan yang baik hati, tampan dan mapan seperti Reksa.


Sejujurnya, ia memang telah jatuh hati kepada Reksa sejak pertama kali pertemuan malam itu. Entah kenapa ia bisa dengan mudah menaruh hati pada pria itu, padahal sebelumnya ia terbilang sulit untuk jatuh cinta, terlebih lagi kepada pria asing.


"Aku tahu, aku memang tidak pantas utuknya, tetapi dia tidak harus berbicara seperti itu. Lagi pula, aku juga cukup tahu diri, mana mungkin aku bisa memilikinya. Dia saja yang terlalu paranoid, huh!" gerutu Anna.


Perkataan Reksa beberapa menit lalu cukup membuatnya berpikir bahwa ia bukanlah sosok wanita yang diharapkan oleh pria itu. Itu artinya ia pun harus berhenti berharap padanya. Mana mungkin ia bisa berdampingan dengan pria seperti Reksa, pikirnya.


"Sudahlah Anna, yang penting tugasmu sudah selesai, setidaknya kau sudah pernah dinner bersama sultan. Anggap saja itu anugerah dari Tuhan untukmu. Orang-orang seperti kau memang tidak pantas bersanding dengan tuan muda seperti mas Reksa. Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti jatuh baru tahu rasa kau!" imbuhnya mengingatkan diri sendiri.


Rasanya sakit sekali, ketika mendengar ucapan terakhir pria itu. Namun, apalah daya ia pun tidak bisa berbuat banyak selain sadar diri. "Kita memang seperti langit dan bumi yang tak mungkin bisa bersatu," lirihnya sedih.


Delapan belas tahun yang lalu, ia sempat tidak ingin kehilangan sosok anak laki-laki yang tak lain adalah sahabat yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu, bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayang terhadap dirinya sendiri. Hingga pada suatu ketika, ia benar-benar berpisah dengan sosok tersebut. Itulah kali pertama ia merasakan patah hati paling sempurna.


Ia hancur sehancur-hancurnya, lebih hancur lagi saat sosok tersebut tak menepati janji untuk menemuinya lagi.


"Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak pernah menemuiku lagi, padahal dia sudah janji akan datang, setidaknya setahun sekali," bisiknya dengan mata berkaca-kaca.


Bertahun-tahun ia menunggu, berharap sosok yang ia tunggu akan datang menemuinya, tetapi nyatanya tidak. Ia sedih, benar-benar sedih. Sungguh ia merasa kehilangan sosok yang sangat berarti baginya. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi dekat dengan pria mana pun. Sampai detik ini, ia masih mengharapkan kehadiran sosok sahabatnya itu.


Bukan dipertemukan dengan sosok yang sedang ditunggu, ia justru malah dipertemukan dengan Reksa—pria asing—yang membuatnya jatuh cinta, sekaligus patah hati dalam waktu singkat. Rasanya sakit sekali, ketika tahu bahwa dirinya sama sekali tidak diharapkan oleh pria itu. Ia pun harus sadar diri bahwa bagi pria itu, ia hanyalah sebagai kekasih pura-pura, tidak lebih. Tidak disangka, kehadiran pria itu berhasil membuatnya merasakan patah hati untuk yang kedua kali.


"Kak Didit, andai saja kau ada di sini, mungkin aku akan bercerita tentang patah hatiku saat ini," ucapnya diakhiri dengan tawa kecil. Kenangan masa kecilnya dengan Didit hadir begitu saja dalam imajinasinya. "Ah, sudahlah Anna ... sekarang kau fokus saja dengan hidupmu, tak perlu lagi memikirkan pria itu. Lebih baik kau kerja saja dengan benar, agar kelak bisa menjadi orang yang sukses," imbuhnya lagi-lagi menasihati dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Tiga hari kemudian, lagi-lagi Anna mendapat tugas untuk mengantar makanan. Ya, memang itulah pekerjaaannya. Seharusnya itu tak menjadi masalah, tetapi karena tugasnya mengantar makanan pesanan Reksa, tentu saja itu menjadi masalah baginya. Bagaimana tidak? Disaat ia berniat untuk menjauhi dan melupakan pria itu, tetapi nyatanya ia terbentur dengan pekerjaan yang mengharuskan dirinya bertemu dengan pria itu.


Anna menghampiri meja resepsionis, berharap petugasnya akan menerima paket makanan yang ia bawa dan memberikannya kepada Reksa. Namun, petugas di meja resepsionis justru memintanya untuk mengantar langsung ke ruangan pria itu.


Ia kian bertambah bingung, bagaimana caranya supaya makanan itu sampai ke tangan pemiliknya, tetapi tidak harus bertemu dengan pria itu. Ia pun beranjak dari tempat itu sambil mencari seseorang yang sekiranya dapat membantu mengantar makanan itu ke ruangan CEO.


"Mbak, maaf saya mau mengantar pesanan pak Reksa, tetapi saya tidak tahu ruangannya di mana, Mbak bisa tolong bantu saya?" tanya Anna kepada seorang karyawan wanita yang tidak sengaja melintas di depannya.


"Oh, Mbak naik lift saja ke lantai dua, ruangannya ada di sana," jawab karyawan itu.


"Mbak maaf, Anda bisa tolong bantu saya untuk memberikannya kepada pak Reksa?" tanya Anna dengan tatapan memelas.


"Aduh, Mbak, maaf sekali ... saya sedang ada urusan, lebih baik Mbak antar saja sendiri, permisi," jawab karyawan itu menolak.


Di lantai 2 lift terhenti, Anna baru saja keluar dari lift itu. Namun, tiba-tiba ia menemukan sosok tidak asing di matanya. Bukan Reksa, tetapi Andre, pria yang kemarin mengantarnya ke ruangan Reksa. Satu kesempatan baik untuknya. Ia pun segera memanggil Andre untuk meminta bantuan.


"Mas, tunggu!" teriak Anna berusaha mengejar Andre yang tengah berjalan menuju ruangan CEO.


Andre tampak membalikkan badannya. "Iya?" tanyanya singkat. Sepertinya ia sudah lupa dengan wajah Anna.


"Bukankah Mas ini yang mengantar saya ke ruangan pak Reksa tiga hari yang lalu?" tanya Anna sedikit ragu.

__ADS_1


Andre tampak mengamati wajah Anna beberapa saat, seolah sedang mengingat kejadian hari-hari sebelumnya. "Kau? Bukankah kau yang menjadi—"


"Iya, betul," jawab Anna memotong pembicaraan Andre, seolah tahu apa yang akan dikatakan pria itu.


"O' ya, ada apa? Mau bertemu dengan Reksa?" tanya Andre, setelah mengingatnya.


"Oh, tidak!" bantah Anna. "Saya hanya mau mengantar pesanan pak Reksa, Mas bisa bantu saya untuk memberikannya?" tanya Anna sedikit ragu.


"Kenapa tidak kau antar saja langsung ke ruangannya?"


"Saya tidak berani jika harus ke ruangan beliau langsung. Tolong bantu saya, please!" ucap Anna memohon.


Andre mengerutkan dahinya, lalu tersenyum. "Baiklah, kebetulan saya juga akan ke ruangannya," jawab Andre yang sontak membuat Anna senang bukan main.


"Terima kasih atas bantuan Anda. Ini pesanannya." Anna menyodorkan paper bag itu kepada Andre. "Kalau begitu, saya permisi," imbuhnya, lalu segera beranjak daru tempat itu, setelah Andre meraih paper bag yang ia berikan.


"Eh, tunggu!" panggil Andre, sontak membuat Anna kembali membalikkan badannya.


"Iya, kenapa?" tanya Anna penasaran.


"Siapa namamu?" Pertanyaan Andre membuat Anna menautkan kedua alisnya merasa heran.


"Anna," singkat Anna sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Baiklah, Anna, aku akan memberikan ini kepada Reksa."


"Terima kasih." Anna lagi-lagi tersenyum menanggapi pria itu, lalu ia segera pergi dari kantor tempat Reksa bekerja. Akhirnya, hari ini ia berhasil menghindari pria yang sudah membuatnya patah hati.


__ADS_2