
"Mas Reksa?" Anna terbelalak, ketika kaca mobil itu terbuka dan mendapati sosok Reksa di dalamnya.
"Masuk!" titah Reksa tanpa peduli wanita itu akan bersedia atau tidak.
"Maaf, saya sedang ada urusan," jawab Anna datar.
Ia memang sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan pria yang sudah membuatnya patah hati secepat itu. Ia pun harus terlihat sedikit jual mahal di depan pria itu, agar tidak lagi dinilai rendah seperti sebelumnya.
Memangnya dia pikir, aku serendah itu, bisa dengan mudah ditaklukkan? Aku memang sudah jatuh hati padanya, tetapi tidak mungkin juga secepat itu aku ingin memilikinya. Rasanya sakit sekali mengingat perkataan dia malam itu, seolah aku ini berusaha sekali untuk bisa mendapatkan hatinya. Bahkan, berusaha untuk mendekatinya pun belum sempat kulakukan. Menyebalkan!
"Aku punya tawaran bagus untukmu," ucap Reksa memberi tahu.
"Maaf, Mas, saya tidak tertarik. Permisi." Anna tampak tidak peduli. Ia segera pergi meninggalkan Reksa di sana.
"Tunggu!" teriak Reksa seraya turun dari mobilnya, lalu mengejar Anna yang belum jauh melangkah.
Anna membalikkan badannya, lalu menatap nanar wajah yang sudah berdiri di depannya. "Kenapa lagi?" tanya Anna. "Saya sedang ada urusan penting," imbuhnya memperjelas, meskipun sebenarnya ia berbohong. Hanya berusaha untuk menghindari pria itu.
"Urusan penting apa?" tanya Reksa seraya mengerutkan dahi, padahal ia tahu betul Anna tidak sedang memiliki urusan lain. Justru wanita itu bisa pulang cepat dari resto karena dirinya yang sudah berkolusi dengan Revan. Tidak sedikit pula uang yang ia keluarkan untuk usahanya itu.
"Ya-ya ... ada. Ini bukan urusan Anda, jadi untuk apa saya memberi tahu," jawab Anna sedikit gugup.
"Bukankah seharusnya kau pulang?" Reksa menarik sebelah sisi bibirnya, memaksakan senyuman.
Anna sedikit terperangah. Tentu saja ia tahu arti dari senyuman itu. Penuh kelicikan. "Jadi, ini semua ulah Mas Reksa?" tanyanya sinis.
Reksa kemudian tertawa, sebelum ia menanggapi. "Ternyata kau cerdas juga. Aku tidak menyangka kau bisa menebak secepat itu," jawab Reksa seolah mengakui tuduhan wanita itu.
__ADS_1
"Hh, ternyata saya sudah salah menilai Anda!" ketus Anna, lalu beranjak dari hadapan pria itu.
"Aku ingin menawarkan pekerjaan, apa kau bersedia?" Reksa menarik tangan Anna, sehingga membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk segera pergi.
"Sudah saya katakan, saya tidak tertarik!" tegas Anna seraya menarik kembali tangannya. Namun, cengkeraman pria itu terlalu kuat untuk dikalahkan.
"Aku akan membayarmu dengan sangat mahal, berapa pun yang kau minta," ucap Reksa berusaha membujuk.
"Saya tetap tidak tertarik," jawab Anna tidak peduli berapa pun bayaran yang akan ia dapatkan.
Bukan karena tidak butuh uang banyak, hanya saja dirinya terlalu berharga untuk merasakan sakit berulang-ulang. Sebab, jika terlalu sering bertemu dengan pria itu, hanya akan membuatnya makin menderita, di mana ia akan makin sulit untuk melupakan sosok yang membuatnya jatuh hati, sementara sosok itu sama sekali tidah menaruh hati terhadapnya.
"Bahkan, kau belum tahu pekerjaannya apa!" tukas Reksa tidak ingin menyerah.
"Saya tidak peduli apa pun pekerjaannya. Dengan hormat, saya tetap menolak," balas Anna yang sontak membuat Reksa termangu. "Bisa tolong Anda lepaskan tangan saya?" Anna menatap nanar, sehingga membuat pria itu menyerah begitu saja.
Benar kata Andre bahwa Reksa memang paling tidak bisa berurusan dengan wanita. Buktinya, kali ini ia tidak berhasil membujuk Anna untuk menerima tawarannya yang begitu menggiurkan.
Pegawai mana yang ia bayar sesuai upah yang mereka inginkan. Tidak Anna. Hanya kepada wanita itu ia berani menawarkan. Namun, sungguh ini di luar dugaan. Ia tidak percaya jika Anna berani menolak tawaran emas darinya. Sungguh wanita yang luar biasa, pikirnya.
"Maaf, kalau aku sudah memaksa. Aku permisi," lirih Reksa menatap kecewa, lalu segera kembali ke mobilnya.
"Ya," singkat Anna.
Sebenarnya Anna merasa tidak tega telah bersikap seperti itu kepada Reksa. Namun, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seperti yang pria itu pikirkan.
Anna memang telah jatuh hati kepada Reksa, tetapi tidak serta merta ia menginginkan pria itu menjadi miliknya, terlebih lagi dalam waktu singkat. Ia cukup tahu diri untuk tidak melakukan hal itu.
__ADS_1
Tentu akan banyak berita miring, jika wanita miskin sepertinya hidup berdampingan dengan pria kaya seperti Reksa. Ia pasti akan dikatakan sebagai wanita matre yang hanya ingin harta pria itu. Sungguh ia tidak ingin jika itu terjadi.
Anna kembali melangkahkan kakinya, setelah Reksa pergi dari tempat itu. Karena pria itu sudah terlanjur membuatnya mendapatkan bonus waktu di tempat kerjanya, ia pun memutuskan untuk tetap pulang ke rumah kontrakan. Paling tidak, ia bisa menggunakan waktunya untuk sedikit berleha-leha. Kesempatan baik yang jarang sekali ia dapatkan.
Ia berjalan kaki beberapa meter dari resto itu, lalu berdiri di tepi jalan, menunggu angkutan umum yang melintas.
Cuaca siang itu memang sangat panas, sehingga membuat Anna sesekali menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan.
Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di tempat yang sama. Ternyata menunggu angkutan umum di siang hari itu cukup sulit dibandingkan sore hari, ia tidak perlu lama menunggu angkutan umum yang melintas.
"Huh! Panas sekali hari ini." Lagi-lagi Anna menyeka keringatnya.
Seketika getar ponsel di dalam tasnya membuat perhatian wanita itu teralihkan. Ia segera membuka resleting tas berwarna cokelat yang tersampir di pundak sebelah kirinya. Namun, belum berhasil ia melakukan kegiatannya, tiba-tiba seseorang menarik dan membawa kabur tas itu, sehingga membuatnya sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia alami.
Setelah sadar bahwa tasnya telah dijambret, ia langsung meneriaki jambret tersebut dan meminta tolong.
"Jambreeet!" teriak Anna. "Tolong tas saya dijambret!" imbuhnya kemudian.
Namun, upayanya tidak berhasil. Tidak ada yang mendengar teriakannya atau memang tidak ada yang peduli terhadapnya. Entahlah. Ia pun berusaha untuk mengejar jambret itu seorang diri, meskipun jambret itu sudah lari cukup jauh dari tempatnya berpijak.
Di tempat tak jauh dari kejadian itu, tampak Reksa yang masih memperhatikan Anna dari dalam mobil. Melihat tas Anna yang dijambret, pria itu segera bertindak. Beruntung pria yang menjambret tas Anna berlari ke arah di mana mobilnya berada. Ia segera membuka pintu mobil, ketika jambret itu baru saja akan melewatinya, sontak membuat pria berambut gondrong itu terpental, lalu terjatuh.
Reksa segera turun dari mobilnya, sebelum pria jambret itu berhasil bangkit kembali. "Serahkan tas itu!" teriaknya meminta paksa tas milik Anna.
Namun, rupanya jambret itu tidak ingin menyerahkan dengan mudah begitu saja, apa yang sudah ia dapatkan. Ia justru berusaha melarikan diri, tetapi kaki Reksa berhasil membuatnya tersandung dan jatuh kembali.
Reksa segera meraih paksa tas Anna, lalu berniat untuk memberikan satu bogem pukulan ke wajah jambret itu. Namun, baru saja ia mengangkat sebelah tangannya, tiba-tiba sang jambret memohon ampun agar ia tidak melakukan hal itu, sehingga ia pun mengurungkan niatnya dan membebaskan jambret tersebut.
__ADS_1
Setelah jambret itu pergi, ia segera menghampiri Anna yang sudah tidak jauh darinya. "Ini punyamu?" Ia menyodorkan tas itu kepada Anna.