After Met You

After Met You
Wanita Yang Luar Biasa


__ADS_3

"Akh, sudahlah, saya hanya bercanda," tepis Anna, ketika mendapati ekspresi Andre yang membuatnya sedikit salah tingkah.


"Ternyata kau senang bergurau juga," balas Andre sedikit terkekeh.


Tanpa mereka sadar, ternyata sejak tadi Reksa memperhatikan perbincangan mereka dari kejauhan. Ia tampak mendengarkan pembicaraan Anna dan Andre dari celah pintu ruangan yang sengaja ia buka. Sesekali ia menggerutu saat Anna membicarakan dirinya.


"Ck! Dia cerewet sekali, bisa-bisanya dia mengataiku pria arogan, awas saja nanti!" gerutu Reksa.


Reksa masih belum ingin mengakhiri kegiatannya. Tampaknya ia sangat khawatir Andre tidak berhasil membujuk Anna untuk menandatangani surat perjanjian itu, karena Anna adalah harapan satu-satunya. Hanya wanita itu yang saat ini bisa menolongnya. Entah nasibnya akan seperti apa jika surat kontrak itu tidak berhasil ditandatangani.


"So?" tanya Andre memastikan.


Lagi-lagi Anna menarik napas panjang. Setelah mempertimbangkan, ia pun memutuskan untuk menandatangani kontrak itu, meskipun benar-benar terpaksa.


"Baiklah," ucapnya seraya meraih surat kontrak dan bolpoin yang sudah Andre siapkan di atas surat itu.


Baru saja Anna akan menandatangani surat tersebut, tiba-tiba Andre menahannya, sontak membuat ia mengurungkan kembali niatnya.


"Kau yakin tidak akan membaca surat kontrak itu terlebih dahulu?" Andre masih berusaha memastikan.


"Memangnya ada hal lain lagi, selain yang Mas Andre jelaskan tadi?" Anna menatap serius wajah Andre.


"Ada," singkat Andre.


"Apa?" Anna memasang ekspresi penasaran.


Andre terdiam sejenak sambil menatap datar wajah Anna. "Kau dilarang jatuh cinta kepada Reksa," jawabnya.


Anna menghela napas untuk yang ke sekian kalinya. "Ada lagi?" tanyanya masih sangat penasaran, tetapi entah kenapa ia malas sekali untuk membaca isi dari surat kontrak itu.

__ADS_1


"Kau harus datang tepat waktu, ketika Reksa memanggilmu, kapan pun itu!" tegas Andre.


"Hmm ...."


Andre pun menyebutkan satu-persatu isi dari surat itu. Setelah selesai dan tidak ada hal yang mengganjal hatinya, Anna pun segera menandatangani surat tersebut. Hal itu tentu saja membuat Reksa yang masih memperhatikannnya tampak menarik napas lega.


"Sudah. Masih ada lagi yang harus saya lakukan?" Anna tampak menaruh kembali bolpoin itu di atas meja.


Andre memeriksa kembali surat kontrak itu, lalu ada hal yang membuat ia sedikit heran. Ia pun mendongak kembali menatap Anna. "Kenapa ini tidak kau isi?" tanyanya seraya menunjuk nominal upah yang seharusnya Anna isi.


"Biarkan mas Reksa sendiri yang mengisi dan memberikan upah yang sesuai dengan pekerjaan saya," jawab Anna.


"Tapi—"


"Bisakah Mas Andre melakukannya untuk saya?" potong Anna.


Tanpa menanggapi pertanyaan Anna, Andre langsung merogoh saku tuxedo-nya, lalu mengeluarkan sebuah cek. Ia tampak memberikan selembar cek kosong kepada Anna. "Kau isi berapa pun yang kau inginkan," ujarnya.


"Sebagai tanda jadi kontrak kalian," jawab Andre.


"Tidak, terima kasih. Saya bersedia menandatangani kontrak ini, bukan sepenuhnya karena uang, tetapi karena saya butuh tas saya kembali," jelas Anna menolak pemberian Andre.


"Tasmu pasti kembali, kau terima saja ini. Anggap saja sebagai ganti rugi atas hilangnya pekerjaanmu," balas Andre.


"Kalau saya mengisi cek itu dengan jumlah 1M, apa mas Reksa akan memberikannya?" Anna menatap Andre dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Sudah kukatakan, kau isi berapa pun yang kau mau. Berapa pun itu, Reksa pasti akan memberikannya," jawab Andre yang sontak membuat Anna membelalakan matanya.


Anna tidak menyangka jika ternyata Reksa akan semudah itu memberikan uang kepadanya. Beruntung sekali Reksa bekerjasama dengannya, entah jika dengan wanita lain yang memiliki sifat arogan, mungkin uangnya akan habis dalam waktu singkat, pikirnya.

__ADS_1


Ya, tentu. Karena walaupun ia membutuhkan banyak uang, ia sudah memutuskan untuk tidak menerima cek itu, lain halnya dengan wanita matre yang mungkin akan langsung mengisi cek itu dengan jumlah yang sangat fantastis, tanpa harus berpikir panjang.


Hal itu membuktikan bahwa kali ini Reksa benar-benar serius membutuhkan bantuannya. Karna jika tidak, Reksa tidak akan semudah itu berani mengeluarkan uang banyak untuk hal yang tidak penting.


"Wow, luar biasa sekali!" seru Anna menyatakan kekaguman akan sikap Reksa. "Tapi maaf, saya tidak tertarik," imbuhnya lagi-lagi menolak. Seketika ekspresinya berubah masam. Memangnya ia bisa dengan mudah menjual harga dirinya? Pikirnya.


Ia tampak mendorong tangan Andre yang kala itu masih berusaha memberikan cek itu kepadanya. Tentu saja, membuat Andre dan Reksa yang masih memperhatikan kegiatan mereka seketika membulat tidak percaya.


"Apa? Dia benar-benar menolak cek itu?" ucap Reksa. "Sudah kuduga, ternyata dia memang bukan wanita matre," imbuhnya.


"Tapi, bukankah kau kehilangan pekerjaan? Kau pasti akan sangat membutuhkan uang untuk biaya hidup sehari-hari, bukan?" Andre berusaha membujuk Anna.


"Saya masih punya sedikit simpanan. Saya akan terima uang dari mas Reksa, kalau saya sudah melakukan pekerjaan itu, bukan menerima uang secara cuma-cuma seperti ini," jelasnya.


"Jadi, kau benar-benar akan menolak cek ini?" Andre memastikan kembali.


"Ya. Dan tolong sampaikan kepada mas Reksa bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa dibeli pakai uang. Saya melakukan ini, karena saya tahu mas Reksa sangat membutuhkan bantuan saya, bukan karena saya tertarik dengan uang yang akan saya terima," jelasnya yang tentu saja membuat Andre dan Reksa tersadar dengan ucapannya.


Andre menatap sayu wajah Anna. Bagaimana bisa wanita seperti Anna mampu menyadarkannya. Sungguh wanita yang sangat luar biasa, pikirnya.


Andre menerbitkan senyumannya, merasa kagum dengan sikap Anna yang konsisten. Pun dengan Reksa yang juga merasakan hal yang sama.


"Saya hanya butuh makan dan tempat tinggal, Mas. Bukan mobil ataupun rumah mewah," ucap Anna memberi tahu. "Dan untuk hal itu, uang saya masih cukup. Mas tidak perlu khawatir," imbuhnya seraya menerbitkan senyuman.


Ya, tentu. Dengan ia masih bisa makan dan punya tempat tinggal saja, itu sudah cukup baginya. Tidak perlu mewah, yang penting kebutuhannya terpenuhi. Sekali pun ia harus memiliki rumah atau mobil mewah, itu harus benar-benar hasil dari kerja kerasnya, bukan uang cuma-cuma yang ia terima dari orang lain, termasuk Reksa.


Kali ini Andre yang menarik napas panjang. Ternyata susah sekali membujuk Anna, pikirnya.


"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu." Andre pun tampak pasrah dan tidak ingin memaksa Anna lagi. "Kalau suatu saat kau butuh sesuatu, katakan saja, aku dan Reksa pasti siap membantu," imbuhnya.

__ADS_1


Belum sempat Anna menanggapi, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Ya, siapa lagi yang masuk ke dalam ruangan, jika bukan Reksa.


Seketika perhatian Anna dan Andre teralihkan. Mereka tampak menghentikan kegiatan perbincangan mereka dan menatap Reksa yang kala itu tengah berjalan menghampiri mereka.


__ADS_2