After Met You

After Met You
Kekasih Pura-Pura


__ADS_3

"Saya butuh bantuanmu," celetuk Reksa yang sontak membuat Anna seketika terlonjak.


"Saya?" Anna mendongak sembari menunjuk wajahnya sendiri.


Seketika mereka beradu pandang, hingga membuat wanita itu menjadi salah tingkah. Secepat kilat ia menundukkan kembali kepalanya, berusaha mengendalikan debar jantung yang semakin berpacu begitu cepat.


"Iya, Kau. Memangnya di ruangan ini ada orang lain selain aku dan kau?" tanya Reksa yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Anna.


"Kau tahu bukan, apa yang harus kau lakukan?" tanya Reksa kemudian.


Tentu saja Anna tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia pun kembali menggelengkan kepalanya, memberi jawaban.


Mana mungkin aku tahu, sementara dia sendiri belum mengatakan apa yang harus aku lakukan. Dasar aneh!


"Begini, bisakah kau membantuku untuk menjadi kekasih pura-pura di depan kakek?" tanya Reksa yang lagi-lagi membuat wanita di depannya terkejut bukan main.


Anna mendongakkan kepala, menatap pria di hadapannya. "Maksudnya?" tanyanya dengan mata yang sedikit membola.


Dengan perasaan ragu, Reksa akhirnya menceritakan masalah yang tengah ia hadapi kepada Anna, meskipun tidak sedetail kenyataannya. Reksa menceritakan bahwa kedatangan Anna di ruangan itu telah membuat dirinya terperangkap dalam situasi yang memang tidak bisa ia tolak.


"Lalu, kenapa harus saya? Bukankah di kantor ini Bapak mempunyai banyak karyawan yang lebih cantik dan pantas untuk dijadikan kekasih pura-pura Anda?" tanya Anna.


"Sudah aku jelaskan bahwa kau datang di waktu yang tidak tepat. Apa perkataanku ini masih kurang jelas?" ketus Reksa seraya menatap sinis wajah Anna.


"Lalu, apakah semua salah saya?" tanya Anna memberanikan diri. "Kedatangan saya kemari, karena hanya untuk menjalankan tugas saya, bukan berniat untuk mengganggu ataupun membawa masalah baru untuk Anda," imbuhnya.


Anna memasang ekspresi kesal. Bagaimana tidak? Pernyataan Reksa seolah-olah menyalahkan dirinya. Padahal, jika pun ada yang harus disalahkan adalah bukan ia, tetapi pria yang tadi menyuruhnya mengantar makanan itu langsung ke ruangan Reksa, pikirnya.


"Kenapa tidak Anda terima saja permintaan kakek Kusuma tentang perjodohan itu, jika Anda sendiri memang belum mempunyai kekasih? Jadi, Anda juga tidak perlu repot-repot mencari kekasih, bukan? Terlebih lagi hanya kekasih pura-pura," celetuk Anna sembari mencebikkan bibirnya, lalu menyunggingkan sedikit senyuman getir.


Memangnya dia pikir aku ini wanita apa, sehingga seenaknya saja mau dijadikan kekasih pura-puranya? Dijadikan kekasih beneran juga aku tidak akan menolak, kok. eh?


Reksa hanya melongo medengar ucapan Anna.


"Sial! Sejak kapan ada wanita yang berani menolakku seperti ini?" umpatnya dalam hati. "Bukankah selama ini mereka yang selalu mengejarku?" gumamnya kemudian.


Reksa semakin menatap intens wanita itu, lalu menyeringai. Wanita ini cukup menarik juga, pikirnya.

__ADS_1


"Kulihat, kau cukup dekat dengan kakek dan kurasa itu akan memudahkanku untuk menjalankan rencana ini."


Reksa sedikit melonggarkan dasi pada leher kemejanya. Entah mengapa ia merasa udara di ruangannya cukup panas. Padahal, alat pendingin di ruagan itu sudah menyala.


Reksa tampak meraih remote kecil dari atas meja di depannya, lalu diarahkannya benda mungil itu ke AC yang ada di ruangan tersebut. "Kau tenang saja, aku akan memberikan apa pun yang kau minta," sambungnya sambil mengatur kembali suhu di ruangan itu.


"termasuk jika saya meminta hati anda?" batin Anna menanggapi.


Ana hanya termangu, sebelum akhirnya ia menanggapi pernyataan pria itu.


"Maaf, Pak Reksa. Mungkin di mata Anda saya hanyalah orang miskin yang memiliki segudang keterbatasan. Tetapi, saya masih bisa mencukupi kebutuhan hidup saya dengan hasil keringat saya sendiri. Saya tahu, Anda memiliki segalanya dan bisa dengan mudah mendapatkan apa pun yang Anda inginkan dengan uang anda, termasuk membeli hati orang lain." Anna menatap lekat wajah tampan –pria asing —yang beberapa hari belakangan ini cukup membuatnya gelisah.


"Maaf, Pak Reksa. Sebaikya Anda mecari wanita lain saja, karena saya tidak bisa menerima tawaran Anda."


Anna bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk segera pergi dari ruangan itu, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar ingin menolak tawaran Reksa. Ia hanya ingin tahu seberapa besar pria itu membutuhkan bantuannya. Lagi pula, ini akan menjadi kesempatan baik untuknya supaya bisa lebih mengenal pria yang sedari awal sudah sangat ia kagumi, tetapi ia juga tidak ingin dianggap rendah oleh pria itu, hanya karena dengan mudah menerima tawaran tersebut.


Ada raut kecewa di wajah Reksa. Entah bagaimana lagi caranya membujuk Anna supaya mau menerima tawarannya untuk menjadi kekasih pura-puranya satu malam saja.


"Saya permisi."


Belum sempat Reksa membujuk wanita itu, tiba-tiba Anna malah telah pamit lebih dulu.


Sembari melangkahkan kakinya dengan perlahan, tak urung membuat wanita itu menghitung dalam hati, hingga tepat pada hitungan ketiga, langkahnya pun terhenti.


"Tunggu!" panggil Reksa yang berhasil menghentikan langkah Anna, ketika wanita itu baru saja akan memutar knop pintu ruangan itu. "Bagaimana kalau kau anggap saja permintaanku ini sebagai balas budi, karena aku sudah menolongmu waktu itu?" Reksa yang sudah bangkit dari duduknya pun tampak menghampiri Anna, lalu berdiri di belakang wanita itu.


Anna yang masih menghadap ke arah pintu, seketika menyeringai senang. "Yes! Tepat sekali! Ini yang aku tunggu. Dengan seperti ini, aku jadi tidak memiliki alasan untuk menolaknya, bukan?" bisiknya dalam hati. "Baiklah, kita lihat saja nanti, seberapa kuat kau menjadikanku sebagai kekasih pura-pura," gumamnya lagi, lalu ia mulai membalikkan badannya kembali.


"Ya ampun, Pak Reksa ... kenapa Anda selalu saja membuat saya terkejut?" ucap Anna kaget, ketika mendapati tubuh Reksa yang tengah berdiri tidak jauh dari hadapannya.


Reksa menatap Anna dengan begitu lekat. "Apa aku juga berhasil membuat jantungmu berdebar?" canda Reksa sembari mendekati Anna. Tentu saja aksinya berhasil membuat pipi wanita itu merona.


Merasa sudah tak lagi bisa mengendalikan detak jantungnya, Anna pun mundur beberapa langkah, menghindari Reksa yang jaraknya sudah semakin mendekat. Sungguh, ia tidak ingin jika Reksa tanpa sengaja mendengar gejolak asmara yang tengah berperang di dalam sana. Benar-benar akan sangat menjatuhkan harga dirinya, jika sampai itu terjadi.


Anna masih belum mengerti dengan sikap Reksa yang berbanding terbalik 180 derajat dengan waktu pertama kali ia melihatnya. Apakah memang seperti ini sikap asli Reksa terhadap semua wanita? Pikirnya.


"Oke! Saya terima tawaran Anda! Tapi tolong, berhenti sampai di situ!" tegas Anna seraya mengangkat sebelah tangannya, ketika Reksa semakin mendekat, hingga ia terhenti di badan pintu yang membuatnya sudah tidak bisa lagi berkutik untuk melarikan diri.

__ADS_1


Reksa menyeringai senang, lalu dengan sigap ia menghentikan aksinya.


Akhirnya, Anna pun menerima tawaran untuk menjadi kekasih pura-pura pria itu. Terkesan terpaksa mungkin, tetapi sebenarnya tidak. Anna memang tidak merasa keberatan. Bukan berarti ia tidak tahu diri dengan tidak memandang status sosial antara dirinya dengan Reksa yang jelas sangat berbeda kasta. Namun, sekadar hanya ingin tahu bagaimana Reksa yang selama ini ia puja. Ia juga tidak berharap terlalu tinggi, karena ia sadar siapa dirinya di mata Reksa. Lagi pula, ia memang paling tidak bisa jika terikat dengan orang lain karena hutang, terlebih lagi hutang budi. Dan anggap saja ini sebagai balas budinya kepada Reksa.


"Good!" seru Reksa. "Andai saja dari tadi kau menyetujuinya," imbuhnya.


Anna menghela napas panjang. "Jadi, hanya kekasih pura-pura saja?" tanyanya polos yang langsung mendapat tatapan sinis dari Reksa.


"Kau mau lebih dari itu?" tanya Reksa.


"Tidak, tidak," jawab Anna yang sudah tak kuasa melihat tatapan pria itu.


"Berikan ponselmu!" titah Reksa seraya menengadahkan telapak tangannya di hadapan Anna.


"U-untuk apa?" tanya Anna bingung.


"Sudah, berikan saja!" Reksa tampak memaksa.


Dengan perasaan gugup, Anna merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan handpone cerdas keluaran lama miliknya.


Reksa segera meraih benda pipih itu, lalu mengetikan beberapa digit nomor pada layar ponsel tersebut.


"Ini." Reksa menyodorkan kembali benda itu kepada pemiliknya dan langsung diraih oleh Anna.


"Itu nomor teleponku," ucap Reksa memberi tahu. "Tolong jangan pernah berani menghubungi nomor itu, kecuali aku sendiri yang menghubungimu terlebih dahulu!" tegasnya kemudian yang sontak membuat Anna memberengutkan wajahnya, karena tiba-tiba mendapat peringatan seperti itu.


Lagi pula, siapa juga yang mau menghubunginya. Mana berani aku.


*****


Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini Anna sangat merasa senang. Tentu saja hari ini akan menjadi hari yang panjang baginya, karena ia akan bertemu Reksa kembali, dengan status sebagai kekasih pura-pura pria itu. Pikiran Anna sudah berkelana ke mana-mana. Baru membayangkannya saja, wanita itu sudah senyum-senyum sendiri tidak jelas sembari berguling-guling di atas tempat tidurnya. Namun, seketika euforia itu membuat tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke lantai.


"Auuww!" pekik Anna, lalu mengusap keningnya yang terasa nyeri.


"Sadar Anna, jangan kebanyakan mimpi. Kau itu cuman datang untuk jadi kekasih pura-puranya saja. Ingat itu!" ucapnya mengingatkan diri sendiri dengan masih mengusap keningnya yang terasa sedikit ngilu.


Belum selesai wanita itu menetralkan rasa sakit di keningnya, tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya tersadar, lalu bangkit dari lantai itu.

__ADS_1


"Huh, siapa itu? Ganggu saja!" umpatnya sembari beranjak menuju pintu, lalu segera meraih knop pintu itu dan memutarnya.


"Selamat sore, Nona Anna," sapa seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang mengenakan pakaian rapi serba hitam.


__ADS_2