
Reksa meraih kembali ponsel yang sebelumnya ia letakan di atas meja. Ia berniat untuk segera menghubungi Anna, barangkali wanita itu belum pergi jauh dari kantornya.
Dua kali ia melakukan panggilan ke nomor telepon wanita itu, tetapi tidak mendapat jawaban. Ia pun tidak ingin menyerah, hingga pada panggilan ketiga akhirnya sang pemilik nomor kontak itu menerima panggilan teleponnya.
"Hallo, bisakah kau datang ke kantorku sekarang?" tanya Reksa tanpa berbasa-basi.
"Maaf, Mas Reksa, saya sedang bekerja," jawab Anna, lalu mematikan teleponnya.
"Shit! Dia benar-benar menghidariku," ujar Reksa seraya menatap layar ponsel itu.
"Kau temui saja langsung ke rumah atau tempatnya bekerja." Suara Andre seketika membuat Reksa mengalihkan fokus ke arahnya.
"Bagaimana kalau dia masih menghindariku?" tanya Reksa tidak yakin jika wanita itu akan bersedia menemuinya.
"Kau memang payah kalau urusan wanita. Pantas saja tidak ada satu pun dari mereka yang mau menjadi kekasihmu," ledek Andre seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Ck! Aku yang tidak bersedia menjadi kekasih mereka, camkan itu!" tegas Reksa membantah perkataan sahabatnya.
"Baiklah, segera buktikan kepada sahabatmu ini, kalau kau memang bisa menaklukkan hati seorang wanita. Aku tunggu!" balas Andre memberi tantangan, lalu ia segera beranjak dari tempat itu.
Tentu saja Reksa merasa direndahkan oleh perkataan Andre. Ia pikir akan sangat memalukan jika ia tidak berani menerima tantangan sahabatnya itu, sehingga ia pun memutuskan untuk menerima tantangan tersebut.
"Oke," ucapnya yakin, ketika Andre baru saja akan memutar knop pintu ruangan.
Andre yang masih bisa mendengar suara Reksa tampak membalikkan badan, lalu menerbitkan senyuman. "Aku tunggu secepatnya!" ucapnya, kemudian ia keluar dari ruangan itu.
"Aaarrrgh!" Reksa mengerang frustrasi, lalu memukul meja kerjanya, hingga ia merasakan sedikit ngilu di tangannya. Namun, tak membuatnya merintih kesakitan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Pria itu mulai bermonolog. "Sepertinya aku memang harus menemui wanita itu," imbuhnya kemudian.
Tanpa berpikir panjang, Reksa segera meraih kunci mobilnya di atas meja, lalu keluar dari ruangannya. Ia hanya berpesan kepada Andre agar menangani semua pekerjannya selama ia tidak ada. Bahkan, demi wanita itu ia rela melewatkan makan siangnya, meskipun makan siang sudah tersedia di atas meja kerja.
__ADS_1
Pria itu tampak menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke sebelah utara. Ia tahu betul letak restoran tempat wanita itu bekerja. Namun, setelah beberapa menit ia di perjalanan, tiba-tiba ia menemukan sosok yang akan ia temui di tepi jalan, tepatnya di dekat sebuah taman kota.
Pria itu menghentikan mobilnya sejenak, menatap wanita yang masih mengenakan seragam resto dari kejauhan. Wanita itu tampak tengah duduk di atas motor matic sambil berbincang dengan seorang pria yang tidak dikenalnya, entah apa yang tengah mereka bahas.
"Sedang apa dia di sini, bukankah seharusnya dia bekerja? Lalu, siapa pria itu?" ucap Reksa yang masih mengamati mereka dari dalam mobilnya.
Setelah beberapa saat, Reksa kembali menyalakan mesin mobil, lalu melanjutkaa perjalanannya. Entah kenapa ia tidak menghampiri Anna, padahal tujuan ia pergi dari kantornya adalah untuk menemui wanita itu.
Berbeda dengan Reksa. Anna masih berada di tempat yang sama dengan kegiatan yang sama seperti sebelumnya.
"Maaf, Ar, tapi aku sedang bekerja, aku tidak bisa jika harus berlama-lama di sini," ucap Anna kepada Arya.
"Aku tahu, tapi ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu," jawab Arya yang seolah memaksa Anna untuk tetap tinggal.
"Mungkin lain kali, sekarang aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku lagi, kau paham 'kan maksudku?" jelas Anna.
Arya tertunduk sejenak, lalu mendongak kembali dengan tatapan kecewa. "Baiklah, mungkin bisa lain kali," ucapnya lirih.
Setelah tidak bekerja di minimarket, Anna memang jarang sekali berkomunikasi dengan teman-temannya di sana, baik Arya maupun Siska. Bukan karena ia sombong, hanya saja ia tidak memiliki banyak waktu untuk berkomunikasi, meski hanya melalui media digital.
"Tidak apa-apa, Anna," jawab Arya.
"Terima kasih ya, Ar, atas pengertiannya, aku permisi," pamit Anna.
Wanita itu memutar motor matic-nya, lalu segera pergi dari tempat itu, setelah Arya memeberinya izin. Mengingat saat itu masih jam kerja, ia harus sedikit terburu-buru mengejar waktu suapaya tidak terlambat datang ke restoran.
Beruntung restoran yang ia tuju tak jauh dari tempat itu, sehingga ia bisa datang tepat waktu. Ia segera memarkirkan motor matic berwarna putih yang di atasnya terdapat sebuah box berwarna hitam, tempat menyimpan pesanan pelanggan.
Wanita itu segera turun dari motor, lalu berjalan masuk ke dalam gedung resto dengan sedikit tergesa-gesa. Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika ia mendapati pria berusia 30 tahun yang tak lain adalah atasannya. Pria itu berdiri tepat satu meter di depannya sambil menatap datar ke arahnya.
"Maaf, Pak, apa saya terlambat?" tanya Anna seraya memperlambat sedikit langkahnya menghampiri sang atasan.
__ADS_1
"Oh, tidak sama sekali, Anna. Sepertinya kau sangat lelah, sebaiknya hari ini kau pulang saja," jawab Revan, manajer di restoran itu.
"Ta-tapi kenapa, Pak? Apa saya dipecat?" Anna memasang ekspresi cemas.
"Tidak. Saya tidak ada sedikit pun niat untuk memecatmu. Hanya saja ... saya kasihan melihatmu kelelahan seperti itu," jelas Revan yang membuat Anna merasa bingung, bukankah setiap hari tugasnya memang seperti itu? Pikirnya.
"Tidak, Pak. Saya tidak merasa lelah sedikit pun. Tenaga saya masih cukup kuat untuk mengantar beberapa pesanan pelanggan yang belum saya selesaikan," bantah Anna, justru ia sangat bersemangat dengan pekerjaan barunya itu.
"Kau tahu siapa saya?" tanya Revan menatap Anna dengan serius.
"Manajer di resto ini, Pak," lirih Anna sedikit takut melihat tatapan atasannya itu.
"Kau tahu akibatnya jika tidak mematuhi perintah saya?" Revan melipat kedua tangannya di atas dada seraya memasang ekspresi kecewa, karena Anna tak menuruti perintahnya.
"Ta-tapi, masih banyak pesanan yang harus saya antar, Pak. Biarkan saya menyelesaikan pekerjaan saya terlebih dahulu, baru setelah itu saya akan pulang," jelas Anna.
"Anna ... kau mau saya pecat?" tanya Revan dengan nada mengancam.
"Tidak, Pak!" tegas Anna. " Baik, saya akan pulang," imbuhnya tidak berani lagi membantah sang atasan. Daripada nasibnya terancam, lebih baik ia ikuti saja keinginan atasannya itu, pikirnya.
"Silakan," balas Revan.
"Tapi, benarkah saya tidak dipecat?" tanya Anna masih penasaran.
"Tidak, Anna!" tegas Revan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, Pak. Terima kasih atas perhatian Bapak hari ini." Anna tampak tersenyum ramah.
Ia segera mengambil tasnya di dalam loker, lalu keluar dari resto itu, setelah sang atasan memberinya izin.
Ia berjalan dengan santai. Namun, baru saja ia melewati pintu keluar resto, tiba-tiba langkahnya terhenti kembali, ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Keberadaan mobil itu membuatnya sedikit tertegun.
__ADS_1
"Mas Reksa?"