After Met You

After Met You
kecelakaan


__ADS_3

Setelah Anna memberikan pakaian itu kepada kakek Kusuma, ia berniat untuk segera kembali ke Laundry. Ia tampak melajukan motornya dengan sedikit menambah kecepatan. Mengingat ia harus mengejar waktu, karena masih ada pekerjaan lain yang juga sedang menunggunya.


Motor matic yang dikendarai wanita itu tampak membelah jalan protokol yang sibuk dengan lalu-lalang kendaraan. Tak peduli seberapa panas terik matahari membakar tubuhnya, hingga peluh yang bercucuran. Bahkan, ia tidak peduli dengan kulit yang nantinya mungkin akan gelap karena terpapar sinar matahari. Paling tidak ia masih bisa bertahan hidup diatas kepercayaan orang lain, dan itu cukup baginya.


Seketika wanita itu mengedarkan pandangan ke beberapa arah di tengah kegiatannya. Dilihatnya beberapa mahasiswa yang baru saja keluar dari area kampus, membuatnya teringat dengan cita-citanya yang dirasa sudah tak mungkin bisa diraih.


Dulu, sewaktu masih sekolah ia ingin sekali menyandang gelar sarjana. Namun, harapannya tiba-tiba musnah, ketika kedua orangtuanya meninggal, sebelum ia bisa masuk kuliah. Ia pun mengubur dalam-dalam harapannya itu. Menurutnya, masih bisa makan dan tidur dengan nyaman saja, itu sudah jauh lebih dari segalanya.


Aku harus tahu diri. Orang sepertiku yang notabene serba kekurangan, mana mungkin bisa menjadi seperti mereka. Bisa makan saja sudah syukur alhamdulillah.


Wanita itu terus melajukan kendaraannya. Seketika ia memperlambat kecepatan laju kemudinya, ketika di depan terjadi sedikit kemacetan. Bahkan ia menghentikan motor itu beberapa saat, hingga menunggu kemacetan itu berakhir.


Punggung tangannya tampak menyeka keringat di keningnya. Cuaca siang itu memang tidak bisa berkompromi dengan wanita secantik Anna, hingga membuat kulitnya merasa sedikit terbakar. Bahkan, pipinya tampak sudah memerah karena kepanasan.


Wanita itu mulai melajukan kembali motornya sedikit demi sedikit. Meski tersendat-sendat, akhirnya kemacetan itu pun dapat teratasi hingga ia bisa melajukan motornya kembali dengan lancar tanpa hambatan lagi.


Sesekali ia menyanyi di tengah-tengah aktivitasnya, hingga tak terasa ia sudah tiba di sebuah perempatan yang tidak jauh dari Laundry tempatnya bekerja.


"Aarrgh!"


Tiba-tiba Anna menjerit, ketika ia mendapati sebuah mobil mewah yang melintas di hadapannya. Ia pun terpaksa membanting setir ke arah kiri, demi menghindari tabrakan dengan mobil mewah itu hingga membuatnya hilang keseimbangan.


Motornya terjatuh, pun dengan dirinya. Sebelah kakinya tertindih oleh motor itu, sehingga membuatnya merintih kesakitan.


Tampak beberapa orang saksi mata berbondong-bondong menghampiri, lalu membantu mengangkat motor yang sudah tergeletak dan menindih kaki Anna, tak terkecuali dengan pemilik mobil mewah berwarna putih itu.


Pemuda tampan yang gagah tampak turun dari mobil itu, lalu menerobos masuk ke dalam kerumunan orang banyak yang tengah melihat kondisi Anna.


"Permisi," ucapnya seraya meminta jalan.


Anna tampak mendongak, betapa terkejutnya ia, ketika mendapati sosok tidak asing di depan matanya.


"Mas?"


"Kau?"


Mereka tampak kompak memanggil satu sama lain, lalu terdiam beberapa saat. Mereka terlihat saling menatap, hingga tatapan mereka terkunci. Ada rasa heran dan bingung, kenapa lagi-lagi mereka dipertemukan?


Ya, ia adalah pria yang menolong Anna dari kejaran preman malam itu. Pria bernama Reksa Dytra Wibawa Angkasa, cucu dari kakek Kusuma yang baru beberapa menit yang lalu bertemu dengan Anna.


"Mas, Anda harus bertanggung jawab! Gara-gara Anda, Mbak ini jadi celaka!" ucap salah seorang lelaki paruh baya yang melihat kejadian itu, sontak membuat Reksa tersadar dari lamunnya.


Reksa menoleh ke sumber suara. "Baik, Pak. Saya pasti akan bertanggung jawab," jawab Reksa menyetujui. Meski ia tidak tahu siapa sebenarnya yang salah dalam kecelakaan ini, tetapi melihat Anna yang terluka, ia pun tidak mungkin lari begitu saja.


Pria itu segera berjongkok, menyeimbangkan tubuhnya dengan tubuh Anna, sementara yang lainnya tampak berhamburan kembali ke tempat mereka sebelumnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya seraya menatap cemas wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, Mas," jawab Anna tidak yakin.


"Aku minta maaf," ucap Reksa lirih.


"Tidak, Mas! Saya yang salah, saya tidak hati-hati," aku Anna.


"Baiklah, lain kali jangan ceroboh!" balas Reksa mengingatkan dengan ekspresi dinginnya.


Anna teregun sejenak, sebelum akhirnya ia berusaha bangkit. Seketika ia memekik, ketika merasakan nyeri di pergelangan kakainya.


"Ayo, aku bantu!" Reksa tampak membantu Anna berdiri dengan memegang kedua bahu Anna. "Mau kuantar ke rumah sakit?" tanyanya berbasa-basi.


"Oh, tidak perlu, Mas, saya tidak apa-apa," tolak Anna.


"Kau yakin?" Reksa tampak mengerutkan dahinya, sementara Anna hanya mengangguk sebagai tanggapan.


Namun, itu tidak begitu saja membuat Reksa percaya. Pria itu menundukkan kepalanya, mengecek kaki Anna. Tampak bercak darah dipergelangan kaki gadis itu.


"Kakimu terluka," ucap Reksa seraya mendongak.


"Tidak apa-apa, Mas, hanya sedikit," jawab Anna.


"Akan kubantu obati!" Reksa tampak membawa Anna ke mobilnya.


Langkah kaki Anna sedikit terpincang-pincang karena menahan sakit yang cukup luar biasa, tetapi ia seolah menyembunyikannya.


Anna tak henti-hentinya menatap pria yang tengah sibuk mengobatinya. Meski pria itu terkesan dingin, paling tidak dia masih punya sisi rasa kemanusiaan. Sungguh pria yang baik, selalu mau membantu orang yang sedang kesusahan, pikirnya.


Anna sedikit merasa lebih baik, setelah kakinya diurut dan diobati. Kejadian itu membuatnya hampir lupa bahwa ia harus segera pergi, mengingat waktunya yang semakin sempit.


Tanpa menunggu lama, ia pun segera pergi dari tempat itu meninggalkan Reksa di sana, setelah mengucapkan terima kasih. Adapun motornya yang lecet, biarkan itu menjadi urusananya nanti dengan sang bos.


"Hei!" teriak Reksa memanggilnya. Namun, Anna tak peduli. Ia terus berjalan dengan langkah yang masih terpincang-pincang menuju motornya. Ia berusaha menahan rasa sakit di kakinya itu.


"Dasar wanita aneh!" gerutu Reksa, setelah Anna mengendarai motornya.


Hanya dalam waktu lima menit, Anna telah tiba di Ratna Laundry. Ia sedikit bisa bernapas lega, ketika Ratna tidak marah sama sekali dengan motor yang dibuat lecet karena ulahnya. Justru sebaliknya, Ratna sangat mengkhawatirkan kondisinya.


***


"Ann, pulang bareng, yuk!" ajak Arya, salah satu pramuniaga di minimarket.


"Rumah kita 'kan berbeda arah, Ar," jawab Anna menolak.


Arya adalah salah satu pemuda yang selama ini menaruh hati kepada Anna. Ia memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, tetapi ia selalu memberikan perhatian kepada wanita itu. Namun, sayang sekali perhatiannya tidak pernah dianggap sesuatu yang istimewa oleh Anna.


Sering kali Arya menawarkan untuk mengantar Anna pulang, meski rumah mereka tidak searah. Namun, sesering ia menawarkan, sesering itu pula Anna menolak tawarannya, hanya karena merasa kasihan dan tidak ingin merepotkan, terlebih lagi mereka selalu pulang larut malam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku antar," ucap Arya memaksa. "Lagi pula, ini sudah larut malam lho, Ann," imbuhnya.


"Justru karena ini sudah larut malam. Harusnya kamu istirahat, aku malah nambah-nambahin pekerjaanmu," jawab Anna.


Arya terdiam sejenak seraya berpikir bagaimana caranya supaya kali ini Anna tidak lagi menolak tawarannya.


Keras kepala sekali dia!


"Aku sekalian mau ada perlu ke daerah sana, Ann," ujar Arya mencari alasan.


"Selarut ini?" Anna menatap penuh tanya, seolah tidak percaya. Arya hanya mengangguk ragu.


Anna terdiam seolah sedang berpikir. "Baiklah," jawabnya seraya tersenyum, sontak membuat Arya juga merasa senang.


Anna tampak memakai jaket berbahan parasut, lalu mengambil tasnya.


Mereka keluar dari minimarket itu. Arya telah siap dengan motor matic miliknya yang berwarna silver, lalu membonceng Anna.


Arya mengantar Anna hingga depan rumah kontrakan tempat tinggal wanita itu.


Kali ini Anna berutung. Paling tidak uang ongkosnya utuh dan ia tidak perlu berjalan kaki menuju kontrakannya, terlebih kakinya yang masih saja terasa sakit karena kecelakaan tadi siang.


"Makasih ya, Ar, sudah mengantarku pulang," ucap Anna, setelah ia turun dari motor.


"Sama-sama, Ann," jawab Arya seraya menerbitkan senyumnya.


"Maaf, Ar, aku tidak bisa mengajakmu mampir, sudah terlalu malam soalnya." Anna merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Ann. Aku paham, kok," balas Arya. "Ya sudah, aku pulang dulu," imbuhnya.


"Bukankah kamu ada keperluan juga, Ar?" Anna mengernyitkan dahinya.


Arya terdiam sejenak, sebelum akhirya ia menanggapi. "Tidak ada, itu hanya alasanku saja. Sebab, kamu tidak mungkin mau diantar pulang," akunya.


"Heuh Arya! Lain kali jangan begitulah," ucap Anna sedikit kesal.


"Maaf, ya."


"Ya sudah, hati-hati ya, Ar!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC

__ADS_1


__ADS_2