After Met You

After Met You
Kakek Kusuma


__ADS_3

Di depan sebuah rumah mewah bergaya eropa klasik, tampak sebuah Lamborghini Aventador berwarna putih terparkir di sana, lalu pemuda tampan berjas hitam turun dari mobil itu. Ia berjalan dengan tubuh tegapnya memasuki rumah tersebut.


"Reksa!"


Tampak seorang lelaki tua dengan penampilan yang masih terlihat gagah di usia senjanya. Dia berjalan menghampiri pemuda itu.


"Iya, Kek?" jawab Reksa seketika fokusnya teralihkan.


Lelaki tua bernama Kusuma Angkasa adalah kakek kandung dari pemuda bernama Reksa Dytra Wibawa Angkasa.


"Kau dari mana saja baru pulang?" tanya Kusuma.


"Aku kerja, Kek," jawab Reksa dengan malas.


"Kau tidak mungkin kerja sampai selarut ini, Nak," sindir Kusuma yang tentu saja dia tahu persis jam kerja cucunya itu.


"Ada beberapa hal yang harus aku persiapkan untuk meeting besok, Kek," jelas Reksa.


"Jangan dibiasakan pulang selarut ini, bekerjalah sewajarnya saja!" pinta Kusuma, seolah merasa khawatir.


"Aku sudah dewasa, Kakek jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu," ujar Reksa.


"Segeralah menikah kalau merasa sudah dewasa!" tegas Kusuma.


Lagi-lagi kalimat itu terlontar dari mulut lelaki tua itu. Bukanlah pertama kalinya ia meminta sang cucu untuk segera menikah, tetapi Reksa selalu menolak dengan berdahil masih ingin fokus dengan karirnya.


Kakek ini selalu saja. Tidak pernah ada bosannya memintaku untuk segera menikah. memangnya menikah itu gampang?


"Kakek, bukankah aku sudah sering bilang, kalau sudah waktunya aku pasti menikah. Kakek tidak perlulah sering-sering mengingatkanku seperti itu," ucap Reksa berusaha membujuk sang kakek agar tidak terlalu sering membuat telinganya terasa panas karena mendengar kalimat yang sering terngiang itu.


"Mau sampai kapan kau begini terus?" Kakek Kusuma menatap serius wajah sang cucu. "Kalau kau terus menerus memprioritaskan karirmu, lalu kapan kau akan kasih kakek cicit?" imbuhnya.


Astaga, kakek sudah terlalu jauh. Memikirkan nikah pun belum, ini sudah minta cicit.


"Sudah malam, Kek. Sebaiknya kakek istirahat saja. Ayo, kuantar ke kamar!" ajak Reksa seraya menggiring sang kakek ke kamarnya.


"Kau ini, selalu saja mengalihkan pembicaraan!" gerutu kakek Kusuma.


Reksa tampak membaringkan tubuh kakek Kusuma di atas ranjang king size berbahan kayu jati berwarna putih. Sama halnya dengan rumahnya, tempat tidurnya pun masih bergaya eropa klasik yang dilengkapi dengan ukiran yang apik.


"Jangan terlalu banyak pikiran, istirahatlah agar besok kembali lebih segar. Aku tinggal dulu. Selamat malam, Kakek," ucap Reksa mengingatkan.

__ADS_1


Bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan celotehan sang kakek. Ia segera keluar dari kamar kakek Kusuma, lalu bergegas ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Reksa tampak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah selesai membersihkan badannya. Ia bebaring dengan posisi terlentang. Dua iris mata berwarna cokelatnya tampak fokus ke atas langit-langit kamarnya dengan kedua tangan yang ia jadikan sebagai bantal.


"Dimana dia sekarang?" gumamnya.


***


"Anna, bisakah kau membantu saya?" tanya Ratna, sang pemilik laundry.


"Apa yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Anna ingin tahu.


"Tolong kau antarkan pakaian milik salah satu pelanggan, bisa? Doni izin tidak masuk karena sakit," jawab Ratna memberi tahu.


Anna yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di tempat itu tampak melirik arloji hitam di tangannya. Sepertinya ia masih memiliki waktu cukup banyak untuk membantu mengerjakan pekerjaan lain. Biasanya Ratna selalu memberikan uang tambahan untuknya, jika ia diberi tugas di luar tanggung jawabnya. Lumayan untuk menambah uang ongkos menuju minimarket.


"Alamatnya dimana, Bu? Jauh tidak?" Anna tampak memastikan, khawatir jika akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk sampai di alamat yang akan dituju.


"Ini." Ratna tampak memberikan selembar kertas kecil yang berisi alamat yang dimaksud.


Anna meraih kertas itu, lalu membaca alamatnya. Sekilas ia mengukir senyum di wajahnya.


"Baiklah, terima kasih ya, Ann," ucap Ratna seraya menerbitkan senyum simpulnya.


Bagi Ratna, Anna adalah salah satu pegawai yang paling bisa diandalkan. Ia selalu mengerjakan apa yang diperintahkan, sekalipun itu bukanlah tanggung jawabnya.


Anna segera mengendarai motor yang memang disediakan oleh perusahaan jasa laundry tersebut untuk mengantar jemput barang cucian milik konsumen. Saat motor yang ia kendarai tampak memasuki kawasan perumahan elit, ia punmeperlambat laju kendaraannya dengan pandangan yang tampak melirik ke kanan dan kiri, mencari alamat rumah yang dimaksud.


Seketika wanita itu menghentikan motornya, ketika ia mendapati seorang kakek tua yang tengah berusaha bangkit berdiri karena terjatuh, tepat di depan rumah mewah bergaya eropa. Ia segera turun dari motornya, lalu menghampiri kakek tersebut.


"Kakek tidak apa-apa?" tanya Anna seraya meraih tubuh lelaki tua yang tak lain adalah kakek Kusuma. "Mari saya bantu," imbuhnya sambil membantu kakek Kusuma untuk berdiri.


Kakek Kusuma mendongak, menatap wajah Anna. "Terima kasih, Nak," ucapnya lirih.


"Kakek kenapa?" tanya Anna.


Kakek Kusuma terawa kecil, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Anna. "Kakek hanya terpeleset sedikit," jawabnya.


"Lain kali hati-hati, Kek," ujar Anna mengingatkan.


"Terima kasih, Nak. Kakek berhutang budi padamu," balas kakek Kusuma.

__ADS_1


"Ah, kakek terlalu berlebihan, sudah sewajarnya saya membantu orang yang sedang kesulitan." Anna tampak sedikit tidak enak hati dengan pernyataan kakek Kusuma.


"Kamu sedang apa di sini, Nak?" tanya kakek Kusuma yang tampak memperhatikan pakaian seragam yang dikenakan oleh Anna.


Anna tersenyum sejenak. "Saya ...." Anna menggantungkan kalimatnya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang diberikan oleh Ratna.


"Kakek tahu alamat ini?" tanyanya seraya menunjukkan kertas itu kepada kakek Kusuma.


"Ini 'kan rumah kakek, Nak," jawab kakek Kusuma memberi tahu.


"Lho, rumah kakek bukan yang ini?" tanya Anna seraya menunjuk ke rumah yang berada di depannya.


"Bukan. Rumah kakek tidak jauh dari sini, sekitar dua puluh meter lagi," jawab kakek Kusuma.


Anna tampak menganggukkan kepala berulang kali, seolah memahaminya. "Oh, saya pikir ini rumah kakek," ucapnya.


"Kalau boleh kakek tahu, kau mau apa ke rumah kakek?" tanya kakek Kusuma penasaran.


"Hmm, saya dari Ratna laundry, Kek. Kebetulan pegawai yang biasa mengantar jemput pakaian pelanggan sedang tidak masuk, jadi untuk hari ini saya yang menggantikan tugasnya," jelas Anna yang langsung mendapat anggukkan dari kakek Kusuma.


"Jadi, bagaimana, Kek?" tanya Anna.


"Baiklah mari ke rumah kakek, mungkin itu pakaian cucu kakek, dia yang biasanya memakai jasa laundry."


Tentu saja di kediaman Angkasa terdapat beberapa asisten rumah tangga yang bisa bekerja dalam berbagai hal, termasuk mencuci pakaian. Namun, entah kenapa cucu kakek Kusuma itu lebih suka memakai jasa laundry.


Anna tampak membonceng kakek Kusuma menuju rumah yang dimaksud.


"Memangnya kakek tadi dari mana, kenapa bisa terjatuh seperti itu?" tanya Anna di tengah-tengah kegiatan mengemudinya.


"Kakek hanya berjalan-jalan saja dari taman, rutinitas kakek setiap pagi," jawab kakek Kusuma.


Anna mengangguk, seolah mengerti apa yang dimaksud oleh kakek Kusuma. Setelah beberapa saat, gadis itu tampak menghentikan motor matic-nya di depan sebuah rumah mewah bergaya eropa klasik, sesuai perintah kakek Kusuma.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMET


HAPPY READING


TBC

__ADS_1


__ADS_2