After Met You

After Met You
Arogan


__ADS_3

Anna berjalan dengan sangat tergesa-gesa ke dalam kantor perusahaan tempat Reksa bekerja, setelah beberapa detik ia turun dari angkutan umum. Namun, baru saja ia masuk tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika seorang resepsionis memanggilnya.


"Maaf, Mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu resepsionis itu.


Anna pun menoleh, lalu menghampiri meja resepsionis, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi ke ruangan sang CEO di perusahaan itu. "Saya ingin bertemu dengan pak Reksa," jawab Anna.


"Maaf, apa sebelumnya sudah membuat janji dengan beliau?" tanya Resepsionis itu lagi.


Anna terdiam beberapa saat. "Mm ... sudah," jawabnya terpaksa berbohong.


"Baiklah, silakan tunggu sebentar, saya akan menghubungi beliau terlebih dahulu, dengan Mbak siapa?"


Anna menyebutkan namanya kepada resepsionis itu. Sebetulanya, ini bukan kali pertama mereka bertemu. Hanya saja, penampilan Anna yang berbeda dari sebelumnya mungkin membuat resepsionis bernama Alya itu merasa asing melihatnya, walaupun sebenarnya mereka memang belum saling mengenal.


Anna duduk di sofa yang berada di lobi utama sambil memperhatikan Alya yang sedang berbicara melalui saluran telepon. Setelah dua menit kemudian, Alya meletakkan kembali telepon itu ke tempatnya.


"Mbak Anna," panggil Alya.


"Iya?" Anna bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Alya.


"Pak Reksa meminta Anda untuk segera masuk ke ruangannya," ucap Alya memberi tahu.


"Baiklah, terima kasih," jawab Anna.


Tanpa ingin mengulur waktu lagi, Anna segera menghampiri pintu lift untuk menemui Reksa yang ruangannya terletak di lantai 2. Setelah tiba di depan ruangan CEO, ia segera mengetuk pintu ruangan tersebut, hingga terdengar suara sahutan dari dalam dan memintanya untuk masuk.


Anna memutar knop pintu, lalu masuk ke dalam ruangan itu, sehingga mengalihkan perhatian Reksa yang kala itu tengah fokus dengan beberapa dokumen yang sedang ditandatangani.


Dengan rasa percaya diri dan penuh keyakinan, Anna menghampiri pria yang masih menatapnya dari kejauhan. Ia pun berdiri tepat di depan meja kerja Reksa.


"Silakan duduk," ucap Reksa.

__ADS_1


Anna langsung mendaratkan tubuhnya di atas kursi putar yang berada tepat di hadapan Reksa.


"Kebetulan sekali kau datang kemari," ucap Reksa dengan tatapan yang sudah kembali fokus ke beberapa dokumen di atas meja kerjanya.


"Langsung saja, saya tidak ingin berbasa-basi. Kedatangan saya kemari karena ada hal yang ingin saya tanyakan, PENTING!" balas Anna dengan penuh penekanan di akhir ucapannya.


Reksa mendongak, menatap Anna sambil menautkan kedua alisnya. Ia tidak menyangka jika Anna bisa bersikap setegas itu di depannya. "Jika kau ingin menanyakan kontrak kerja kita, asisten pribadi saya sedang mengurusnya, kau tunggu saja sebentar," ucapnya datar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Mas Reksa! Bukan itu yang ingin saya tanyakan!" bantah Anna, sehingga membuat Reksa kembali mendongak dan memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya beberapa saat, setelah ia menyadari ekspresi wajah Anna yang terlihat sedikit emosi.


"Silakan, tanyakan saja," balas Reksa santai, seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa Mas Reksa tega sekali memperlakukan ini kepada saya, hah?" kesal Anna seraya menatap nanar wajah Reksa.


"Maksudmu? Apa yang sedang kau bicarakan ini?" Reksa tampak mengerutkan dahinya.


"Tidak usah berlagak bodoh, Mas. Saya tahu, Mas yang meminta Bu Ratna dan Pak Revan memecat saya, bukan?" tanya Anna merasa yakin.


"Tentu saja saya keberatan! Memangnya Mas Pikir mencari pekerjaan itu mudah?" ketus Anna.


Ia tidak habis pikir, jika Reksa bisa bertanya hal sepolos itu, seolah-olah mencari pekerjaan itu sangatlah mudah. Padahal, ia bersusah payah untuk mendapatkan pekerjaan itu.


"Berapa gajimu di sana?" tanya Reksa ingin tahu.


"Berapa pun gaji saya di sana, mau besar ataupun kecil, pekerjaan itu sangat penting buat saya!" tegas Anna menatap sinis wajah Reksa.


"Aku akan ganti gajimu sepuluh kali lipat," kata Reksa masih bersikap tenang.


Seketika Anna terperangah mendengar ucapan Reksa. Sepuluh kali lipat, itu sangat besar sekali, pikirnya. Namun, Sedikit pun ia tidak tergoda dengan tawaran Reksa. Memangnya segala sesuatu bisa dengan mudah dibeli pakai uang? Batinnya saat itu.


Anna bertepuk tangan sambil tersenyum getir menatap Reksa. "Wow! Hebat sekali Anda. Segala sesuatu bisa Anda beli dengan uang, termasuk membeli apa pun yang saya miliki. Rendah sekali saya di mata Anda," sindirnya.

__ADS_1


Namun, belum sempat Reksa menanggapinya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, sehingga mengalihkan perhatian keduanya.


"Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan apa yang kuminta?" tanya Reksa kepada Andre seraya bangkit dari tempat duduknya.


Andre menghampiri meja kerja Reksa sambil membawa map berisi beberapa lembar dokumen, lalu berdiri tepat di samping Anna. "Semua yang kau minta sudah kusiapkan," ucapnya seraya menyerahkan map berwarna merah itu kepada Reksa.


Reksa langsung meraih map itu dari tangan Andre. "Tolong kau siapkan juga cek kosong untuknya," pintanya.


"Baik," jawab Andre singkat.


Tanpa ingin membuka dokumen yang diberikan Andre terlebih dahulu, Reksa langsung menyerahkan dokumen itu kepada Anna. "Sebaiknya kau segera tanda tangani ini," ujarnya seraya menatap Anna yang masih menunjukkan ekspresi kesal.


"Apa ini?" Anna mengerutkan dahinya, sebelum ia meraih dokumen itu.


"Apa kau lupa perjanjian kita kemarin?" tanya Reksa tanpa ingin peduli dengan kekesalan Anna saat itu.


"Mas, kedatangan saya kemari bukan untuk membahas itu, melainkan ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Mas sadar tidak, kalau Mas sudah melangkah terlalu jauh untuk hidup saya? Saya menyetujui permintaan Mas, bukan berarti Mas bisa mengatur hidup saya seenaknya. Tolong, Mas kembalikan semua yang saya miliki, termasuk pekerjaan saya!" ucap Anna panjang lebar.


"Andre, tolong kau urus dia, dan berikan berapa pun uang yang dia inginkan," pinta Reksa kepada Andre seraya menyerahkan kembali map itu.


"Baik." Andre meraih kembali map itu dari tangan Reksa.


Tampaknya, Reksa benar-benar sudah tidak ingin peduli dengan keluhan Anna. Bahkan, ia langsung beranjak dari ruangan itu, meninggalkan Anna dan Andre hanya berdua.


Anna bangkit dari tempat duduknya, menatap punggung Reksa yang semakin menjauh dari jangkauannya."Mas Reksa, saya belum selesai berbicara!" teriak Anna yang sontak membuat Reksa yang sudah berdiri di depan pintu kembali menoleh ke arahnya.


"Jangan pernah sekali pun meneriakiku seperti itu, aku tidak suka!" tegas Reksa seraya membulatkan mata. "Kau lakukan saja apa yang kuminta, jika tasmu ingin kembali!" tegasnya, lalu memutar knop pintu dan keluar dari ruangan itu, entah ia akan pergi ke mana.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan saya, Mas? Mas!" Lagi-lagi Anna berteriak memanggil Reksa yang sudah pergi. Ia tidak menyangka, jika Reksa yang sangat ia kagumi ternyata memiliki sifat yang arogan. Sungguh ia sudah dibuat meradang oleh Reksa.


"Sudah, kau lakukan saja apa yang dia minta." Suara Andre tiba-tiba mengalihkan fokus Anna yang kala itu masih menatap pintu ruangan yang sudah tertutup rapat kembali.

__ADS_1


__ADS_2