
Di basement sebuah gedung apartemen mewah, Reksa tampak memarkirkan mobilnya, lalu segera turun setelah ia mematikan mesin mobil itu.
Berbeda dengan Reksa, justru Anna masih berdiam diri di dalam mobil. Ia tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah, melihat begitu banyak mobil yang terparkir di sana.
Pertanyaannya yang berulang-ulang di perjalanan tadi, nyatanya tidak kunjung mendapat jawaban dari Reksa, hingga akhirnya ia baru mengetahui bahwa Reksa membawanya ke tempat itu.
Sejujurnya, ia masih bingung kenapa Reksa membawanya ke tempat itu. Apakah mungkin Reksa akan memintanya agar tinggal di apartemen semewah itu? Ia rasa itu terlalu mewah untuknya.
Seketika Anna tersentak, ketika Reksa mengetuk kaca jendela mobil itu, sehingga membuatnya memfokuskan pandangan ke sumber suara. Tampak wajah Reksa yang berada tepat di depan jendela itu.
"Mau sampai kapan kau akan berdiam diri di dalam mobil?" tanya Reksa.
Tanpa menanggapi pertanyaan Reksa, Anna langsung membuka seatbelt yang melekat di tubunya, lalu membuka pintu mobil itu sendiri, sehingga membuat Reksa tampak mundur dua langkah, sengaja memberi celah agar pintu itu terbuka lebar dan tidak menghalangi jalan Anna.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Anna, setelah ia berdiri tepat di depan Reksa.
"Jangan banyak tanya, ikuti saja aku!" tegas Reksa.
Reksa langsung melangkahkan kakinya menuju lift yang tidak jauh dari tempatnya berpijak saat itu, tampak Anna yang juga mengikuti langkahnya. Namun, seketika ia berhenti, lalu membalikkan badannya kembali.
"Eh, mau kemana kau?" celetuk Reksa yang sontak membuat Anna refleks mengerem kakinya.
"Katanya tadi harus ikuti Mas Reksa. Apa saya salah?" balas Anna.
"Enak sekali kau. Ambil dulu tasmu di bagasi!" perintah Reksa seraya menunjuk ke arah mobilnya.
Anna mengembuskan napasnya kasar. "Jadi, Maksudnya aku lagi yang harus bawa tas-tas itu sendiri?" gerutunya dalam hati.
Dengan terpaksa, Anna membalikkan badannya, lalu berjalan menghampiri bagasi mobil itu. Ia tampak membuka pintu bagasinya. Namun, ternyata pintu bagasi itu masih terkunci.
__ADS_1
"Mas, pintunya tidak bisa dibuka!" ucap Anna dengan nada cukup tinggi.
Reksa langsung mengangkat sebelah tangannya, lalu menekan remote kunci mobil itu, tanpa ingin berpindah tempat sedikit pun.
Anna berusaha membuka pintu bagasi itu, tetapi ia masih tampak kesulitan membuka pintu bagasi tersebut, meskipun sudah berusaha dengan sekuat tenaga.
"Mas, masih tidak bisa dibuka!" teriaknya memberi tahu.
"Yang benar saja? Mana mungkin tidak bisa dibuka?" protes Reksa.
"Iya, Mas. Coba kemari! Nanti mobil Mas rusak lagi," pinta Anna sedikit menahan senyumnya.
Mengingat Anna yang sempat bertindak kasar dengan mobilnya, ia pun segera menghampiri Anna, karena tidak ingin jika mobilnya rusak, bahkan lecet sedikit pun.
"Stop! Jangan paksa mobilku seperti itu, kalau rusak memangnya kau bisa mengganti rugi?" protes Reksa lagi sambil menatap sinis wajah Anna.
Dengan sigap Anna langsung menyingkirkan tangannya dari mobil Reksa. "Baik," ucapnya seraya mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.
"Wah! Ternyata pintu itu ingin dibuka langsung oleh pemiliknya, mungkin dia tidak menerima sentuhan tangan asing," seru Anna dengan nada yang menyindir, sontak membuat Reksa secepat kilat menoleh ke arahnya sambil melemparkan tatapan yang begitu menusuk.
"Kau sengaja mengerjaiku?" ketus Reksa menatap penuh ancaman.
"Ups, maaf," lirih Anna seraya menutup bibir dengan sebelah tangannya.
Untuk yang ke sekian kalinya Reksa dibuat geram oleh sikap Anna selama seharian. Dalam hati, ingin sekali ia mengumpat habis-habisan wanita yang kini berada di depannya, tetapi tak ia lakukan sama sekali, karena percuma saja, Anna tak akan peduli, pikirnya.
Reksa hanya melebarkan tatapannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang sangat marah kepada Anna. Ya, tentu saja ia marah. Selama ini, belum ada wanita yang berani mengerjainya seperti itu, selain Anna. Ia pun tak habis pikir, bagaimana bisa Anna melakukan hal itu terhadapnya dengan sangat santai, tanpa rasa takut dan bersalah.
"Saya lemah dan tidak bisa mengangkat tas-tas itu sendiri. Lagi pula, Mas yang memaksa saya untuk pindah kemari, bukan? Jadi, sudah seharusnya Mas membantu saya untuk membawakan tas itu," keluh Anna yang tentu saja membuat tatapan Reksa dua kali lipat lebih menyeramkan.
__ADS_1
Namun, tetap saja Anna terlihat santai. Mungkin karena sudah terlalu biasa, jadi ia bisa dengan mudah mengatasi dan bersikap seolah-olah tidak peduli sama sekali dengan tatapan Reksa. Lagi pula, ia juga masih menyukai tatapan Reksa yang sangat memesona. Jadi, biarkan saja Reksa seperti itu, pikirnya.
"Kau sudah berani menyuruhku?" Sebelah tangan Reksa tampak berkacak pinggang.
"Ya sudah, kalau begitu, kembalikan saja saya ke rumah kontrakan tadi!" protes Anna.
"Aarrrgh!" Reksa mengerang frustrasi, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas yang ia kenakan.
"Tolong kirim dua orang petugas ke basement sekarang juga!" pinta Reksa kepada seseorang yang tengah berbicara dengannya melalui telepon.
Tanpa memberikan aba-aba, Reksa langsung menutup teleponnya, lalu memasukkan lagi ponselnya ke tempat semula.
Tak lama kemudian, datang dua orang pria muda yang memakai seragam concierge. Ya, Reksa memang sengaja memanggil mereka untuk membantunya membawakan barang-barang milik Anna, karena tidak mungkin jika ia sendiri yang membawa barang-barang tersebut, mengingat ia adalah komisaris utama di apartementl itu, tentu ia memiliki akses untuk melakukan apa pun, termasuk meminta bantuan para pegawai di sana.
Mereka bersikap sangat sopan di depan Reksa, sehingga membuat Anna yang sedari tadi memperhatikannya, seketika mengangkat sebelah alisnya seolah-olah merasa heran.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya salah satu di antara mereka.
"Tolong kalian bawakan barang-barang ini!" perintah Reksa yang langsung mendapat respon positif dari kedua petugas itu.
Mereka pun segera membawa tas yang berisi barang-barang milik Anna menuju satu unit apartemen yang memang sudah disiapkan oleh petugas Housekeeping sesuai permintaan Reksa sebelumnya.
Anna tampak terperangah, ketika ia baru saja masuk ke dalam apartemen yang kondisinya sangat baik dan rapi dengan beberapa furnitur mewah di dalamnya. Tentu siapa pun akan sangat nyaman jika tinggal di tempat itu.
"Mulai sekarang saya tinggal di sini?" Anna tampak menoleh ke arah Reksa, menuntut sebuah jawaban, karena ia masih tidak menyangka jika Reksa akan membawanya ke tempat yang jauh lebih mewah daripada yang ada dalam imajinasinya.
"Ya," singkat Reksa. "Baiklah, kau boleh tinggal di sini sesuka hatimu. Aku pergi dulu," imbuhnya.
"Tunggu!" panggil Anna yang membuat Reksa mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Mas menyuruh mereka dengan mudah?" tanya Anna yang masih saja penasaran.
"Bukan urusanmu!" balas Reksa tidak peduli.