After Met You

After Met You
Bukan Wanita Matre


__ADS_3

"Apa? Memangnya aku ini lelaki apa? Walau bagaimana pun aku ikhlas menolongnya," bantah Reksa seraya membulatkan mata. "Bisa-bisanya kau punya pikiran seperti itu!" gerutunya.


"Tapi, ini urgent. Hanya wanita itu yang bisa menolongmu saat ini. Kau tinggal pilih, mau ikuti saranku atau mau terima rencana perjodohan kakek Kusuma?" jawab Andre masih terlihat santai.


Reksa terdiam sejenak seraya berpikir. Seketika ia membenarkan perkataan sahabatnya itu. "Kalau wanita itu tidak mau, bagaimana?" tanya Reksa.


"Jangan seperti orang susah. Kau punya segalanya. Cukup tawarkan apa yang dia mau. Selesai, bukan?" balas Andre.


"Astaga, Andre Mahesa ... bisa tidak kau memberi saran yang tidak harus menyesatkan? Sungguh ini akan membawa mala petaka baru untukku. Bagaimana kalau nanti kakek meminta aku untuk segera menikahi dia? Kau mau tanggung jawab?" cerocos Reksa tanpa ampun.


"Whatever, Brother. Aku hanya memberi saran, selebihnya kau sendiri yang menentukan," jawab Andre tanpa beban.


Reksa kembali berpikir. Beberapa kali bertemu dengan wanita itu cukup membuatnya bisa menebak bahwa Anna bukanlah wanita yang bisa dengan mudah diiming-imingi dengan materi. Wanita itu terlalu sederhana untuk dicap sebagai "Wanita Matre". Namun, melihat wanita itu yang bekerja keras dari tempat satu ke tempat yang lainnya membuat ia berbalik pikir bahwa wanita itu memang sedang membutuhkan uang. Sepertinya itu akan mempermudah rencananya, meskipun ia sendiri tidak yakin wanita itu akan menerima tawarannya melakukan kerjasama dalam membohongi kakeknya.


"Aku tidak yakin dia mau menerima tawaranku," ucap Reksa ragu. "Kupikir dia bukan wanita matre," sambungnya dengan tatapan yang terlempar ke sembarang arah.


"Sepertinya kau tahu banyak tentang wanita itu," tebak Andre.


"Ck!"


"Jangan seperti orang bodoh! Mana mungkin kau tidak bisa mengurus satu wanita saja. Terlihat sekali kalau kau tidak laku!" ledek Andre tampak terkekeh.


"Sembarangan sekali kau! Sorry, aku bukan tidak laku, tetapi aku harus selektif dalam memilih calon istri," bantah Reksa seraya melemparkan bantal sofa ke arah Andre.


"Buktikan kalau memang itu benar. Percuma tampan dan tajir, tetapi jomlo dari lahir!" Lagi-lagi Andre tertawa mengejek sahabatnya, lalu berlari ke luar, mencoba menghindari reksa yang hendak kembali melemparkan bantal sofa ke arahnya.


"Sial!" umpat Reksa saat bantal yang dilemparnya tidak mengenai sasaran.


***

__ADS_1


"Ehem." Reksa tampak masuk kembali ke ruang kerjanya, lalu ia membenarkan dasinya yang sama sekali tidak bernatakkan.


Pria itu menghampiri sang kakek yang masih asyik berbincang dengan Anna di ruangannya. Bahkan, baik kakek Kusuma ataupun Anna, sempat tidak menyadari akan kehadirannya di ruangan itu.


"Kau sudah kembali rupanya," ucap kakek Kusuma seraya menatap sang cucu. "Kau tahu? Ternyata makanan yang di bawa Anna enak sekali. Kakek rasa kau tidak salah mencari calon istri," imbuhnya yang sontak membuat Reksa sedikit memutar bola matanya.


"Wajarlah makanannya enak. Bukankah yang memaasak makanan itu chef ternama? Mana mungkin bisa seenak itu kalau dia sendiri yang memasak," gumam Reksa yang masih berdiri tidak jauh dari pintu ruangan itu.


Seketika ia hanya bisa menelan salivanya, ketika menyadari bahwa makanan yang ia pesan sudah habis, tak tersisa sedikit pun.


"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?" celetuk kakek Kusuma seraya menatap Reksa dan Anna secara bergantian.


"Maksud Kakek?" tanya Anna heran.


"Nanti kami akan rencanakan lagi, Kek. Bukankah begitu, Sayang?" timpal Reksa seolah tidak ingin memberi wanita itu kesempatan untuk berbicara.


Seketika Anna terkejut mendengarnya. Tanpa ia sadari jantungnya sudah berdegup tak beraturan, hingga ia sendiri susah untuk mengatur napasnya. Mimpi apa semalam, tiba-tiba mendapat panggilan "sayang" dari pria tampan sekelas sultan, pikirnya.


"Sebaiknya Kakek segera pulang," ucap Reksa lagi tanpa peduli dengan ekspresi Anna saat itu.


"Kau mengusir kakek?"


"Bukan begitu, Kek. Sebentar lagi aku ada meeting di luar," jelas Reksa mencari alasan, padahal ia hanya tidak ingin jika Anna tiba-tiba merusak rencananya jika terlalu berlama-lama dekat dengan sang kakek.


"Baiklah, kalau begitu kakek pamit," ucap kakek Kusuma seraya beranjak dari tempat duduknya. "Anna, kakek tunggu nanti malam di rumah," imbuhnya kepada Anna yang tidak mendapat tanggapan sama sekali. Sebab, Anna juga bingung harus menjawab apa.


Tak ingin berlama-lama berada di ruangan itu, terlebih hanya berduaan dengan Reksa, Anna memutuskan untuk segera pamit, selang satu menit setelah kepergian kakek Kusuma. Terlalu lama berada di ruangan itu hanya akan membuatnya semakin tidak berdaya. Entah mengapa jantungnya selalu saja berdebar saat berada dekat dengan Reksa.


Anna bangkit dari tempat duduknya. "Karena tugas saya sudah selesai, saya juga permisi untuk kembali ke resto," pamit Anna pada Reksa tanpa berani menatap wajah pria itu sedikit pun.

__ADS_1


Wanita itu terlihat sedikit salah tingkah. Ia pun segera membalikkan badannya dan hendak beranjak dari ruangan tersebut. Namun, lagi-lagi Reksa membuatnya terhenti.


"Tunggu!" panggil Reksa yang sontak membuat Anna mengurungkan niatnya. "Bisa kita berbicara dulu sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapnya.


Anna terdiam sejenak, lalu dengan rasa ragu ia membalikan kembali badannya. Seketika ia terpaku saat mendapati Reksa tengah menatapnya intens. Jantungnya semakin berpacu tak terkendali. Ia memberanikan diri untuk menatap kembali pria di hadapannya itu. Sungguh dunia ini seakan berhenti dalam waktu sekejap.


Oh, Tuhan, sungguh indah ciptaan-Mu. Izinkan aku memiliki satu saja mahluk indah ciptaan-Mu ini.


Duhai, hati, kumohon janganlah engkau berharap terlalu tinggi, karena akan sangat sakit jika terjatuh nanti.


Hey, Jantung! Berhentilah berdetak terlalu cepat, dan jangan membuatku pingsan di tempat ini, karena itu akan sangat memalukan sekali.


Reksa melangkah mendekati wanita yang berdiri tidak jauh darinya, sementara Anna masih bergeming di tempatnya.


"Bisakah kita berbicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Reksa mengulangi perkataan sebelumnya, lalu ia menghentikan langkanya tepat disamping Anna. Namun, tak berlangsung lama, ia segera beralu dan duduk di sofa.


Reksa terkekeh saat mendapati Anna yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Ehem! Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" tanya Reksa yang sontak membuat Anna tersadar. "Kurasa, akan sangat tidak nyaman jika kita berbicara, tetapi kau masih berdiri seperti itu. Bisakah kau duduk di sini sebentar saja!" sambungnya yang lebih ke nada memerintah.


"Ma-maaf, Mas. Ups! Maaf, ma-maksud saya, Pak," Anna mengatupkan bibirnya dengan sebelah tangannya.


Setelah Anna mengetahui bahwa Reksa adalah seorang CEO di kantor itu, membuatnya sedikit canggung harus memanggil pria itu dengan sebutan apa.


"Maaf, kalau boleh saya tahu, memangnya ada hal penting apa, sehingga kita harus berbicara empat mata seperti ini?" tanya Anna memberanikan diri.


"Apakah menurutmu sopan berbicara dengan orang sambil berdiri seperti itu, sementara aku sudah memintamu untuk duduk?" sindir Reksa yang sontak membuat Anna sedikit mencebikkan bibirnya, lalu terpaksa duduk di depan pria itu.


Anna tampak menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Berada di dekat pria tampan seperti Reksa, sungguh membuatnya malu dan canggung, terlebih ketika dia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya yang semakin berpacu lebih cepat.

__ADS_1


Reksa yang melihat tingkah wanita itu pun hanya terkekeh geli.


"Aku butuh bantuanmu."


__ADS_2