
Anna tampak di bawa ke Diana's Salon, sebuah salon kecantikan ternama di ibukota. Anna tampak sudah duduk di depan cermin ruang Make up khusus yang ada di salon itu, setelah setengah jam lalu seorang pria suruhan Reksa menjemputnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" protes Anna ketika seorang wanita mulai memainkan rambut panjangnya yang entah akan dibentuk seperti apa.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Diana. Saya pemilik salon ini dan kebetulan sekali mendapat tugas langsung dari Reksa, teman saya," jelas wanita itu sedikit memberi jeda. "Sebaiknya Mbak diam saja, percayakan semuanya pada saya. Saya janji akan melakukan yang terbaik untukmu. Reksa pasti akan senang melihatnya," imbuhnya santai.
Diana adalah teman Reksa sekaligus pemilik salon tersebut. Ia tampak melakukan kegiatan sebagai seorang hairstylist. Meskipun banyak pegawai lain yang bisa melakukan pekerjaan tersebut, tetapi sesuai permintaan langsung dari Reksa, maka ia sendiri yang menangani Anna.
"Ha? Dari mana kau tahu namaku?" tanya Anna yang hanya mendapat respon senyuman dari Diana. Ia termangu memperhatikan wanita seusia Reksa dari pantulan cermin yang berada di depannya.
Penjemputan yang secara tiba-tiba, membuat Anna cukup terkejut, terlebih lagi ia dipaksa untuk tetap ikut dengan pria suruhan Reksa, meskipun sudah berulang kali menolaknya. Lagi-lagi di salon itu pun ia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Diana yang sama sekali tidak peduli dengan penolakannya.
"Dia sungguh menyebalkan! Kenapa dia tidak memberi tahuku terlebih dahulu? Memangnya dia pikir, aku mau diperlakukan seenaknya seperti ini?" Tak henti-hentinya Anna menggerutu dalam hati. Reksa benar-benar telah membuatnya merasa kesal.
Akhirnya ia pun diam dan membiarkan Diana merancang rambutnya. Nyatanya bukan hanya rambut, tetapi juga wajahnya yang disulap dalam waktu sekejap oleh Diana. hingga ia pun seketika terkejut melihat penampilannya dari pantulan cermin.
Anna sedikit terperangah, ketika mendapati rambutnya yang lurus tiba-tiba sudah berubah menjadi gaya half curl, sesuai dengan wajahnya yang berbentuk oval. Belum lagi make up yang jarang sekali ia gunakan untuk menghias wajahnya. Sungguh membuat ia merasa asing dengan dirinya sendiri.
Tidak bisa dipungkiri, Diana sudah benar-benar merubah penampilannya menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya. Bahkan ia sangat terkejut, bagaimana bisa ia berubah menjadi secatik itu, pikirnya.
"Sudah selesai!" seru Diana memberi tahu, setelah hampir satu jam ia menghabiskan waktu untuk merancang rambut dan merias wajah Anna.
__ADS_1
Diana tampak berjalan menghampiri meja yang berada di ruangan itu, lalu mengambil sebuah paper bag berwarna pink yang ia dapatkan dari pria yang mengantar Anna ke tempat itu.
"Sekarang pakailah ini!" pinta Diana seraya memberikan paper bag itu kepada Anna.
"Apa ini?" tanya Anna penasaran.
"Kau pakai saja," jawab Diana.
Dengan perasaan ragu, Anna meraih paper bag itu, kemudian ia ditunjukkan sebuah kamar pas oleh Diana. Setelah beberapa saat ia berada di dalam kamar itu, ia pun keluar dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini ia memakai gaun panjang berwarna peach yang press body. Sungguh ia makin terlihat cantik dengan balutan gaun itu. Belum lagi dompet dan heels berwarna hitam yang membuat penampilannya makin sempurna.
Anna kembali berdiri di depan cermin, lalu ia memegang pipi sebelah kanan sambil tak henti-hentinya memperhatikan pantulan wajahnya sendiri. Ia masih belum percaya bahwa ia bisa secantik itu, ketika mengenakan gaun yang sangat indah dengan sedikit polesan make up di wajahnya.
"Bagaimana? Cantik, bukan?" tanya Dianna yang seketika membuat Anna tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke belakang.
Diana tersenyum menatap Anna. "Pergilah, Reksa pasti sudah menunggumu," ucapnya.
Tanpa mendapat penjelasan dari Diana, Anna diminta untuk segera pergi bersama pria yang tadi menjemputnya. Sungguh ia makin heran dengan apa yang tengah terjadi, sementara pria suruhan Reksa telah menunggunya di ambang pintu salon itu.
"Apakah semuanya sudah selesai?" tanya pria itu yang langsung mendapat tanggapan anggukkan kepala dari Diana.
"Bisakah kita pergi sekarang, Nona?" tanyanya lagi seraya menoleh ke arah Anna.
__ADS_1
"Ta-tapi?"
Anna ingin sekali menolak ajakan pria itu. Namun, lagi-lagi ia dipaksa untuk ikut pergi dengan pria yang menjadi suruhan Reksa tersebut, sehingga ia hanya bisa patuh.
Anna duduk di jok belakang, tepat belakang jok kemudi. Ia tampak mengedarkan pandangan ke luar jendela, melihat keramaian lalu lalang kendaraan. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, pun dengan pria di depannya.
Sebenarnya ia masih bingung dengan apa yang baru saja ia alami. Bagaimana tidak? Reksa telah membuatnya menjadi seperti orang lain, hingga ia seolah-olah tidak mengenali dirinya sendiri.
"Sebebas itukah menjadi sultan? Dia bisa seenaknya memperlakukan seseorang, menyuruh dan memaksa orang lain untuk melakukan apa pun yang dia inginkan. Hanya untuk kegiatan makan malam saja, haruskah seribet ini? Sungguh menyebalkan! Lihat saja kalau bertemu nanti, aku tidak akan tinggal diam. Salah siapa sudah memaksaku seperti ini," gerutu Anna dalam hati.
Selama perjalanan tak henti-hentinya ia menggerutu. Entah nasibnya akan seperti apa setelah ini, akankah ia juga diperlakukan sama, setelah bertemu dengan Reksa nanti? Haruskah ia melakukan apa pun yang diminta oleh pria itu? Entahlah, yang jelas ini sudah menjadi perjanjian antara dirinya dengan Reksa. Walau bagaimana pun ia sudah menyetujui permintaan pria itu dan ia harus konsisten dengan keputusannya sendiri.
"Harusnya ini menjadi kesempatan baik bagiku, tetapi akan menjadi kesempatan yang sangat buruk, jika dia terus-terusan memperlakukanku seenaknya seperti ini," batin Anna saat itu.
Setelah seperempat jam di perjalanan, mobil yang membawa Anna pun tampak berhenti di depan sebuah rumah mewah yang sangat tidak asing baginya. Ya, tentu saja ia mengenal rumah itu. Rumah kakek Kusuma yang sebelumnya pernah ia kunjungi. Ia segera turun dari mobil itu, setelah pria yang membawanya membukakan pintu mobil berwarna hitam itu untuknya.
Kehadirannya sungguh membuat Reksa yang sedari tadi sudah berdiri menunggunya terpaku beberapa saat. Ia pun menjadi salah tingkah, ketika mendapati Reksa yang menatapnya dengan begitu intens, tanpa mengedipkan matanya barang sedetik pun. Dihadapkan dengan situasi yang membuatnya sedikit canggung, ia pun menundukkan kepalanya sejenak, karena tidak berani untuk menatap balik pria itu.
"Kenapa dia bisa secantik ini?" gumam Reksa.
Anna semakin salah tingkah, ketika pria itu masih belum berhenti menatapnya. Namun, ia berusaha untuk menetralkan debar jantungnya yang selalu saja tidak bisa diajak kompromi. Ia pun memutuskan untuk menyapa lebih dulu, sebelum Reksa tersadar dari lamunnya.
__ADS_1
"Apakah ada yang aneh dengan penampilan saya, Pak Reksa?" tanya Anna yang sontak membuat Reksa tersadar.
"Hh?" Reksa tampak mengerjap kaget, lalu berdeham seolah-olah berusaha menetralkan perasaannya. "Kau terlambat satu menit!" tukasnya yang sontak membuat Anna membulat tidak percaya.