
"Sudah, kau lakukan saja apa yang dia minta." Suara Andre tiba-tiba mengalihkan fokus Anna yang kala itu masih menatap pintu ruangan yang sudah tertutup rapat kembali.
"Tapi—"
"Aku sudah menyiapkan surat kontraknya, sebaiknya kau lihat dulu dan baca baik-baik, " potong Andre seraya berjalan menuju sofa, lalu mendaratkan tubuhnya di sana.
"Apa tidak ada cara lain, selain saya harus menandatangani kontrak itu?" tanya Anna seraya menghampiri Andre.
"Kau lihat sendiri bukan, bagaimana Reksa Angkasa? Apa menurutmu dia akan mengabulkan permintaanmu?" balas Andre seraya mendongak menatap Anna yang sudah berdiri di depannya. "Duduk," pintanya kemudian.
Andre kenal betul bagaimana karakter Reksa yang begitu kuat. Reksa adalah pria yang sangat konsisten dan memiliki komitmen. Ia paling tidak suka jika keputusannya diganggu gugat. Oleh karena itu, ia tidak akan menerima alasan apa pun dari Anna yang bisa merubah keputusannya. Sekali ia memutuskan, itu artinya ia berkomitmen, dan tidak ada yang bisa merubah itu, termasuk Andre, sahabatnya.
Anna duduk di sofa yang bersebrangan dengan Andre. "Boleh saya tanya sesuatu?" tanyanya sedikit ragu.
"Silakan," jawab Andre singkat.
"Sudah berapa lama Mas bekerja di sini?" tanya Anna penasaran.
"Mm ...." Andre menggantung ucapannya seraya mengingat. "Lima tahun, semenjak Reksa menjadi CEO di perusahaan ini, aku pun mulai bekerja dengannya," jawab Andre.
"Apa yang Mas rasakan selama bekerja dengan beliau?" tanya Anna makin penasaran.
Andre menerbitkan senyumannya. "Seperti yang kau lihat, apakah aku terlihat menderita bekerja di sini?"
Sekilas Anna memperhatikan Andre. Memang, jika dilihat dari luar, tampaknya Andre sangat enjoy dengan pekerjaannya, tetapi entah perasaan yang sebenarnya seperti apa. Nyatanya hati seseorang tak mampu ia selami begitu saja, karena pada hakikatnya memang tidak bisa dilihat secara kasatmata.
Kendati pun begitu, ia tetap menduga-duga tentang perasaan Andre yang sebenarnya, meskipun entah itu salah atau benar. Satu hal yang ia yakini bahwa sebetulnya Andre sangat jenuh bekerja dengan pria arogan seperti Reksa. Hanya saja, faktor ekonomi keluarganya yang mungkin membuat Andre bertahan di perusahaan itu, pikirnya.
"Kenapa Mas bisa sekuat itu bertahan di perusahaan ini? Apa hanya karena masalah ekonomi, Mas rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk mas Reksa?" celetuk Anna yang sontak membuat Andre mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Maksudmu?" Andre menatap Anna penuh tanya.
"Jangan pura-pura tidak paham, Mas. Saya tahu, sebenarnya Mas terpaksa 'kan bekerja di sini?" tebak Anna.
Alih-alih memberi jawaban, Andre malah tertawa mendapat pertanyaan seperti itu, seolah-olah tidak membenarkan perkataan Anna.
"Kenapa malah tertawa? Ada yang lucu dengan pertanyaan saya?" Anna memasang ekspresi sedikit kesal.
"Tidak, tidak," jawab Andre belum berhenti tertawa. "Ya, kau benar. Aku memang terpaksa bekerja di perusahaan ini," imbuhnya masih sedikit terkekeh.
"Sudah kuduga!" seru Anna.
"Tetapi, bukan karena faktor ekonomi keluarga," ujar Andre memberi tahu.
"Lalu, karena apa? Kenapa Mas masih saja bertahan, kalau bukan karena Mas butuh pekerjaan ini? Memangnya Mas betah berlama-lama kerja dengan mas Reksa?" cerocos Anna.
Andre tampak terdiam, merasa bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali tidak membenarkan praduga Anna, sedangkan Anna sendiri seolah-olah merasa yakin akan ucapannya.
"Saya tidak habis pikir Mas bisa tahan bekerja dengan pria arogan seperti mas Reksa. Mas Andre pasti sering sekali ditindas olehnya, bukan? Diperlakukan seenaknya, disuruh melakukan ini itu? Lalu, bagaimana nasib saya nanti?" ucap Anna mengungkapkan isi hatinya pada Andre yang belum ia kenal sepenuhnya.
Andre hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak menyangka jika wanita lugu di depannya ternyata cerewet sekali.
"Kau mau membaca ini dulu?" tanya Andre seraya menyerahkan dokumen di dalam map merah itu.
Anna terdiam sejenak, lalu memfokuskan pandangan ke arah dokumen itu. "Memangnya apa isi dari dokumen itu?" tanyanya sedikit mendongak kembali menatap Andre.
"Sebaiknya kau baca saja sendiri," jawab Andre.
Anna meraih dokumen itu lalu membuka setiap lembarannya tanpa memperhatikan setiap kata yang tertulis di sana. "Banyak sekali. Mas jelaskan saja isinya," ucap Anna.
__ADS_1
"Kau malas sekali," gerutu Andre. "Dokumen ini berisi tentang surat perjanjian, di mana jika kau menandatangani surat ini, itu artinya kau sudah terikat kontrak dengan Reksa. Kontraknya sampai kapan? Tidak ditentutan. Yang jelas kontrak ini akan berakhir, kalau kakaek Kusuma membatalkan perjodohan itu. Intinya kapan pun itu, kau harus selalu siap, ketika Reksa membutuhkan bantuan, dan itu adalah pekerjaanmu. Sampai di sini paham?" jelas Andre panjang lebar.
"Kalau saya tidak mau menandatangi kontrak ini bagaimana?" Anna tampak menatap serius wajah Andre.
"Simpel saja, kau tidak akan mendapatkan kembali barang milikmu yang ada pada Reksa," jawab Andre.
Anna menghela napas berat. "Kalau saya menandatangi surat kontrak ini, apa saya akan mendapatkan kembali pekerjaan saya?" tanyanya sekali lagi.
"Untuk apa pekerjaan itu? Bukankah Reksa sudah menawarkan imbalan yang lebih daripada upahmu di sana?" Andre berbalik tanya.
"Intinya, saya tetap tidak akan mendapatkan kembali pekerjaan saya, begitu?" Anna memasang ekspresi kesal.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Andre tampak menganggukkan kepalanya.
Anna mengembuskan napasnya kasar. "Kenapa kalian jahat sekali kepada saya? Apa kalian selalu berpikir bahwa segala sesuatu itu bisa dibeli pakai uang, hah?" geramnya.
"Aku tidak berpikir seperti itu, dan aku yakin Reksa pun demikian. Dia pasti memiliki alasan atas apa pun yang dia lakukan terhadapmu," jelas Andre. "Barangkali, dia takut akan sulit menghubungimu, ketika kau sedang bekerja, sedangkan dia membutuhkanmu diwaktu yang sama. Bukankah akan repot nantinya, kalau kau harus meminta izin atasanmu itu?" tuturnya.
"Tapi, tetap saja mas Reksa sudah seenaknya, setidaknya bisa berbicara dulu dengan saya. Apa susahnya berbicara baik-baik?" protes Anna.
Lagi-lagi Andre menanggapinya dengan senyuman. Ia sudah kenal betul siapa Reksa, sudah bukan hal asing lagi baginya dengan karakter Reksa yang seperti itu.
"Jadi, kau mau menandatanganinya atau tidak?" tanya Andre memastikan seraya mengalihkan pembicaraan. "Keputusan ada di tanganmu, dan setiap keputusan pasti ada sisi negatif dan positifnya. Untung rugi hal biasa, tetapi menurutku, kalau kau ingin benar-benar diuntungkan turuti saja perintah Reksa," imbuhnya memberi saran.
"Diuntungkan dari segi apa? Memangnya apa saja yang akan saya dapatkan, kalau saya mau menandatangani kontrak ini?" Anna menatap penuh selidik.
"Tentunya akan banyak sekali. Kau akan mendapatkan upah yang sangat besar untuk pekerjaan seringan itu. Kau juga bisa memiliki semua yang kau inginkan, asalkan kau juga mau mematuhi apa pun perintahnya, paham?" jelas Andre.
"Tetapi, tidak untuk memiliki hatinya, bukan?" celetuk Anna yang sontak membuat Andre terkejut seketika. Andre menatap serius wajah Anna dengan sedikit membulat.
__ADS_1
"Akh, sudahlah, saya hanya bercanda," tepis Anna, ketika mendapati ekspresi Andre yang membuatnya sedikit salah tingkah.