After Met You

After Met You
Can I Call You Baby?


__ADS_3

"Sa-saya berganti pakaian, Mas," jawab Anna polos.


"Hanya memakai pakaian saja, kau menghabiskan waktu selama itu?" tanya Reksa membulatkan mata seolah waktu 15 menit itu adalah waktu yang sangat lama untuk sekadar berganti pakaian.


"Hanya 15 menit, bukan?"


"Dan menurutmu itu sebentar?" Reksa tampak menaikkan nada suaranya.


Lagi-lagi Anna menciut dan hanya bisa bersikap pasrah. "Maaf," desisnya seraya menundukkan kepala.


Tanpa menjawab permintaan maaf dari Anna, Reksa tampak menurunkan tatapannya memperhatikan penampilan wanita di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Hanya seperti ini penampilanmu?" protesnya seraya mendongak kembali menatap Anna.


Anna langsung memperhatikan pakaian yang ia kenakan dari beberapa sisi. Ia tampak memutar badannya dengan gaya slow motion, sehingga membuat Reksa tampak termangu beberapa saat.


"Memangnya ada apa dengan penampilan saya? Bukankah ini pakaian yang Mas berikan kepada saya? Kenapa? Apa pakaian ini tidak cocok dengan badan saya?" cerocos Anna yang tentu merasa tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini, karena mendapat komentar negatif dari Reksa.


Reksa terdiam masih mengamati penampilan Anna. "Akh, dia polos sekali," gumamnya dalam hati.


Seketika ia mengeluarkan handphone dari dalam saku jasnya, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Briana, tolong ke ruangan saya sekarang!" perintah Reksa kepada seseorang di seberang sana.


Reksa segera mengakhiri telepon itu, lalu memasukan kembali benda pipih itu ke tempat semula. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah Briana. Reksa langsung meminta orang di luar sana untuk segera masuk.


Benar saja. Briana, wanita cantik yang sudah lima tahun bekerja sebagai sekretaris kepercayaan Reksa tampak masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Briana dengan sopan.


"Tolong kau bantu make over dia," pinta Reksa kepada Briana.


"Baik, Pak," jawab Briana. "Saya ambilkan peralatannya terlebih dahulu, Pak. Permisi," imbuhnya seraya berpamitan kembali.


Namun, tak berlangsung lama. Briana telah kembali dengan membawa tas make up mini berwarna kuning emas. Baginya yang selalu membawa alat make up ke mana pun ia pergi, perintah Reksa bukanlah hal yang sulit, terlebih lagi ia yang juga pandai sekali menghias diri.


"Mari, Nona, saya bantu," ucap Briana kepada Anna.

__ADS_1


Anna pun tampak menatap bingung Reksa dan Briana secara bergantian.


"Mari, Nona," ajak Briana kembali sontak membuat Anna terpaksa mengikutinya.


Mereka tampak duduk di sofa panjang saling berhadapan, sementara Reksa tampak memperhatikan kegiatan mereka sambil duduk di kursi kerjanya.


Briana memulai dengan kegiatan merias wajah Anna agar tidak terlihat terlalu polos. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, sehingga hasilnya telihat sangat rapi.


Di tengah-tengah kegiatan mereka tak ada satu pun yang bersuara. Entah karena mereka merasa canggung atau memang sedang malas untuk berbicara. Pun dengan Reksa yang juga hanya berdiam memperhatikan Briana yang kala itu sudah pada tahap sentuhan akhir.


Briana tampak memakaikan lipstik di bibir Anna dengan sangat hati-hati hingga membuat Reksa yang sedari tadi melihatnya sesekali memanyunkan bibirnya seolah reflek. Beruntung tidak ada yang melihat hal itu. Jika salah satu di antara Anna dan Briana melihatnya, bisa hancur reputasinya sebagai CEO di perusahaan itu.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu 10 menit, Briana sudah menyelesaikan tugasnya, sehingga membuat Anna yang cantik semakin terlihat cantik. Briana memakaikan make up yang sangat natural di wajah Anna, sehingga Anna Benar-benar terlihat sangat cantik.


Reksa masih belum mengakhiri kegiatannya. Entah kenapa ia suka sekali menatap wajah Anna seperti itu, terlebih lagi Anna yang sudah terlihat sangat cantik.


"Tugas saya sudah selesai, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Briana yang sontak membuyarkan lamunan Reksa.


"Terima kasih, Brian. Kau bisa pergi," jawab Reksa sedikit gugup.


Reksa tampak menghampiri Anna yang masih terduduk di sofa. "Nah, kalau seperti ini kau tidak akan mempermalukanku nanti," ucapnya yang entah berniat mengejek atau apa.


Seketika Anna mendelik kesal ke arah Reksa. Sungguh pria itu sangat menyebalkan, pikirnya.


"Ayo, ikut aku!" ajak Reksa tiba-tiba.


"Tunggu!" refleks Anna seketika menghentikan langkah Reksa. "Kalau boleh tahu, memangnya kita akan pergi ke mana, dan kenapa saya harus berdandan seperti ini?" tanyanya setelah Reksa kembali memfokuskan pandamgan ke arahnya.


Seketika Reksa melengos, lalu memasang ekspresi kesal. "Ya Tuhan, kau lupa kalau hari ini kita akan bertemu dengan kakek?" kesalnya.


"Memangnya hari ini?" Anna menatap serius wajah Reksa.


"Memangnya kau pikir tahun depan?" balas Reksa.


"Kenapa tidak memberi tahu saya sebelumnya, kalau ternyata acara makan siangnya hari ini?" protes Anna.


"Ck, Tidak usah banyak protes, lakukan saja tugasmu dengan baik!" tegas Reksa seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Tampak kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Lalu, nanti saya harus bagaimana?" tanya Anna bingung.


Dengan refleks, Reksa melepas kembali tangan sebelah kirinya dari saku celana yang ia kenakan, lalu menoleh menatap Anna.


"Lakukan yang membuat mereka percaya bahwa kita adalah sepasang kekasih, kau paham?" Reksa tampak membelalakkan matanya seolah merasa kesal karena Anna terlalu banyak bertanya.


"Oke," jawab Anna singkat, lalu mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Ayo!" ajak Reksa seraya beranjak dari tempat itu.


Namun, seketika langkah Reksa terhenti, ketika tiba-tiba Anna merangkulkan kedua tangannya di lengan Reksa.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Reksa seraya menoleh ke samping menatap tajam Anna yang sudah berdiri di sampingnya. "Lepaskan!" imbuhnya semakin mempertajam tatapannya.


"Katanya biar terlihat seperti sepasang kekasih," jawab Anna semakin mempererat tangannya.


"Jangan macam-macam kau! lepaskan!" geram Reksa seraya menarik tangannya, tetapi Anna dengan kuat menahannya.


Sepertinya Anna memang sengaja ingin mengerjai pria dingin dan kaku seperti Reksa. Ia sedikit menahan tawa menatap ekspresi wajah Reksa yang sudah terlihat sedikit memerah.


"Anna, lepaskan tidak?" Reksa menatap penuh ancaman, sehingga membuat Anna terpaksa mengakhiri aksinya.


Anna tampak memberengutkan wajahnya. "Iya, saya lepaskan," jawabnya sambil melepaskan tangannya dari lengan Reksa.


Reksa tampak menepuk-nepuk lengan jasnya yang sempat dipegangi oleh Anna, sehingga membuat Anna seketika memasang ekspresi kecut.


"Apakah aku semenjijikan itu hingga mas Reksa menepuk-nepuk lengan pakaian bekas sentuhanku?" batinnya bertanya.


"Saya hanya berusaha agar kita terlihat seperti seorang kekasih," bisik Anna yang ternyata masih bisa didengar oleh Reksa.


"Tidak harus seperti itu juga. Pokoknya jangan pernah sentuh aku!" tegas Reksa, lalu segera beranjak kembali dari tempat itu.


"Mas!" Lagi-lagi Anna memanggil Reksa sehingga membuat Reksa kembali mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Apa lagi, Anna?" tanya Reksa seraya membalikkan badannya dan menatap kesal Anna.


"Can I call you baby?"

__ADS_1


__ADS_2