
"Ini punyamu?" Reksa menyodorkan tas itu kepada Anna.
"Terima kasih." Baru saja Anna akan meraih tas itu, tiba-tiba Reksa menarik kembali tasnya, sehingga ia tidak berhasil mengambil alih tas itu ke tangannya.
"Itu tas saya, Mas, tolong kembalikan!" Anna menengadahkan telapak tangannya, berharap pria itu akan mengembalikan tas miliknya. Namun, nyatanya ia tak bisa semudah itu mendapatkan kembali tas tersebut.
"Kau tahu, apa yang akan terjadi kalau aku tidak berhasil mengambil tasmu dari jambret itu?" tanya Reksa dengan tatapan sedikit mencurigakan.
Melihat ekspresi pria itu membuat Anna sedikit membulat. "Jangan-jangan ini ulah Mas Reksa lagi?" tuduhnya.
"Maksudmu?" Reksa memasang ekspresi datar seolah tidak mengerti maksud perkataan Anna.
"Mas ngaku saja! Mas Reksa sengaja bukan melakukan ini, agar saya menerima tawaran Mas tadi?" ucap Anna.
"Jaga mulutmu!" bantah Reksa seraya membelalakkan mata. "Aku tidak selicik itu!" lanjutnya sinis.
"Bagaimana mungkin saya percaya begitu saja, sementara sebelumnya Mas sudah bersikap seenak—"
"STOP! Aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan!" bentak Reksa lagi-lagi membantah tuduhan wanita itu.
Seketika Anna menciut melihat sepasang bola mata yang nyaris keluar. "Maaf," desisnya.
"Sudahlah, lupakan!" Reksa tidak ingin memperpanjang.
"Ya sudah, kembalikan tas saya," rengek Anna.
"Apa tidak ada yang ingin kau lakukan, setelah aku menolongmu hari ini?" tanya Reksa seraya menyeringai.
"Terima kasih sudah menolong saya," balas Anna.
"Hanya itu?" Reksa tampak mengerutkan dahinya.
Tentu saja Anna langsung bisa memahami arti dari ekspresi Reksa yang seakan-akan menuntut timbal balik darinya. Ia yakin pria itu akan memanfaatkan situasi tersebut untuk tawaran yang diberikan kepadanya beberapa menit yang lalu.
Anna menghela napas kasar. Ia tidak habis pikir, jika dirinya akan kembali berurusan dengan pria itu untuk hal di luar dugaannya. Lagi-lagi kejadian yang tidak sengaja membuat ia berhutang budi kepada pria itu.
__ADS_1
"Oke, apa yang harus saya lakukan untuk membalas budi Mas Reksa kali ini?" tanya Anna berusaha menahan kekesalannya.
Reksa menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. "Cukup terima tawaranku tadi," jawabnya tanpa berbasa-basi.
"Ck, sepertinya Mas Reksa sengaja menjebak saya!" celetuk Anna seolah masih tidak percaya dengan pengakuan pria itu.
"Sudah kukatakan, aku tidak melakukannya!" Lagi-lagi Reksa membantah tuduhan wanita itu.
"Ta-tapi, ini tidak mungkin kebetulan begitu saja, bukan?" balas Anna.
Reksa melengos sejenak. Ia tidak tahu lagi bagaimana meyakinkan Anna bahwa ia benar-benar tidak melakukannya. "Ck, terserah kau saja!" kesalnya. "Jadi, kau mau terima tawaranku atau mau tas ini tidak kembali?" tanya pria itu masih mencengkeram erat tas milik Anna. Ia sedikit mengangkat benda itu tepat di samping kiri wajahnya.
Anna berpikir beberapa saat. Sungguh ia bingung untuk menentukan jawaban yang tepat "Baiklah, sebagai balas budi, saya akan melakukan satu hal yang Mas minta, tetapi tidak untuk menerima pekerjaan yang Mas tawarkan tadi," jawabnya.
"Tetapi permintaanku hanya itu," balas Reksa tidak mau kalah. "Aku tidak ingin memeras tenaga siapa pun secara cuma-cuma, jadi aku akan tetap membayarmu untuk pekerjaan itu. Lupakan balas budi! Karena dengan kau mau menerima tawaranku, kuanggap balas budimu selesai," jelasnya kemudian.
"Tapi—"
"Dan kalau kau menolak tawaranku, itu artinya kau adalah sosok yang tidak tahu balas budi," potong Reksa seraya memainkan alisnya naik turun.
"Ya sudah, anggap saja saya tidak tahu balas budi," ujar Anna tidak peduli.
Ia segera membalikkan badannya, berniat untuk pergi dari tempat itu. Bahkan, tampaknya ia sudah tidak peduli dengan barang-barang penting yang ada di dalam tasnya, seperti Kartu Tanda Penduduk dan lain-lain.
"Sepertinya tidak ada barang penting di dalam tas ini," kata Reksa dengan nada sedikit tinggi. "Baiklah, akan kubuang saja ke sungai," imbuhnya seolah mengancam, sontak membuat Anna mengurungkan niatnya. Tentu saja ia khawatir jika pria itu benar-benar membuang tasnya yang sangat berharga.
Anna membalikkan badanya kembali menghadap Reksa. "Oke, apa pekerjannya?" tanyanya ingin tahu.
"Pekerjaannya sangat sederhana, kau hanya perlu menjadi kekasih pura-puraku, kapan pun aku membutuhkanmu," jelas Reksa.
"Mas Reksa sudah gila?" Anna terbelalak mendengar perkataan Reksa.
"Kau boleh menganggapku gila, tetapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, kuharap kau bersedia membantuku," jawab Reksa.
"Tapi, Mas tahu bukan, akibatnya nanti akan seperti apa?" Anna mengingatkan, berharap pria itu akan membatalkan niatnya untuk terus-terusan membohongi kakek Kusuma.
__ADS_1
"Saya tahu, tetapi tidak ada cara lain, selain ini. Lagi pula, kakek memintaku untuk mengajakmu besok siang, apa kau akan membiarkan kakek kecewa secepat itu?" ucap Reksa memelas.
"Berapa lama?" tanya Anna memastikan, setelah ia berpikir untuk mengambil keputusan.
"Sampai situasinya memungkinkan," jawab Reksa.
"Itu sama saja dengan Anda memperlakukan saya seperti boneka," balas Anna sedikit kesal.
"Boneka yang lucu tidak jadi masalah, bukan?" goda Reksa memainkan kedua alisnya naik turun.
Anna mendecak kesal, lalu membuang muka.
"Ayolah ... hanya kau yang bisa membantuku. Andai saja ada wanita lain yang bisa kujadikan sebagai penggantimu, mungkin sudah kulakukan. Aku tidak akan mungkin mengenalkan wanita yang berbeda kepada kakek secepat itu, bukan?" bujuk Reksa.
"Dengan satu syarat," pinta Anna.
"Katakan apa syaratnya!"
"Jangan pernah merendahkan saya lagi!" tegas Anna.
Reksa tertegun sejenak. "Aku minta maaf untuk perkataanku malam itu. Sedikit pun aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu, hanya saja ...." Reksa tidak meneruskan ucapannya, entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
"Hanya saja apa?" tanya Anna penasaran, sontak membuat Reksa tersadar dari lamunan.
"Tidak penting. Yang jelas aku memiliki alasan, kuharap kau paham dan tidak banyak bertanya. Kau lakukan saja tugasmu setelah menandatangani surat kontrak nanti," jawab Reksa.
"Surat kontrak?" Lagi-lagi Anna terkejut mendengar jawaban Reksa. "Tidak perlu ada surat kontrak, saya tidak akan menandatanganinya!" imbuhnya menolak.
"Tidak bisa. Aku tidak ingin ambil risiko, kalau sewaktu-waktu kau melanggar perjanjian kita," balas Reksa.
"Tapi, Mas tidak bisa seenaknya seperti ini," protes Anna.
"Asisten pribadiku akan segera urus surat kontraknya, dan tas ini aku tahan sampai kau berhasil menandatangani kontrak tersebut." Reksa tampak tidak peduli. "Ayo, kuantar pulang!" imbuhnya seraya berjalan ke arah mobilnya seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada Anna untuk berbicara.
"Mas Reksa!" teriak Anna. Namun, Reksa hanya melambaikan tangannya ke atas, lagi-lagi tidak peduli.
__ADS_1