After Met You

After Met You
Pindah Rumah


__ADS_3

Reksa tampak menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah tempat ia mengantar Anna. Karena kendaraan beroda empat tidak bisa masuk sampai ke depan rumah kontrakan Anna, jadi ia hanya bisa menghentikan mobilnya di sana.


"Terima kasih, Mas," ucap Anna seraya membuka pintu mobil. "Saya permisi," imbuhnya, lalu turun dari mobil itu.


Reksa tampak mengambil sebuah kacamata hitam dari laci dashboard, lalu memakainya. Setelah itu ia turun dari mobil, ketika Anna baru saja menutup pintu mobilnya.


Anna yang sedikit merasa geran tampak memperhatikan Reksa yang kini tengah berjalan menghampirinya.


"Ayo!" ajak Reksa tiba-tiba, setelah ia berdiri di depan Anna.


"Ke mana?" Anna masih memasang ekspresi heran.


"Ke rumahmu," jawab Reksa datar.


"Rumah kontrakan saya?" tanya Anna memastikan.


"Ya," singkat Reksa seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu.


"Mau apa?" Anna mengerutkan dahinya, menatap Reksa penuh tanya.


"Kenapa? Saya tidak boleh mampir ke rumahmu?" tanya Reksa seraya mengalihkan tatapannya ke wajah Anna.


Tentu saja Anna merasa bingung dengan Reksa yang tiba-tiba ingin mampir ke rumah kotrakannya. Memangnya ada urusan apa? Pikirnya.


"Bukan begitu, tetapi maaf saya tidak menerima tamu pria," jawab Anna sekenanya.


"Saya tidak akan masuk," balas Reksa.


"Tapi mau apa?" Anna makin penasaran.


"Saya paling tidak suka mengulangi perkataan saya!" tukas Reksa. "Kau sudah menandatangani kontrak kerjasama kita, bukan? Jadi, lakukan saja perintahku!" tegasnya.


"Tapi—"


"Kau mau aku tuntut?" Pertanyaan Reksa sontak membuat Anna membeliak.

__ADS_1


"Maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba Mas mau menuntut saya?" protes Anna tidak terima, bahkan menurutnya ia tidak memiliki kesalahan apa pun.


"Kau tidak membaca perjanjian itu?" Reksa tampak mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Perjanjian? Memangnya ada apa di dalam perjanjian itu?" Lagi-lagi Anna dibuat penasaran.


"Kau sungguh tidak tahu apa yang akan saya lakukan, jika kau berani melanggar perjanjian itu?" Ucapan Reksa kali ini sungguh membuat Anna terkejut.


Andre memang telah membacakan sebagian isi perjanjian itu. Anna pun sudah mengetahui apa saja yang harus ia lakukan, termasuk mematuhi semua perintah Reksa. Namun, ia tidak mengetahui satu hal bahwa Reksa dapat menuntutnya jika ia melanggar perjanjian itu.


Ia sungguh menyesal, karena tidak membaca isi perjanjian itu sendiri, padahal Andre sudah berulang kali menawarkan kepadanya agar ia membaca isi kontrak kerjasama dengan Reksa yang di dalamnya terdapat surat perjanjian tersebut.


Ahh, kenapa aku bodoh sekali.


Anna tampak tertegun. Ia masih tidak percaya bahwa pertemuannya dengan Reksa ternyata malah membuat hidupnya makin rumit. Selain hatinya, dirinya pun ikut terjebak dalam permainan Reksa.


Entah bagaimana ia harus mengatasi semuanya. Di samping ia harus menahan dan memendam perasaannya terhadap Reksa, ia juga harus berusaha tegar dan tetap kuat mengahadapi sikap Reksa yang suka memaksanya.


"Baiklah, sepertinya kau tidak keberatan, jika aku ikut ke rumah kontrakanmu," ucap Reksa yang seketika membuyarkan lamunan Anna.


"Baiklah, tetapi hanya di luar saja," ujar Anna tampak pasrah dengan keadaan.


Mereka pun mulai berjalan memasuki gang yang berada di sebelah rumah mewah itu. Anna tampak berjalan lebih dulu dan Reksa mengikutinya.


Sesampainya di depan rumah Anna, Reksa mengedarkan pandangan ke beberapa arah. Ia tampak memperhatikan sekeliling rumah yang berukuran sangat kecil dan sudah mengalami beberapa kerusakan. Seketika ia menengadahkan kepalanya, menatap atap rumah itu yang juga sudah terlihat rusak.


Bagaimana bisa dia tinggal di rumah seperti ini. Sudah kecil, kotor, rusak pula.


Ya, betul. Keterbatasan ekonomi membuat Anna hanya bisa memilih rumah kontrakan yang sangat sederhana dengan harga yang paling murah. Meskipun memang sudah tidak begitu layak untuk ditempati, tetapi ia hanya mampu menyewa rumah itu.


Tetap saja. Meskipun ia tinggal di tempat yang harganya sangat murah, terkadang ia masih saja kekurangan uang untuk membayar cicilan kontrakan itu.


Reksa masih mengamati rumah itu. Ia tidak menyangka jika Anna bisa tidur dengan nyaman di rumah dengan kondisi yang seperti itu.


"Silakan duduk, Mas!"

__ADS_1


Seketika suara Anna membuat Reksa tersentak dan mengakhiri kegiatannya. Reksa pun menurunkan tatapannya ke arah sepasang kursi dan meja kayu yang terlentak di depan rumah itu.


"Maaf, rumahnya kotor," ucap Anna merasa tidak enak hati.


Tanpa memedulikan tawaran Anna, Reksa malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu ia menegakkan badannya. "Segera kemasi barang-barangmu!" tegasnya yang lagi-lagi membuat Anna terkejut.


"Maksudnya?" tanya Anna penasaran.


Kenapa aku harus mengemasi barang-barangku, memangnya dia mau mengajakku pergi ke mana?


"Saya tunggu lima belas menit!" Lagi-lagi Reksa bersikap semaunya, tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Anna.


"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Anna masih bingung.


"Pindah rumah," jawab Reksa santai.


"Pindah rumah?" Anna tampak membulatkan matanya. "Kenapa harus pindah? Saya nyaman tinggal di sini, jadi untuk apa—"


"Tidak usah protes! Lakukan apa yang saya minta! Kau paham?" potong Reksa.


"Tapi ... ahh." Dengan terpaksa Anna masuk ke dalam rumahnya, lalu segera menyiapkan tas besar untuk mengemasi barang-barangnya.


Dalam hati, Anna ingin sekali menolak, tetapi ia masih ingat dengan ucapan Reksa beberapa menit lalu. Ia tidak ingin jika Reksa menuntutnya hanya karena ia dianggap telah melanggar perjanjian itu.


Anna tampak memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas jinjing berwarna hitam dengan ukuran besar. Di tengah kegiatannya, ia tidak henti-hentinya menggerutu karena merasa kesal dengan sikap Reksa yang selalu memaksanya secara tiba-tiba.


Di sisi lain, Reksa masih berdiri di depan rumah itu, menunggu Anna selesai mengemasi barang-barangnya.


Di mata Anna, mungkin Reksa terkesan seperti arogan, karena selalu bersikap seenaknya tanpa memikirkan perasaan Anna. Namun, untuk kali ini, sungguh ia memiliki alasan kenapa bersikap seperti itu. Ini semua ia lakukan semata-mata karena tidak ingin melihat Anna tinggal di tempat yang menurutnya sudah tidak layak huni.


Saat ini, Anna memang bukan siapa-siapa baginya, tetapi Anna sudah cukup membantunya, dan tidak ada salahnya jika sekarang ia yang membantu Anna. Ia ingin Anna tinggal di tempat yang nyaman dan aman, bukan di tempat yang dapat membahayakan hidupnya seperti itu.


Belum sampai 15 menit Reksa menunggu, tiba-tiba Anna sudah berdiri di ambang pintu masuk rumah itu sambil menjinjing dua tas berukuran besar. Sepertinya ia sudah selesai dengan kegiatan mengemas barangnya.


Reksa yang menyadari keberadaan Anna segera mengalihkan perhatiannya. "Tumben sekali kau bergerak lebih cepat. Sudah selesai?" ucapnya.

__ADS_1


Anna menghela napas, lalu sedikit memberengutkan wajahnya seolah-olah ingin menunjukkan kekesalannya kepada Reksa. "Hmm ...."


Seketika Reksa menyeringai penuh kemenangan.


__ADS_2