After Met You

After Met You
Chicken Teriyaki


__ADS_3

"Hh?" Reksa tampak mengerjap kaget, lalu berdeham seolah-olah berusaha menetralkan perasaannya. "Kau terlambat satu menit!" tukasnya yang sontak membuat Anna membulat tidak percaya.


"Hanya terlambat satu menit saja, bukan? Lalu, itu jadi masalah buat Anda?" tanya Anna masih tidak percaya jika hal sekecil itu bisa menjadi masalah bagi pria yang kini berdiri di depannya.


"Tentu saja jadi masalah buatku. Kau tahu, betapa pentingnya satu menit untukku?" jawab Reksa dengan nada ketus.


"Lalu menurut Anda, itu salah saya?" tanya Anna memastikan. "Bukankah cepat atau lambatnya aku tergantung pria suruhannya itu?" batinnya melanjutkan.


"Jelas salahmu! Lihat saja caramu berjalan, seperti ratu yang baru saja turun dari singgasana. Kalau saja kau bisa jalan sedikit lebih cepat, mungkin tidak akan terlambat seperti ini," jelas Reksa.


"Tapi, Anda tidak memberi tahu sebelumnya, saya harus datang jam berapa!" bantah Anna kesal.


"Kau bilang tidak memberi tahu?" tanya Reksa seraya menatap sinis, seolah-olah yang dikatakan Anna itu salah. "Setengah jam lalu, saya mengirim pesan kepadamu, apa kau tidak membacanya?" imbuhnya kemudian.


"Pesan?" lirih Anna seraya membuka dompetnya, lalu mengambil ponsel dari dalam dompet itu. Ia tampak memeriksa ponselnya dan benar saja bahwa ada pesan whatsapp yang dikirim oleh Reksa. "Saya tidak tahu kalau Anda mengirim pesan," ucapnya seraya mendongak menatap Reksa.


"Lantas, itu salah saya?" tanya Reksa, kemudian membalikkan badannya, beranjak untuk segera masuk.


"Saya hanya terlambat satu menit, apa Pak Reksa tidak mengizinkan saya untuk masuk?" celetuk Anna.


Reksa pun terhenti, lalu membalikkan badannya kembali dan menatap Anna dengan tatapan sedikit sinis.


"Kalau Anda tidak mengizinkan saya untuk masuk, lebih baik saya pulang saja," ucap Anna kemudian.


"Kau pikir ini sekolahan? Ayo, cepat masuk!" tegas Reksa.


Seringaian senang tampak terbit di wajah Anna. Ia pun segera beranjak menghampiri pria yang sudah berdiri satu meter di depannya.

__ADS_1


"Jangan berbuat macam-macam. Lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan!" pinta Reksa sebelum ia mengajak Anna untuk masuk ke dalam rumah.


"Maksudnya macam-macam seperti apa?" tanya Anna polos, sontak membuat Reksa melengos sejenak.


"Maksudku, jangan lakukan apa pun yang bisa membuat kakek curiga. Dan tolong, jangan panggil aku dengan sebutan Bapak. Di depan kakek, panggil aku dengan panggilan yang lebih pantas untuk seorang kekasih," titah Reksa.


Anna terdiam sejenak. "Enak sekali dia mengatur hidupku," gerutunya dalam hati. "Baiklah, saya akan berusaha melakukannya dengan baik," ucapnya kemudian.


Setelah selesai dengan perdebatan itu, mereka pun segera beranjak masuk ke dalam rumah sambil berjalan berdampingan penuh dengan senyum kebahagiaan. Satu usaha yang mungkin akan membuat kakek Kusuma percaya bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


Di dalam rumah, Anna menyadari keberadaan kakek Kusuma yang tampak sudah menunggu kedatangannya. Senyum ramah yang dilemparkan kakek Kusuma kepadanya membuat ia merasa sangat senang. Namun, di sisi lain ia juga sedih karena harus bersekongkol dengan Reksa untuk membohongi sosok kakek yang menurutnya sangat baik.


Andai ini bukan karena balas budi, mungkin ia juga tidak akan menyetujui permintaan pria itu. Walau bagaimana pun ia merasa sangat berdosa telah mengikuti keinginan Reksa. Namun, apalah daya, ia pun tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya berharap, kakek Kusuma tidak akan marah jika suatu saat mengetahui kebenarannya.


"Selamat malam, Kek," sapa Anna, ketika ia sudah berdiri di depan kakek Kusuma, lalu mencium tangan kakek itu.


"Selamat malam, Nak. Kakek sudah menunggumu dari tadi. Kau cantik sekali malam ini," balas kakek Kusuma tampak memperhatikan wajah dan penampilan Anna yang sangat berbeda jauh dari sebelumnya.


"Reksa benar-benar tidak salah memilih calon istri," ucap kakek Kusuma tak henti-hentinya memuji Anna sehingga membuat Reksa seketika memutar bola matanya, seolah-olah merasa tidak senang mendengar sang kakek yang menurutnya terlalu berlebihan memuji wanita itu.


Anna dipersilakan untuk duduk di kursi makan. Beberapa menu makan malam tampak sudah terhidang di atas meja makan tersebut. Wanita itu sedikit termangu melihat menu makanan yang terlihat sangat lezat dan mewah.


Ini seolah mimpi baginya, karena selama ia tinggal di kota tersebut, ia belum pernah makan makanan selezat dan semewah itu. Uang yang ia miliki hanya cukup untuk membeli nasi bungkus di warteg dengan harga yang murah. Tidak mungkin ia bisa membeli makanan mahal yang dihidangkan di rumah itu.


Beef steak, baked salmon, lobster mac and cheese, chicken teriyaki dan beberapa hidangan makanan lainnya. Ia tahu betul berapa harga makanan-makanan itu jika dijual di resto. Meskipun sekarang ia sudah bekerja di sebuah resto ternama, tetapi belum pernah sedikit pun ia mencicipi makanan semewah itu di tempat kerjanya.


"Jadi, sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya kakek Kusuma di tengah-tengah kegiatan makan malam mereka.

__ADS_1


"Satu tahun."


"Tiga bulan."


Anna dan Reksa tampak beradu pandang, ketika mereka baru saja memberikan jawaban yang berbeda di waktu yang sama kepada kakek Kusuma, sehingga membuat sang kakek menatap mereka secara bergantian seolah-seolah menuntut penjelasan.


"Satu tahun? Bukankah kita bertemu tiga bulan yang lalu?" gumam Anna tanpa ingin mengalihkan pandangannya dari wajah Reksa.


"Ehem, maksud kami satu tahun tiga bulan," ucap Reksa mengonfirmasi kembali ucapannya, setelah sebelumnya ia melemparkan tatapan sinis kepada Anna, karena telah sembarangan menjawab pertanyaan yang seharusnya hanya ia sendiri yang menjawab.


Kakek Kusuma tampak menautkan kedua alisnya merasa heran. Namun, ia seperti tidak ingin memperpanjang dan hanya menganggukkan kepalanya memberikan tanggapan yang seolah-olah ia paham.


"Satu tahun tiga bulan ... cukup lama juga," ucap kakek Kusuma. "Nak, apa kau tahu makanan kesukaan Reksa?" tanyanya seraya menatap Anna.


Tentu saja pertanyaan kakek Kusuma kali ini membuat Anna bingung harus menjawab apa. Jangankan makanan kesukaan, mengetahui nama pria itu pun baru beberapa jam yang lalu.


Anna menatap Reksa dengan penuh kebingungan. Namun, Reksa pun tampak bingung harus bagaimana memberi tahu makanan kesukaannya kepada Anna.


Dengan sedikit ragu, Anna berusaha menjawab pertanyaan itu. "Mm ... chicken teriyaki, makanan yang kakek makan tadi siang, itu adalah salah satu makanan kesukaan Mas Reksa," jawab Anna asal.


Beruntung sekali ia ingat makanan yang dipesan Reksa tadi siang, jadi ia bisa memanfaatkan situasi itu untuk memberikan jawaban yang masuk akal. Tanpa ia sadari, Reksa telah mengangguk-anggukkan kepalanya seolah membenarkan jawaban Anna.


Kakek Kusuma pun hanya tersenyum mendengar jawaban wanita itu.


Kegiatan makan malam pun telah selesai. Namun, perbincangan mereka masih belum berakhir sampai di situ. Ternyata kakek Kusuma masih belum puas dengan beberapa pertanyaan yang membuat sepasang kekasih pura-pura itu kelabakan mencari jawaban yang tepat.


"Selama satu tahun tiga bulan, apa yang sudah Reksa berikan untukmu, Nak?" celetuk kakek Kusuma yang sontak membuat Anna dan Reksa terlonjak.

__ADS_1


"Aku—"


"Kakek bertanya kepada Anna, bukan kepadamu!"


__ADS_2