
Keesokan paginya, Anna melakukan rutinitas seperti biasa. Ia berjalan kaki dari rumah kontrakannnya menuju laundry. Namun, sesampai di tempat kerja, ada hal yang membuatnya terkejut, ketika ia langsung dipanggil ke ruangan kerja oleh sang pemilik laundry.
Anna tampak sudah duduk berhadapan dengan Ratna. Suasana ruangan yang sedikit tegang seketika membuat ia tercengang.
"Tapi kenapa, Bu? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Anna memasang raut kecewa, ketika sang pemilik laundry baru saja memintanya agar tidak lagi datang ke tempat itu untuk bekerja.
"Tidak, Anna. Hanya saja ... pendapatan laundry sedang menurun dan saya terpaksa harus mengurangi karyawan dengan alasan tidak bisa membayar upah seperti biasanya," jelas Ratna yang tentu membuat Anna tidak percaya begitu saja.
"Tetapi, kenapa harus saya, Bu? Ibu tahu bukan, jika saya sangat membutuhkan pekerjaan ini?" sesal Anna.
"Saya tahu, tetapi untuk kali ini, saya juga tidak bisa menolongmu. Saya minta maaf." Ratna menatap tidak tega wajah Anna.
Entah apa yang disembunyikan oleh perempuan paruh baya itu. Ini seolah-olah bukan Ratna yang Anna kenal.
"Saya tidak masalah, jika Ibu mau memotong gaji saya, asalkan Ibu tetap mengizinkan saya untuk bekerja di sini, saya mohon!" ucap Anna memohon.
"Maaf, Anna, tidak bisa," jawab Ratna sedikit memasang ekspresi sedih.
Anna masih tidak paham dengan sikap Ratna yang tiba-tiba berubah. Padahal sebelumnya, ia selalu menjadi kebanggaan wanita paruh baya itu. Bahkan selama bekerja di sana, ia tidak pernah sekali pun mendapat teguran karena kesalahannya. Tidak jarang juga ia mendapat bonus tambahan dibandingkan dengan pegawai yang lain, entah karena kerjanya yang baik atau karena Ratna yang merasa kasihan, yang jelas pemilik laundry sangat baik kepadanya dan selama ini ia diperlakukan seolah seperti anaknya sendiri, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.
"Baiklah, kalau memang itu keputusan Ibu, saya paham." Anna menatap sendu wajah Ratna.
Sejujurnya, ia tidak ingin jauh dengan Ratna yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Namun, ia pun tidak bisa berbuat banyak, selain pasrah dan menerima keputusan wanita itu dengan lapang dada.
__ADS_1
"Terima kasih untuk pengalamannya selama ini, saya permisi," desis Anna dengan nada sedikit terpaksa.
"Tunggu, Anna!" pinta Ratna, ketika Anna baru saja akan bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa, Bu?" tanya Anna penasaran.
Tanpa langsung menanggapi pertanyaan Anna, Ratna membuka laci meja kerjanya, lalu mengambil sebuah amplop berwarna coklat dari dalam laci tersebut. Ia menyodorkan amplop itu kepada Anna. "Ini gaji terakhir untukmu, saya juga sudah menambahkan sedikit bonus di dalamnya, semoga bemanfaat, ya," ucapnya.
Anna terdiam menatap amplop yang masih berada di tangan Ratna. Entah kenapa ia ragu sekali mengambil amplop itu, lebih tepatnya merasa kasihan, jika memang benar pendapatan laundry sedang menurun. Namun, entah kenapa Ratna masih saja memberinya bonus.
"Ambillah, Anna!" titah Ratna.
"Tapi, Bu—"
"Baiklah. Terima kasih, Bu." Dengan ragu, Anna meraih amplop itu dari tangan Ratna.
Setelah itu, Anna segera beranjak dari tempat laundry. Ia kembali ke rumah kontrakannya, karena bingung harus pergi ke mana. Pekerjaannya di resto pun, dimulai nanti siang. Jadi, masih banyak waktu luang untuknya.
Di rumah kontrakan, sambil rebahan di atas tempat tidur, lagi-lagi ia memikirkan sikap Ratna yang berubah drastis kepadanya. Sampai detik ini ia masih belum percaya, jika hanya dirinya yang diberhentikan dari pekerjaannya. Ia merasa tidak enak hati, khawatir jika sebenarnya ia telah melakukan kesalahan, tetapi Ratna tidak ingin mengatakan langsung kepadanya, mengingat Ratna yang selalu baik kepadanya.
Cukup lama ia memikirkan hal itu. Namun, tidak menemukan jawabannya sama sekali. Tanpa ia sadari, sudah berjam-jam waktu yang ia lewati tanpa melakukan apa pun. Ia pun memutuskan untuk segera bersiap-siap dan pergi ke restoran.
Pukul 11.00 WIB, ia tiba di restoran. Tak disangka, ia juga dikejutkan dengan kejadian yang sama seperti di laundry tadi, hingga membuatnya merasa heran. Semesta seolah-olah sedang tidak berpihak padanya. Sebenarnya ada apa? Kenapa ia mengalami hal yang sama di dua tempat kerjanya yang berbeda. Sepertinya sedang ada yang tidak beres, pikirnya.
__ADS_1
"Pak, apa tidak bisa dipertimbangkan kembali? Saya sangat butuh sekali pekerjaan ini," ucap Anna memohon, setelah Revan baru saja memecatnya.
Bagaimana mungkin ia dipecat di hari yang bersamaan seperti itu, sementara ia tidak sadar kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Selama ini ia selalu berusaha untuk melakukan pekerjaannya sebaik mungkin, terlebih lagi pekerjannya di restoran yang baru dua bulan. Tidak mungkin orang pekerja keras sepertinya akan menyia-nyiakan kesempatan, ketika ada orang yang memercayainya.
"Maaf, Anna, tidak bisa. Lagi pula, saya sudah mendapatkan penggantimu," jawab Revan.
"Tapi, salah saya apa, Pak?" Anna masih penasaran. Bahkan, ia tidak mendapatkan alasan yang jelas dari atasannya itu.
"Saya tidak perlu memiliki alasan. Saya punya wewenang di resto ini. Sebaiknya kau segera pergi!" jawab Revan seraya bangkit dari tempat duduknya seolah-olah tidak ingin lagi mendengar protes dan pertanyaan dari Anna.
Sepasang bola mata wanita itu tampak berkaca-kaca. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya membela diri. Ini seolah-olah tidak adil baginya. Jelas tidak adil, jika ia dipecat tanpa alasan seperti ini. Namun, perkatan Revan pun ada benarnya, bahwa atasannya itu memiliki wewenang di resto tersebut. Lagi-lagi ia hanya bisa pasrah dengan apa yang baru saja ia alami. Cukup mengecewakan, tetapi apa yang bisa ia perbuat?
Dengan langkah yang sedikit gontai, Anna keluar dari restoran itu. Ia melangkahkan kakinya menyusuri trotoar jalan. Ia sangat sedih. Tak terasa air mata sudah membanjiri pipinya. Bahkan, ia ia tidak peduli dengan beberapa orang yang mungkin sedang memperhatikannya. Yang ia pedulikan hanyalah nasibnya setelah ini.
Bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya, jika pekerjaan saja tidak punya. dari mana ia mendapatkan uang untuk makan dan bayar kontrakan? Ia banar-benar dibuat frustrasi dengan kondisi yang mendadak seperti ini.
"Kenapa bu Ratna dan pak Revan tiba-tiba memecatku? Sebenarnya apa salahku? Kenapa mereka tidak katakan saja yang sejujurnya, agar aku tidak bertanya-tanya seperti ini?" desis Anna di tengah tangisnya.
Begitu banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Namun, ia tentu tak bisa menjawab sendiri pertanyaan itu.
Ia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya, lalu duduk di bangku taman yang terletak di sekitaran trotoar jalan. Ia tampak menyeka air matanya. Namun, otaknya tidak berputar sampai di situ. Ia terus berpikir tentang beberapa kemungkinan yang membuat dirinya bisa dipecat.
"Apa jangan-jangan ... ini ulahnya mas Reksa lagi?" celetuknya saat tiba-tiba ia teringat perbuatan pria itu di hari sebelumnya. "Ya, tidak menutup kemungkinan. Aku harus segera menemuinya," imbuhnya seraya bangkit kembali dari tempat duduknya.
__ADS_1