After Met You

After Met You
Tidak Menerima Penolakan


__ADS_3

Reksa tampak duduk di sofa tunggal yang berada di tengah-tengah Anna dan Andre.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah selesai?" tanyanya seraya menatap Anna dan Andre secara bergantian.


"Saya sudah melakukan apa yang Mas minta. Sekarang, tolong kembalikan tas saya," pinta Anna seraya menengadahkan telapak tangannnya di depan Reksa.


Reksa melempar tatapan kepada Andre, seolah-olah memastikan tentang kebenaran dari perkataan Anna.


"Sudah, hanya saja ... dia tidak bersedia untuk mengisi ceknya," jawab Andre yang langsuh dapat mencerna tatapan Reksa. Ia tampak merapikan kembali surat kontrak itu, sementara Reksa kembali menatap Anna.


"Kau dengar? Itu artinya urusan kita belum selesai," ujar Reksa sedikit membulatkan matanya.


"Tapi, saya tidak menginginkan cek itu, saya hanya ingin tas saya kembali," jawab Anna.


"Harus kukatakan berapa kali bahwa aku tidak menerima penolakan!" tegas Reksa.


Anna pikir, setelah ia menandatangani surat kontrak dan bernegosiasi dengan Andre, itu akan memudahkan untuk mendapatkan tasnya kembali. Namun, nyatanya berhadapan dengan Reksa langsung membuat situasinya menjadi jauh lebih rumit. Entah ia harus bagaimana menghadapi pria itu.


Reksa memang selalu bersikap kuat dan seolah-olah berkuasa di depannya. Akan tetapi, untuk kali ini, ia memutuskan untuk tetap kuat dan konsisten dengan pendiriannya. Bahkan, ia tak peduli lagi apa yang akan dilakukan oleh Reksa terhadapnya.


"Baiklah, kalau begitu ... saya juga tidak menerima paksaan!" balas Anna yang sontak membuat Reksa semakin terbelalak menatapnya.


Andre yang melihat aksi mereka berdua pun tampak terkekeh. Ia tidak menyangka bahwa Anna mampu melawan atasannya yang selama ini terkenal adikuasa. Sungguh wanita yang sangat menarik. Jarang sekali ia menemukan wanita seperti itu.


Menyadari Andre yang masih terkekeh, Reksa tampak mendelik kesal ke arah sahabatnya itu. Ia tidak habis pikir, jika Anna mampu menjatuhkan harga dirinya di depan sahabatnya sendiri, sungguh memalukan.


"Ya sudah, lakukan apa pun yang kau inginkan!" ketus Reksa seraya menatap sinis wajah Anna.

__ADS_1


Aku ingin lihat, seberapa kuat dia bertahan tanpa uang dan pekerjaan. Kurasa tidak akan bertahan lama, dan pada akhirnya, dia akan mengemis meminta bantuan kepadaku.


"Baik. Sepertinya urusan kita sudah selesai. Kalau begitu saya pamit, permisi," ujar Anna tak ingin berlama-lama di depan Reksa. Ia pun segera beranjak dari tempat itu.


"Tunggu!" panggil Reksa yang sontak menghentikan langkah Anna.


Anna membalikkan badannya kembali menghadap Reksa dan Andre. "Ada apa lagi, Mas?" tanyanya.


"Kau lupa? Hari ini kau sudah harus mulai bekerja?" tanya Reksa.


Anna menghela napas sejenak, sebelum ia menanggapi pertanyaan Reksa. "Bukankah tadi Mas sendiri yang meminta saya untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan? Jadi, saya memutuskan untuk pulang saja, dan tolong jangan ganggu saya!" balas Anna penuh penekanan.


"Lalu, bagaimana dengan tasmu?" tanya Reksa seraya menarik sebelah sudut bibirnya.


"Saya rasa, hari ini bukan waktu yang tepat untuk mengambil tas saya. Jika Mas memang membutuhkannya, silakan, ambil saja," jawab Anna berlagak tidak peduli, padahal ia sangat membutuhkan tas itu, yang mana kartu identitas, dompet dan juga handphone-nya berada di dalam benda tersebut.


Seketika ekspresi Reksa berubah kecut. Ia pikir Anna akan mengurungkan niat untuk pergi, demi tas yang masih berada padanya, tetapi nyatanya tidak.


Sikap Anna semakin membuat Reksa dan Andre termangu beberapa saat. Sejak kapan ada orang yang berani melawan Reksa seperti itu? Sungguh sulit untuk dipercaya, jika ternyata yang berani bersikap seperti itu adalah sosok wanita yang derajatnya jauh lebih rendah daripada Reksa.


"Kau lihat?" tanya Reksa kepada Andre yang kala itu masih terpaku tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan Anna.


Andre menoleh, lalu menerbitkan senyumannya. "Menarik! Aku menyukainya," jawab Andre yang tentu saja membuat Reksa semakin kesal.


"Aarrgh!" Reksa tak ingin lagi memedulikan sahabatnya, ia pun segera beranjak dari ruangan itu, berniat untuk mengejar Anna.


Sementara, Anna telah lebih dulu masuk ke dalam lift, sebelum Reksa berhasil menghampirinya. Ia hanya sendirian berada di dalam lift itu, sehingga membuatnya semakin bebas untuk bergerak.

__ADS_1


Anna tampak menekan salah satu tombol angka, lalu lift itu melesat dengan cepat mengantarkannya ke lantai yang dituju, yaitu lantai 1. Pintu lift itu terbuka kembali secara otomatis. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba ia terbelalak saat mendapati seseorang yang tengah berdiri tepat di depan pintu lift itu.


"Mas Reksa?" Anna terpaku melihat Reksa, entah bagaimana caranya pria itu bisa dengan tiba-tiba berada di sana.


Seketika Anna dibuat gugup melihat tatapan Reksa yang begitu menusuk. Tampaknya ia sudah membuat pria itu marah. Ia pun sangat menyadari hal itu, terlebih lagi melihat ekspresi wajah Reksa yang sedikit menakutkan.


Ia pun mengurungkan niatnya dan tetap diam di tempat. Sekali pun ia memilih pergi dari sana, tetapi Reksa telah menghalangi jalannya dan ia sangat yakin bahwa pria itu tidak akan begitu saja membiarkannya pergi.


Benar saja, ternyata apa yang ia pikirkan akhirnya terjadi juga. Reksa tampak masuk, lalu menarik tangan dan mendorong tubuhnya hingga tertahan di dinding lift, setelah pintu lift itu tertutup kembali.


Tak hanya itu, Reksa juga mengunci tubuh Anna dengan kedua tangannya, sehingga membuat Anna semakin bergetar ketakutan. Bahkan, Reksa tak peduli dengan lift yang sudah kembali melesat ke lantai atas.


"Apa yang akan Mas Reksa lakukan kepada saya?" tanya Anna sedikit bergetar.


Namun, Reksa malah mendekatkan wajahnya ke wajah Anna sambil menatapnya dengan penuh amarah, sontak Anna makin khawatir akan nasibnya sendiri. Entah bagaimana caranya agar ia bisa selamat dari terkaman pria itu.


"Kau sudah berani mempermainkanku, hah?" tanya Reksa dengan nada sinis, sontak membuat Anna meringis ketakutan.


"Ti-tidak. Saya tidak bermaksud untuk mempermainkan Mas Reksa," jawab Anna sedikit terbata.


"Lalu apa namanya, kalau bukan mempermainkan?" Reksa semakin mempertajam tatapannya. "Kau pikir, kau bisa dengan mudah kabur dariku, setelah menandatangani kontrak itu?" geramnya.


"Ti-tidak, Aaarrg!!" jerit Anna diakhiri napas yang sedikit tersenggal-senggal, ketika Reksa semakin mendekati wajahnya hingga ia dapat merasakan embusan napas pria itu yang begitu hangat.


Sungguh ia takut dan cemas, jika Reksa akan berbuat macam-macam terhadapnya. Namun, beruntung sekali, pintu lift itu segera terbuka, sehingga membuat Reksa menghentikan aksinya secepat kilat.


Reksa tampak menurunkan tangannyan melepaskan kungkungan, hingga membuat Anna sedikit bisa bernapas lega. Anna menarik napasnya panjang, lalu mengembuskannya dengan sedikit kasar. Jantungnya seperti akan copot mendapat perlakuan seperti itu dari Reksa.

__ADS_1


Belum sempat ia menetralkan perasaannya kembali, tiba-tiba Reksa menarik tangannya keluar dari lift itu, lalu menuntunnya menuju ruang kerja CEO.


"Mas, lepaskan saya," pinta Anna sambil berjalan dengan sangat tergesa-gesa mengikuti langkah Reksa yang dua kali lebih cepat darinya, sehingga membuatnya nyaris tersandung, terlebih lagi ketika perhatiannya ia fokuskan ke tangan Reksa yang tengah menggenggam tangannya. Mbak terasa seperti ada gelenyar yang mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga membuat jantungnya berpacu semakin lebih cepat.


__ADS_2