
"Apa kau tidak memiliki sopan santun, masuk ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" geram Reksa tampak kesal dengan Melvin yang menyelonong ke dalam ruangannya.
Melvin tersenyum sinis sambil menghampiri meja kerja Reksa, lalu duduk bersandar di kursi, berseberangan dengan Reksa.
"Apa kau menganggapku sama seperti orang lain?" tanya Melvin tampak santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kau memang sepupuku, tetapi kau tidak bisa seenaknya di ruanganku!" tegas Reksa.
"Sepupumu sendiri kau batasi, lalu apa yang dilakukan oleh sahabatmu itu?" Melvin mengangkat punggungnya, mengubah posisi duduknya menjadi sedikit tegak.
"Apa maksudmu?" Reksa mengernyitkan dahinya menatap Melvin dengan geram.
"Kenapa? Bukankah kau selalu membiarkan sahabatmu itu masuk seenaknya kemari?" Melvin mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Aku yang memanggilnya!" tegas Reksa semakin geram.
Entah ada apa dengan Melvin, sehingga bersikap seolah membenci Andre yang Reksa rasa tidak memiliki masalah apa pun dengan sepupunya itu.
"Sudahlah, kau jangan membuat masalah baru di sini, aku tidak suka dengan caramu!" Reksa bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk meninggalkan Melvin di ruangan itu.
"Kau mau ke mana?" Langkah Reksa terhenti saat Melvin mencoba menahannya.
"Bukan urusanmu!" Reksa menatap geram ke arah Melvin.
Tak ingin terlalu lama meladeni sepupunya, Reksa segera bergegas dari ruangan itu. Ia senagaja membiarkan Melvin berada di ruangannya sendiri, berharap sepupunya tahu diri dan segera pergi.
"Bagaimana kabar Anna?"
Lagi-lagi langkah Reksa terhenti, ketika mendengar Melvin menyebut nama Anna.
Reksa yang baru saja akan membuka pintu ruangan, langsung menoleh ke belakang. Dia menatap Melvin yang kala itu sudah berdiri di tempat yang semula.
Reksa menautkan kedua alisnya, seolah merasa heran. Kenapa Melvin tiba-tiba menanyakan kabar Anna, memangnya apa urusan dia dengan wanita itu? Bukankah mereka baru saja saling mengenal? Pikirnya.
"Apa urusanmu?" tanya Reksa dengan nada sinis.
__ADS_1
Melvin tersenyum mengejek, lalu menghampiri Reksa.
"Reksa, Reksa, aku tidak menyangka, rupanya kau pandai berakting juga," sindir Melvin yang sontak membuat Reksa sedikit terlonjak.
Tentu saja Reksa paham ke mana arah pembicaraan Melvin saat itu. Dia sudah menduga sebelumnya, bahwa Melvin akan mencari tahu tentang kebenaran hubungannya dengan Anna.
Namun, secepat mungkin Reksa menetralkan perasaannya kembali. Dia tidak ingin jika Melvin semakin curiga terhadapnya, hanya karna pria itu melihat sikapnya yang terkesan mencurigakan. Sebisa mungkin dia berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bersandiwara dengan Anna.
"Apa yang kau bicarakan? Apa aku terkesan sedang bersandiwara?" tanya Reksa seraya memasang ekspresi kecut. "Jika kedatanganmu kemari hanya untuk mencari masalah. Maaf, aku tidak punya waktu!" Reksa menatap sinis wajah Melvin.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?" Melvin tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia kenakan, lalu menegakkan badannya.
"Kau yakin akan menikahi wanita karyawan resto itu?" tanya Melvin seraya menyeringai penuh kemenangan. Entah dari mana dia tahu tentang Anna.
"Kenapa tidak, jika memang dia adalah pilihan terbaik menurutku?" Reksa menatap penuh keyakinan.
Melvin langsung bertepuk tangan, ketika mendengar jawaban Reksa.
"Wow, hebat sekali!" seru Melvin kemudian. "Seorang Reksa Angkasa akan menikah dengan wanita bekas karyawan Resto? Ha-ha-ha, memalukan sekali! Apa kau sungguh tidak takut, jika kakek mengetahui semua itu?" Melvin berusaha mengancam Reksa.
Reksa yakin bahwa Melvin tengah merencanakan sesuatu untuknya. Ia sendiri bingung, kenapa Melvin selalu bersikap seperti itu terhadapnya. Padahal, ia tidak pernah mengganggu hidup pria itu.
Kali ini giliran Reksa yang menyeringai senang, menanggapi ucapan Melvin.
"Kenapa aku harus takut? Bukankah kakek sudah mengetahui semua hal tentang Anna? Dia yang sebelumnya bekerja di laundry, lalu bekerja sebagai delivery order di salah satu resto langgananku. Lantas, untuk apa aku takut akan hal itu, sementara kakek sendiri sangat merestui hubungan kami. Bahkan, kakek sangat senang jika aku memiliki kekasih yang baik dan pekerja keras seperti Anna, bukan seperti mantan-mantanmu itu," jelas Reksa panjang lebar, sontak membuat Melvin seketika terbelalak tidak percaya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah cukup dewasa untuk mengatasi masalahku sendiri," sindir Reksa, sebelum Melvin berhasil menanggapinya.
"Ta-tapi, itu tidak mung—"
"Jika kau tidak percaya, silakan tanyakan langsung kepada kakek!" sergah Reksa, lalu segera bergegas keluar dari ruangan itu.
"Aarrgh, sial!" Melvin mendesah frustrasi, setelah Reksa sudah pergi dari hadapannya. "Kenapa dia bisa dengan mudah meyakinkan kakek?" gerutunya saat itu.
Melvin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar langsung dari mulut Reksa. Sungguh ia sudah dibuat malu oleh kelakuannya sendiri.
__ADS_1
Melvin pun segera pergi dari ruangan Reksa. Ia tampak membanting pintu ruangan itu dengan sangat kuat, seolah benar-benar inging menunjukkan kemarahannya saat itu.
Sementara itu, tepat di ruangan Andre, Reksa yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Tolong kau selidiki dia. Apa saja yang dia lakukan dalam waktu dekat ini. Jangan sampai kehilangan informasi tentangnya!" pinta Reksa kepada seseorang di seberang sana.
Reksa segera mengakhiri telepon itu. Sikapnya kali ini membuat Andre mengernyitkan dahinya, merasa heran.
Andre yang baru beberapa jam naik jabatan menjadi wakil direktur pun, segera bangkit dari kursi kebanggaannya. Dia menghampiri Reksa yang sudah duduk di sofa berwarna hitam.
"Kau kenapa? Ada masalah?" Andre mendaratkan tubuhnya di sofa kosong yang terletak di depan Reksa.
"Melvin," singkat Reksa tampak menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Membuat ulah apa lagi dia?" Andre mengangkat sebelah alisnya.
"Sepertinya dia mencurigai hubunganku dengan Anna," jelas Reksa, lalu menghela napas. "Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Reksa mengangkat kembali punggungnya, sedikit mencondongkannya ke depan.
"Yakinkan dia, jangan membuatnya tambah curiga," jawab Andre.
"Tapi, bagaimana caranya?"
"Tunjukan kepada dia, bahwa kalian adalah sepasang kekasih sungguhan!" tegas Andre memberi saran.
"Ahh, apa tidak ada cara lain?"
"Kau cari sendiri caranya." Andre tidak ingin berkomentar lagi, karena akan percuma saja. Sarannya belum tentu akan diterima oleh sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu, bisa-bisa Anna salah paham nanti," jelas Reksa.
Tentu Reksa tidak ingin Anna salah paham, jika ia terlalu menunjukkan sikap sebagai kekasih sungguhan. Itu benar-benar sulit untuknya. Dia sudah berkomitmen untuk melakukan hal-hal yang biasa saja, tidak terlalu berlebihan. Jadi, bagaimana bisa ia melakukan hal yang disarankan Andre? Pikirnya.
"Terserah kau, aku hanya menyarankan saja."
"Aarrgh, sial! Kenapa dia begitu ingin tahu tentang hubunganku dengannya. Jika sampai kakek tahu tentang ini, apa yang harus aku lakukan?" Reksa mengerang frustrasi.
__ADS_1
Baru saja ia bisa mengatasi masalahnya, kenapa tiba-tiba Melvin muncul dengan membawa masalah baru? Sungguh hal itu membuatnya sangat geram.