
Terkadang aku ingin bercerita.
Tentang semua yang kurasa.
Tentang lelah dan juga letih.
Sebab, menahan rindu yang semakin berlebih.
Pena_Batik
________________________________________
Malam yang dingin diguyur hujan. Hadirkan embusan angin yang merusak pikiran akan halusinasi yang tak bisa terelakkan.
Waktu sudah semakin larut. Namun, Anna masih terjaga. Ada hal yang membuatnya merasa tak penat. Entah kenapa, semenjak pertemuannya dengan Reksa, tidurnya selalu saja terganggu. Bayangan wajah pria itu benar-benar tidak bisa pupus dari memorinya.
Semakin ia berusaha menepisnya, justru bayangan wajah dingin itu semakin membuat ia mengingatnya. Hidungnya, bibirnya, matanya, ah, semuanya begitu mengagumkan. Entah pelet apa yang digunakan oleh pria itu, sehingga membuat Anna yang seakan terhipnotis dan benar-benar tidak bisa berpaling dari ilusinya.
"Siapa dia? Kenapa dia begitu tampan? Ah, sayang sekali aku tidak tahu namanya, padahal kita sudah beberapa kali bertemu. Apa semesta sebegitu tidak merestuinya untuk aku bisa kenal dengan pria itu?" gumam Anna sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Tuhan, jika aku boleh meminta, sisakan satu stok laki-laki seperti dia untukku. Tidak apa-apa cuek, yang penting baik, tampan, juga turunan sultan, eh!" imbuhnya sambil mengatupkan bibir dengan sebelah tangannya, seolah tidak sadar akan ucapannya sendiri.
Seketika Ia dibuat senyum-senyum sendiri membayangkan sosok yang mengganggu pikirannya itu. Sosok yang benar-benar membuatnya hampir setengah gila, hingga ia merasakan haus di tenggorokkannya. Ia pun segera menghentikan lamunannya, lalu dengan rasa malas, ia bangkit dari tempat tidurnya.
"Aauuww!!" pekiknya, ketika dia merasakan nyeri di kakinya yang terluka karena kecelakan tadi siang.
Anna segera memeriksa kakinya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan begitu sakit di sana, padahal sebelumnya tidak sesakit itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kakiku bengkak," rintihnya, dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan sakit.
Anna terdiam beberapa saat, menetralkan rasa nyeri di kakinya. Ia juga bingung harus bagaimana, sementara ia tidak memiliki obat apapun untuk luka itu.
Karena tenggorokkannya semakin terasa kering, ia pun tetap memaksakan diri untuk berjalan menuju dapur dengan langkah kaki yang terpincang-pincang dan sangat hati-hati. Ia berjalan sambil merintih kesakitan.
Setibanya di dapur, ia mendudukkan dirinya di atas kursi makan. Dapur yang ukurannya hanya dua kali dua meter itu terlihat begitu sempit, ditambah dengan perabotan rumah yang menghiasi setiap dinding ruangan itu, belum lagi rak piring yang berada di atas meja makan yang menempel di dinding, disertai dua kursi di depannya. Ah, sungguh sumpek sekali.
Anna mengambil gelas yang ada di atas meja makan, lalu menuangkan air putih ke dalamnya. Ia meneguk segelas air itu dalam satu kali tegukan. Rupanya ia benar-benar merasa kehausan malam ini.
"Kalau kakiku sakit seperti ini, bagaimana aku bisa bekerja besok?"
Akhirnya, ia larut dalam lamunan. Entah nasibnya akan seperti apa setelah ini. Jika luka itu tidak segera diobati, kemungkinan besar lukanya akan semakin parah dan ia tidak akan bisa bekerja dalam waktu cukup lama dan itu akan mempengaruhi hidupnya yang serba kekurangan.
***
Di tempat lain, dalam waktu yang sama, Reksa juga tengah terbaring di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu, entah itu apa, yang jelas tatapannya sedikit sayu dengan ekspresi yang terlihat sendu.
Tidak akan ada yang menyangka jika sosok pria itu ternyata memiliki kesedihan yang begitu mendalam. Meski tidak ada yang tahu apa penyebabnya, tetapi siapa pun yang melihat ekspresi wajahnya sekarang, mungkin sebagian mereka tidak akan ada yang mempercayainya bahwa ia memiliki sisi lain dari apa yang mereka lihat selama ini.
"Dimana dia sekarang?" gumam pria itu di tengah-tengah lamunannya.
Pemuda itu tampak mengingat sosok yang selalu ia rindukan selama ini. Sosok wanita yang sejak awal mengisi relung hatinya yang paling dalam. Bahkan karena wanita itu, ia sampai lupa bagaimana caranya jatuh cinta terhadap wanita lain, selain kepadanya.
Adalah sosok yang selalu ditunggu kehadirannya. Namun, tak kunjung jua. Entah dimana wanita itu berada, ia sungguh sulit untuk menemukannya, meskipun sudah mencari sosok tersebut kemana-kemana.
"Kau tahu? Ada banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Aku di sini selalu menunggumu, sampai kapan pun, aku akan tetap menunggu, hingga Tuhan memepertemukan dan mempersatukan kita kelak," ucap Reksa tampak yakin dan percaya bahwa sosok yang selalu ia jadikan alasan untuk menolak segera menikah akan hadir di hadapannya, cepat atau lambat.
__ADS_1
"Tuhan, melalui desir angin dan rintiknya hujan, aku mohon sampaikan salam rinduku untuknya, dimana pun dia berada. Sampaikan pula bahwa aku di sini selalu menunggunya. Sebab, untuknya, ada sabar yang selalu kulapangkan," ucap pria itu memohon.
Seketika bulir bening memenuhi sudut mata pria itu. Namun, tak sampai membuatnya terjatuh. Ia masih cukup kuat untuk tidak menangisi keadaan yang tak sesuai dengah harapan. Karena ia tahu, bahwa cepat ataupun lambat, Tuhan pasti akan mempertemukannya dengan sosok yang selalu ia rindukan.
Reksa beranjak menghampiri meja nakas yang berada di samping tempat tidur, berniat untuk mengambil gawai miliknya. Namun, seketika tangannya terhenti. Pandangannya fokus ke sebuah gelang yang terletak di atas nakas, tepat di samping gawai miliknya. Ia terpaku beberapa saat, lalu meraih gelang itu. Seketika ia menyunggingkan senyumnya, seraya menatap gelang yang kini sudah beralih ke tangannya.
"Dasar wanita ceroboh!" ucapnya.
Ya, gelang itu adalah gelang Anna yang ia temukan tadi siang. Sepertinya gelang itu terlepas tidak sengaja dari tangan wanita itu, ketika Reksa sedang mengobati lukanya.
"Siapa dia?" tanyanya yang entah kepada siapa.
Reksa tampak berpikir beberapa saat, mengingat sosok Anna yang sudah berapa kali bertemu dengannya secara tidak sengaja.
"Oh, ya! Anna. Aku baru mengingat namanya," ucapnya, setelah dia mengingat nama wanita itu.
"Wanita cantik dan sederhana. Sayang sekali dia harus sudah bekerja keras di usianya yang semuda itu," imbuhnya seraya menatap iba gelang itu, ketika mengingat Anna yang ia ketahui bekerja di dua tempat.
Ya, tentu ia tahu bahwa gadis itu bekerja di dua tempat, karena tadi siang ia melihat dengan jelas seragam yang Anna kenakan, dan ia mengenal betul seragam itu.
"Bagaimana keadaan dia sekarang? Apa lukanya sudah membaik?" Reksa bertanya-tanya seolah merasa khawatir.
"Ah, apa-apaan aku ini! Untuk apa aku mencemaskannya. Dia baik-baik saja ataupun tidak, itu sama sekali bukan urusanku!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
__ADS_1
HAPPY READING
TBC