
Pagi-pagi buta, Anna sudah terbangun dari tidurnya. Seperti biasa, ia melakukan aktivitas di rumah kontrakannya yang terbilang mungil itu. Hal yang memang sudah menjadi rutinitasnya sebelum pergi bekerja.
Seusai kegiatannya di rumah, Anna segera pergi ke sebuah laundry, tempat ia bekerja paruh waktu. Ia bekerja sebagai presser di sana. Tampak setumpuk pakaian sudah menunggunya. Tanpa berbasa-basi, ia segera melakukan tugas melicinkan beberapa potong pakaian milik pelanggannya.
Baginya, mencari uang bukanlah hal yang mudah. Jangankan untuk membeli barang-barang mewah, untuk makan saja susah. Belum lagi ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar kontrakan. Demi menyambung hidup di ibukota, ia harus bekerja keras mati-matian. Setiap hari dia melakukan pekerjaan itu, dari tempat satu ke tempat yang lainnya.
Sudah menjadi hal yang biasa memang. Namun, adakalanya ia merasa jenuh dan lelah akan pekerjaannya sendiri. Ah, sungguh sangat melelahkan, juga meresahkan. Andai saja tubuhnya bukan buatan Tuhan, mungkin sudah hancur lebur karena terlalu banyak beban.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di laundry tepat pukul 14.00 WIB, ia segera bergegas pulang ke rumah kontrakan yang tidak jauh dari laundry. Ia tampak berganti pakaian mengenakan seragam minimarket. Tak banyak waktu yang ia habiskan di rumah kontrakannya. Beberapa menit kemudian, ia pun bergegas untuk berangkat ke minimarket dengan menggunakan angkutan umum.
***
Anna tengah sibuk dengan aktivitasnya sebagai kasir minimarket. Ia tampak melayani beberapa pembeli yang ingin melakukan transaksi pembayaran.
"Tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah," ucap Anna kepada salah satu pembeli, setelah ia menghitung otomatis total barang belanjaannya pada layar komputer.
Pembeli yang tak lain wanita paruh baya itu tampak memberikan uang cash sejumlah tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Anna segera meraih uang itu, lalu memberikan kembaliannya.
"Terima kasih, selamat berbelanja kembali," kata Anna seraya memberikan sekantong barang belanjaan itu kepada pembeli tersebut.
Tak hanya itu. Masih banyak pembeli lain yang telah mengantri di belakang wanita paruh baya itu. Seketika mereka bergeser, maju satu langkah, setelah pembeli sebelumnya keluar dari barisan itu.
Anna terus melakukan kegiatan itu dengan sabar dan telaten. Kegiatan yang sudah mendarah daging dalam hidupnya selama lima tahun belakangan ini. Jadi, sudah sewajarnya jika ia bisa melakukannya dengan sangat baik. Selama lima tahun ini, hidupnya benar-benar ia habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Bahkan, ia hampir lupa, kapan terakhir ia bermain-main sekadar menghilangkan penat.
Anna tampak menawarkan beberapa produk promosi kepada setiap pembeli itu, meski tidak begitu banyak yang tertarik. Ia tampak kewalahan melayani pengunjung minimarket yang cukup ramai, meskipun ada kasir lain yang membantunya.
Hingga tiba pada orang terakhir dalam antrian itu. Tanpa memperhatikan dengan jelas pengunjung tersebut, Anna segera meraih barang belanjaan milik seorang pria yang tengah berdiri di depan meja kasir. Ia pun menghitung satu-persatu barang belanjaan pria itu secara otomatis, melalui barcode scanner yang telah disediakan.
__ADS_1
Hanya dalam waktu singkat, ia sudah dapat menjumlahkan semua harga barang-barang tersebut. Ia pun menyebutkan jumlah harga yang tertera pada layar komputer tanpa menoleh kepada pembeli itu.
Pria itu hanya meyodorkan sebuah credit card kepadanya, sehingga membuat ia seketika menoleh ke arah pria itu, lalu meraih kartu tersebut. Sesaat ia tertegun, memperhatikan wajah pria itu. Ia merasa bahwa pria itu tidak asing baginya.
"Mas? Bukankah Mas yang menolong saya waktu malam itu?" ucapnya terkejut.
Alih-alih mendapat jawaban, pria itu hanya mengerutkan dahinya seakan heran.
"Benarkan, Mas?" tanya Anna sekali lagi.
Ia tampak begitu yakin. Namun, sayang sekali pria itu seperti tidak mengingat apapun.
"Maaf, saya tidak ingat," ucap pria itu datar.
Anna terdiam sejenak. "Itu lho, Mas, kejadian seminggu yang lalu. Malam itu, saya dikejar oleh dua orang preman dan Mas menolong saya," jelas Anna sambil menggesekkan credit card pada mesin EDC.
Pria itu mulai memencet tombol pada mesin tersebut, seraya memasukkan enam digit angka yang merupakan pin dari credit card miliknya itu.
"Mas tidak mengingatnya sama sekali?" tanya Anna masih penasaran.
Pria itu terdiam sejenak, seolah berpikir mengingat sesuatu. "Iya, saya ingat," ucapnya, setelah dia berhasil mengingat kejadian seminggu yang lalu di tengah hujan yang cukup deras waktu itu.
Anna tersenyum simpul. "Terima kasih lho, Mas, kar—"
"Tidak perlu mengucapkan itu berulang kali," celetuk pria itu memotong pembicaraan, sontak membuat Anna seketika mengatupkan bibirnya.
Dengan masih tertegun, Anna memberikan barang belanjaan beserta credit card milik pria itu.
__ADS_1
"Terima kasih, selamat berbelanja kembali," lirihnya tanpa mendapat respon dari pria itu.
Antara merasa malu dan canggung, sudah pasti ada dalam benaknya. Namun, demikianlah kenyataannya. Lantas, apa yang bisa ia perbuat, selain berlapang dada karena mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan? Maksudnya, membuat dirinya merasa tidak nyaman atau apapun itu namanya.
Beruntung tidak ada pembeli lain yang mendengarnya, paling tidak ia tidak terlalu khawatir dengan reputasinya sebagai kasir di minimarket itu. Sebab, rasanya perbuatannya itu sangat tidak etis dengan mengajak berbincang pembeli untuk hal yang tidak penting, di tengah-tengah kegiatan transaksi pula. Terlebih lagi yang diajak bicara seperti merasa tidak nyaman.
Pria itu segera meraih barang belanjaannya, lalu bergegas keluar dari minimarket itu. Sepertinya, pria itu tidak terlalu peduli dan merasa tidak ingin tahu tentang siapa wanita yang sudah ditolongnya itu. Baginya, itu hanyalah ketidaksengajaan. Lagi pula, ia juga tidak punya banyak waktu untuk meladeni hal-hal yang tidak penting menurutnya. Jika masih banyak waktu untuk melakukan hal-hal penting dan bermanfaat, lantas untuk apa ia harus membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting, pikirnya.
Anna benar-benar tidak melepaskan pria itu dari netranya, sebelum akhirnya pria itu sendiri yang lenyap dari pandangannya.
Kenapa dia begitu dingin? Ah, sepertinya aku memang harus tahu diri. Kita memang seperti langit dan bumi. Jangankan untuk bersanding, saling mengenal pun rasanya seperti mimpi.
Ketika Anna tengah asyik bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunannya, sesaat ketika pria itu lenyap dari sepasang manik cokelatnya.
"Itu siapa, Ann?" tanya Siska yang tak bukan adalah kasir lain yang menjadi rekan kerja wanita itu. Seketika Anna tersentak, lalu menoleh ke arahnya.
"Oh, i-itu ... aku juga tidak mengenalnya, hanya saja seminggu yang lalu kami dipertemukan, dia menolongku dari kejaran preman," jelas Anna dengan tatapan yang terfokus ke sembarang arah.
Siska, wanita yang memiliki usia sama dengannya, tampak tidak terlalu ingin tahu lebih jauh tentang pria itu. Ia hanya menganggukkan kepalanya seolah mengerti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
HAPPY READING
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
TBC
__ADS_1