After Met You

After Met You
Undangan Reuni SMA


__ADS_3

Andre tampak meletakkan sebuah kartu undangan di atas meja kerja sang CEO, sontak membuat sang empunya menoleh. "Apa ini?" tanyanya seraya meraih kartu undangan itu.


"Undangan reuni SMA," jawab Andre.


Reksa segera membuka kartu undangan itu. Seketika ia terbelalak saat membaca isi dari undangan tersebut. "Apa? Reuni seperti ini saja harus membawa pasangan?" tanyanya seolah tidak setuju.


"Ya, seperti yang kau lihat. Temanya memang pamer pasangan." Andre duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Reksa.


"Shit! Memangnya tidak ada tema lain yang lebih bermanfaat, sehingga harus mengangkat tema seperti ini?" kesal Reksa melempar kartu undangan itu ke atas meja. "Aku tidak akan datang," imbuhnya seraya bersandar di kursi kebanggaannya.


"Yakin?" tanya Andre memastikan. "Kau tidak takut jika teman-teman yang lain menganggap bahwa kau tidak datang karena masih belum memiliki pasangan sampai sekarang? Kau tidak malu?" lanjutnya yang sontak membuat Reksa kembali berpikir.


Pertanyaan Andre seolah membuatnya teringat kembali akan masa lalunya. Ia masih ingat jelas kenangan 11 tahun lalu, ketika beberapa teman mengejek dirinya hanya karena ia yang belum pernah sekali pun memamerkan pasangan di usianya yang sudah mencapai 17 tahun. Bahkan, sebagian dari mereka sempat memfitnah bahwa dirinya adalah seorang yang menyukai sesama jenis. Tentu ia tidak menerima tuduhan itu. Ia sangat marah, karena sedikit pun yang dikatakan mereka tidaklah benar. Ia adalah pria normal yang tentu saja menyukai lawan jenis. Hanya saja ia memang masih belum bisa membuktikannya kepada siapa pun.


Undangan reuni yang dikirim secara tiba-tiba dengan tema yang menurutnya sangatlah konyol, cukup membuat ia berpikir, bagaimana bisa ia membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia telah memiliki pasangan, sementara kenyataannya tidak.


"O' ya, ini pesananmu?" tanya Andre, lalu menyimpan kantong makanan yang diberikan Anna di atas meja.


Reksa mencondongkan badannya ke depan. "Dari mana kau mendapatkan ini?" tanyanya seraya melihat isi kantong makanan tersebut.


"Wanita yang kau jadikan sebagai kekasih pura-pura," jawab Andre santai.


"Kenapa dia tidak langsung mengantarnya kemari?" Reksa tampak mengerutkan dahinya.


"Sepertinya dia tidak ingin bertemu denganmu," balas Andre sekenanya.


Reksa tertegun sejenak, mencerna perkataan sahabatnya itu.


Apa mungkin dia marah karena perkataanku waktu itu?

__ADS_1


"Di mana dia sekarang?" Lagi-lagi Reksa melayangkan pertanyaan.


"Sudah pergi," singkat Andre sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Kenapa kau tidak ...." Reksa menggantung ucapannya, ketika tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ck, kakek?" lirihnya, setelah melihat nama sang kakek yang tertera di layar ponselnya.


Ia pun segera menerima panggilan telepon itu, sementara Andre masih sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Iya, Kek?" sapa Reksa.


"Reksa, besok siang kakek ada janji dengan om Riko. Beliau meminta kakek untuk mengajakmu, kau ajak juga Anna, biar dia bisa ikut bersama kita," jawab kakek Kusuma di seberang sana.


"**-tapi, Kek, besok siang Anna kerja, sepertinya dia tidak bisa ikut bersama kita." Reksa bangkit dari tempat duduknya dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.


"Apa yang bisa kau lakukan, hal sekecil itu saja tidak bisa kau atasi. Kakek tidak mau tahu, pokoknya Anna harus ikut!" tegas kakek Kusuma, lalu segera mematikan teleponnya, sontak membuat Reksa tidak bisa berupaya untuk menolak lebih lanjut ajakan sang kakek.


Tentu saja ia merasa kesal, karena lagi-lagi harus berurusan dengan wanita yang jelas-jelas sudah tidak memiliki urusan dengannya. Bagaimana caranya meminta bantuan wanita itu lagi? Batinnya saat itu.


"Kenapa lagi?" Andre mendongak menatap atasannya.


"Kakek memintaku mengajak Anna besok," jawab Reksa seraya duduk kembali.


"Lantas?" Andre bersikap santai, seolah-olah itu bukanlah hal yang sulit bagi Reksa.


Reksa melengos sejenak, tidak menyangka jika sahabatnya bisa sesantai itu disaat dirinya sedang frustrasi memikirkan ajakan sang kakek dan undangan reuni itu. "Kau bisa tidak, sedikit saja bersimpati kepada sahabatmu ini?" ketusnya sambil menatap sinis wajah Andre.


"Untuk apa aku bersimpati kepada seseorang yang bisa melakukan apa pun yang dia inginkan," ujar Andre tidak peduli. "Bersimpati itu kepada orang yang sakit atau meninggal, memiliki banyak kesusahan, anak jalanan yang tidak memiliki orang tua dan tidak bisa makan dalam jangka waktu yang cukup panjang," imbuhnya yang sontak membuat Reksa kian geram.

__ADS_1


"**-tapi, aku sedang memiliki masalah, apa kau hanya bisa diam saja?" geram Reksa.


"Sesulit itukah masalahmu? Bukankah kau bisa meminta bantuan wanita itu lagi, jika memang kau membutuhkannya?" tanya Andre yang menganggap masalah Reksa bukanlah masalah besar.


"Urusan kita sudah selesai, aku tidak mau memanfaatkan dia lagi," jawab Reksa.


Ia bukanlah pria pengecut yang bisanya hanya memanfaatkan situasi baik, sementara ia tahu bahwa hasilnya tidak akan baik, terlebih untuk wanita itu. Sebab, cepat atau lambat kakeknya akan segera mengetahui kebohongannya. Entah nasibnya akan seperti apa, jika sampai itu terjadi.


Akan tetapi, jika keadaan memakasanya seperti ini, apa yang bisa ia lakukan, selain berharap wanita itu bersedia kembali untuk membantunya, meskipun ia akan sangat sulit menemukan caranya.


"Dia wanita baik, bukan?" Andre menatap serius wajah Reksa. "Aku yakin dia akan bersedia untuk membantumu lagi," imbuhnya.


"Kau lihat? Bahkan, dia tidak mau menemuiku, bagaimana mungkin dia mau membantuku lagi!" Reksa membulatkan matanya.


"Apa dia marah kepadamu?" Andre tampak menautkan kedua alisnya.


"Kurasa begitu," lirih Reksa yang sudah bisa menebak. "Lantas, aku harus bagaimana?" tanyanya seraya menatap lurus pria di depannya.


Andre terdiam beberapa saat, seolah sedang berpikir. "Jadikan tugasnya sebagai pekerjaan, kurasa dia tidak akan menolak," ucapnya.


"Maksudmu pekerjaan menipu orang?" Reksa terbelalak mendengar ide yang diberikan sahabatnya.


"Kau sudah terlanjur memperkenalkan dia sebagai kekasihmu kepada kakek Kusuma, lalu apa yang mau kau lakukan, selain meminta bantuannya lagi, hah?" tukas Andre. "Memangnya kau ingin kakek Kusuma curiga, jika kau berganti pasangan dalam waktu yang sangat cepat seperti ini?" lanjutnya mengingatkan.


"Sial! Lantas, aku harus bagaimana?" Lagi-lagi Reksa mengumpat kesal.


"Kau ikuti saranku. Kurasa dia sangat butuh pekerjaan, mungkin dia akan tertarik jika tawaranmu menggiurkan," balas Andre.


"Kemarin saja dia menolak. Apa mungkin nanti dia akan berbalik pikir?" Reksa tampak tidak yakin ide Andre akan berhasil.

__ADS_1


"Kau coba saja dulu. Dengan satu wanita, dua masalahmu akan segera teratasi. Kau paham bukan maksudku?" Andre tampak mengedipkan matanya, sontak membuat Reksa sedikit geli melihatnya.


Tentu saja ia paham dengan maksud Andre. Jika ia bisa membujuk Anna kembali, maka bukan hanya masalah dengan kakeknya yang akan teratasi, tetapi juga perihal undangan reuni itu. Ia akan bisa memanfaatkan wanita itu untuk dua hal yang berbeda. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


__ADS_2